Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Monday, 27 June 2016

Menggoda Rasa Malu




cerpen kacang
Februari 2016
D.w.D

Odon  membenturkan kepalanya ke dinding. Sekali, dua kali, dan yang ketiga, dia mengurungkan niatnya.  Bukannya dapat inspirasi,  kepalanya malah  terasa berputar  dan timbul memar. Belum genap seminggu ia menjabat kepala desa, bertumpuk-tumpuk masalah menghampirinya.” Ini desa atau kota? Desa setengah kota? Atau... Entahlah” Guman Odon.

Berkas-berkas yang ada di lemari ia hamburkan begitu saja diatas diatas meja, tak  ada sesuatu yang penting ditemukan.  Hanya ada beberapa lembar nama warga, itupun sudah hampir habis dimakan rayap. Tak ada catatan uang Desa, apalagi kegiatan pemuda. Yang ada di kepala odon sekarang adalah bagaimana dan darimana ia harus memulainya.

Musim kemarau menghabiskan air-air yang ada disumur. Ladang-ladang juga tak mungkin ditanami. Untuk minum saja warga  harus rela jalan puluhan kilo. Jika hari hujan,  air masuk sampai kedalam rumah. Sebenarnya irigasi itu ada, tetapi dibiarkan begitu saja, terbengkalai, penuh rumput dan sampah. Jalan rusak parah dan  jembatan ikut putus. Warga seperti tersihir dengan keadaan. Tak ada gotong royong, siskamling, maupun musyawarah. Kondisi ini juga diperparah dengan banyaknya maling. Musim paceklik terasa sangat mencekik. Odon memaklumi dalam hati, warga mungkin seperti dirinya tak tahu harus memulai darimana.

Kemarahan Odon memuncak saat ia menyadari jika gosip yang beredar selama ini benar. Jika korupsi telah masuk ke desa. kota memang pusat kemajuan, tetapi desalah yang membuat kemajuan. Pusat perekonomian ada di kota tetapi ujung tombak perekonomian ada di desa. Sialnya Odon hanya jadi saksi keganasan korupsi di desa. Belum lagi ada kabar bahwa minggu depan  akan ada kunjungan dari pusat, mereka akan melihat kondisi  desa. Sebab beberapa minggu terakhir media tengah gencar memberitakannya. Mau di taruh dimana muka Odon. Mau ditaruh dimana muka warganya.
Odon beranjak dari tempat duduknya, ia beranjak keluar dari kantor. Ternyata beberapa pegawai desa baru mulai berdatangan. Odon hanya geleng-geleng kepala.

“ lho pak mau Kemana?” Tanya sekdes.

“ Mau pulang sebentar, oh ya nanti  pak sekdes bikin surat pengumuman ke warga, besok ada musyawarah sekaligus syukuran di Balai desa. “ Jawab Odon.

Pak sekdes hanya mengangguk, sementara Odon pergi begitu saja meninggalkan kantor desa yang mulai ramai. Odon ingin menepi sebentar. Mengistirahatkan Otak sembari mencari wangsit. Bertanya kesana kemari entah itu manusia, hewan, tumbuhan bahkan batu. Ia hanya perlu yakin bahwa jawaban yang ia cari pasti ada.

Hari yang dinantikan tiba, balai desa ramai, bahkan ramai sekali. Mungkin warga sudah rindu sekali saat bermusyawarah seperti ini. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa bermusyawarah lagi. Tak ada kursi yang berjajar rapi, apalagi pengeras suara. Mereka duduk diatas tikar, mengambil posisi semaunya. Terlihat santai tetapi serius.  Setelah acara pembukaan dan lain-lain, akhirnya tiba saatnya Odon berbicara, awalnya tak ada hal serius yang dibicarakan tetapi lama-lama ia mulai mengajak warga diskusi. Kondisi terlihat cair dan hangat. Dari jauh sekdes memandang aneh kepala desanya. Di zaman modern seperti ini,  Mengajak musyarawarah  tanpa menggunakan kursi dan pengeras suara merupakan hal tak masuk akal baginya.

“ Jika ada tamu datang, rumah kita terlihat kumuh dan kotor, padahal kita sehat dan mampu membersihkan, apa yang kita rasakan?” Tanya Odon.

“Malu...! Jawab warga serempak.

“ Begitu juga dengan desa kita, desa kita ini ibarat rumah. Berpenghuni tetapi tak terawat. Jalan rusak dimana-mana, irigasi penuh tertutup rumput dan pohon-pohon hampir sudah tak ada lagi. Mungkin itu yang selama mengacaukan mata pencaharian kita sebagai petani. Air kering di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Musim paceklik jadi lebih panjang, dan maling jadi lebih banyak. Benar begitu bapak-bapak?” Odon bertanya lagi.

“ Benar..! jawab warga dalam hati. Mereka mulai serius mendengarkan kepala desanya.

“ Dua minggu lagi ada kunjungan dari pusat dan kabupaten. Kita sebagai warga biasa sudah waktunya tak hanya menunggu. mungkin kita sama-sama telah merasa di hianati dan menjadi acuh tak acuh. Kita merasa di telantarkan begitu saja. Merasa merana karena dana untuk pembangunan desa semakin tipis dan kebanyakan disunat. Jika kita acuh tak acuh, kita yang akan rugi sendiri. Ini bukan hanya omongan saja, tetapi inilah yang kita rasakan bersama sekarang ini.

“ Jadi kita harus bagaimana? “ celetuk seorang warga.

“ Kita akan belajar bersama”.

Musyawarah itu diselesaikan dengan khidmat dan penuh tanda tanya. Ada semangat baru di dalam benak warga. Ada sejuta cara yang disiapkan. Jika ini di ibaratkan perang, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.

Dua minggu berlalu, kantor kepala desa sepi. Tak ada satu orangpun disana. Rombongan dari pusat dan kabupaten dibuat tercengang. Mereka mengernyitkan dahi memandang spanduk ucapan selamat datang. Bukan tulisan ucapan  selamat datangnya, tetapi tulisan dibawahnya. 

“ Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah pusat dan kabupaten yang sudi datang meluangkan waktunya kemari. Kami terlalu malu untuk sekedar bertatap muka dan berjabat tangan. Beberapa hari terakhir kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi jalan desa masih banyak yang rusak. Jembatan yang ambruk belum selesai di benari. Administrasi desa juga belum selesai di tata, dan masih banyak lagi masalah yang belum terselesaikan. Kami mohon kiranya bapak dan ibu bisa berkunjung kemari setahun atau dua tahun lagi. Semoga permasalahan ini bisa kami selesaikan. Terimakasih.”
***
Di tengah terik matahari yang sangat menyengat ribuan warga berkumpul dan berteriak di depan gedung. Beberapa pria berseragam terlihat berjaga. Dari balik jeruji , Odon hanya mendengar sayup-sayup suaranya. “ Kami hanya belajar menjadi manusia” Guman Odon dalam hati.

2 comments: