7 JANUARI 2016
Bau menyengat mengepul dari gulungan tembakau yang dihisapnya.
Tak terhitung berapakali Parman mengupat. Sudah beberapa hari ia membiarkan kacang panjangnya menjuntai
tanpa di petik, padahal buahnya sudah mulai tua dan menguning. Beberapa kali ia
terlihat menggelengkan kepala, tak menyangka jika kacangnya akan berbuah
sia-sia. 1000 rupiah adalah harga yang ditawarkan tengkulak. ” Lebih baik aku
kasih makan kambing saja”. Lagi-lagi Parman menggerutu.
Ia merasa buntu akal, kemarin saja isrtrinya sudah
membagikan secara gratis keseluruh tetangga. Tetapi kacangnya seakan tak mau
habis. “Dosa apa aku”ratap Parman. Sekali lagi kesialan menerpa, setelah musim
kemarin tanamannya di kandaskan cuaca, kali ini tanamannya, dimurahkan manusia.
Dia menghisap gulungan tembakaunya dalam-dalam.
Bau asapnya mengepul bercampur keringat dan lumpur yang menempel di
tubuhnya.
Matahari masih
cukup menyengat untuk menuju senja. Seorang pria separuh baya datang
menghampiri, wajahnya terlihat cukup sumringah. Atok namanya, ia adalah
tengkulak yang biasa membeli kacang milik Parman.
“Petiklah kacangnya Man, nanti malam aku ambil”. Atok
berkata tanpa basa-basi.
“Harganya masih seribu? “ Parman balik bertanya.
“Harganya turun jadi 800, kacang panjang sedang tumpah
dipasar”. Atok menimpal
Parman hanya mengangguk, ia terlihat iba menatap rimbun
buah kacangnya. Ia seakan tak kuasa
melepas dengan harga yang cukup rendah.
Bagaimana bisa buah kacangnya yang hijau, panjang dan nyaris tanpa ulat di hargai
semurah itu.
“Pokoknya kau petik saja kacangnya Man”. Atok berbalik
badan, tepampang jelas senyum girang
diwajahnya. Atok jumawa, ia merasa berhasil menyihir pria berbau lumpur itu.
Dengan percaya diri atok meninggalkan area perkebunan kacang milik
keponakannya.
Melihat Atok pergi, Parman melangkahkan kaiknya diantara
sela bedengan, tanah yang basah semakin membuat ajiran merunduk tak kuasa
menahan beban. Walau sungkan, tangan Parman terlihat terampil memetik dan
memilah buah mana yang layak dijual. Jika ia mengingat bagaimana merawat
kacang-kacangnya, terselip rasa ingin meledak didada. Lebih setengah bulan ia
harus bergelut dengan tanah. Mengaduk dolomit, belerang dan pupuk kandang
sebagai bumbu. Belum lagi ia harus
menyiapkan puluhan bahkan ratusan bambu sebagai ajiran. Sampai tanamannya
berbuah, ia bercumbu dengan ladang dari petang ketemu petang.
Parman pulang lebih awal dari biasanya. Dua keranjang
besar kacang panjang di hempaskan begitu saja di teras belakang rumah. Suryati
yang kebetulan menyapu dihalaman belakang menggelengkan kepala. Baru kali ini
ia melihat tingkah suaminya seperti itu saat pulang dari ladang. Parman masuk
ke rumah diikuti suryati di belakangnya.
“Ada apa tho pak?” Tanya Suryati sembari memberi minum.
“Pamanmu itu sudah kelewatan bu, kacangnya Cuma di hargai
800” Kata parman dengan emosi.
Parman duduk dibale-bale, diminumnya air pemberian
istrinya tanpa sisa. Suryati cukup paham apa yang di rasakan suaminya. Ia tak
berani mengeluarkan kata-kata hanya sekedar menenangkannya. Sebab tak terhitung
lagi pamannya berbuat seperti itu, dan mungkin inilah batas kesabaran suaminya.
Ini bukan hanya tentang harga tetapi tentang bagaimana pamannya menjadi seorang
tengkulak. Mulai dari berat timbangan yang diakali sampai pada pembayaran yang
dilulur-ulur. Ah, andai saja tak ada ikatan keluarga mungkin kami akan pindah
ke tengkulak lain.
“ Dasar manusia tak tahu di untung!”, aku sudah tak tahan
lagi dengan kelakuannya bu”
“Jadi kita harus bagaimana pak?” jawab suryati. Ia
merangsek duduk disebelah suaminya,.
“Bukannya apa-apa bu, kita sudah berbaik hati menjual
hasil kebun kita kepadanya, kita sudah tahu bagaiman kondisi ekonominya, modal
saja dia tak punya.
Dalam hati suryati mengiyakan apa yang dikatakan
suaminya. Kondisi ekonomi pamannya memang kurang beruntung. Untuk mencukupi
kehidupan sehari-hari saja dia pinjam kesana kemari. Itu jelas berbanding
terbalik dengan keluarga kecilnya. Parman dan suryati adalah pasangan muda dari
keluarga petani sederhana yang berkecukupan. Karena merasa prihatin ia dan
suaminya berinisiatif membantu pamannya dengan
menjualkan hasil kebun miliknya. Pembayaran dilakukan dengan jika
daganganya sudah habis terjual. Tetapi kali ini pamannya sering bertingkah
aneh.
“Sebenarnya bapak tahu bu, walaupun kacang sedang tumpah
dipasar, harganya tak semiring itu.” Tengkulak desa sebelah berani membeli dengan harga 1500-2000.”
“Bagaimana kalau kita bagi dua pak? “ setengah kita jual
ke paman atok, setengahnya lagi kita jual ke tengkulak lain.” Usul suryati
“Nanti aku pikirkan bu, sekarang aku mau mandi, gerah
sekali badanku setelah seharian di kebun.”
Parman beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan
kakinya ke sumur. Suryati memandang suaminya penuh pengertian.
“ Oh ya pak, bagaimana dengan kacang yang di letakkan di
teras belakang? “ Tanya Suryati.
“ Biarkan saja bu, biar nanti bapak yang mengurusnya”.
Jawab parman disertai bunyi air yang mengguyur tubuhnya.
Matahari mulai mendekap keparaduan. Di pinggiran desa
asap mengepul dari sebuah rumah. Seorang perempuan separuh baya sedang memasak.
Asap dari tungku menghambur begitu saja keatas. Dinding papan yang sudah mulai
lapuk semakin hitam bersama kumpulan sarang laba-laba yang menggantung di
langit-langit.
Atok masuk kedapur dengan berkain sarung saja, tangannya
menggenggam secangkir kopi. Dia duduk di atas bale bambu sembari memandangi
istrinya yang sedang memasak. Bau minyak yang beradu dengan bumbu serta ikan asin membuat perutnya memanggil.
“Masih lama masaknya bu? “ Tanya Atok
“ Masih lah pak, berasnya saja baru di tanak.” Jawab
istrinya. Dia berbicara tanpa melihat atok, tangannya menari bersama spatula.
Sesekali dia menarik kayu kebelakang karena api yang mulai membesar.
“ Gimana pak?” parman sudah dikasih tahu harga kacang
turun jadi 1500.” Tanya istrinya sambil mengusap mata yang pedih karena asap.
“ Sudah bu, nanti
malam bapak mau mengambil kacangnya.”
“ Syukurlah kalau begitu pak, sebenarnya saya ndak enak
sama parman dan suryati, saat panennya melimpah harganya malah anjlok.”
“ Kenyataannya memang begitu, mau bagaimana lagi.” Jawab
atok
Atok bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan keluar
lewat pintu belakang. Di pandangnya satu persatu ayam jagonya dalam kurungan.
Terbayang sudah berapa banyak rupiah yang ia dapat jika ayam kesayangannya menang
lagi besok. Matanya tertuju pada si jalu. Ayam bangkok miliknya adalah jawara
yang mumpuni. Tak hanya di lingkup desa tetapi sampai desa seberang. Jika ia
bisa menjual habis dagangannya, modal untuk si jalu juga semakin besar.
Pikirannya begitu girang membayangkan bisa makan enak dan
mabuk sepuasnya. Di ambilnya si jalu dari dalam kurungan. Mulutnya berbisik
seolah jalu bisa bicara. di elusnya kepala
si jalu dengan bangga. “ Jika kamu menang akan kubelikan makanan
kesukaanmu”guman atok.
“Sudah petang pak, jangan main ayam terus”. Istri atok
menyembul dari pintu. Dia mengangkat beberapa terompah berisi nasi sisa kemarin
yang di jemur. Dalam keterbatasan ekonomi dia adalah istri yang berbakti.
Selain mengurus keluarga, istrinya menjadi buruh serabutan. Mulai dari buruh
tanam, menyiangi maupun memanen. Tetapi untuk urusan berdagang, ia tak tahu
menahu. Ia hanya tahu berapa harga jual ataupun beli dan itu pun hanya ia dengar dari mulut suaminya. Tak
banyak waktu yang ia bisa gunakan untuk mengobrol dengan tetangga. Ia lebih
memilih kerja membantu meringankan beban suaminya.
Petang sudah lewat, atok memasukkan si jalu kedalam tas,
mengalungkan sarung dan menenteng senter. Ia bergegas keluar melewati istrinya
yang sedang melipat baju.
“ Lho pak mau kemana?” nggak makan dulu?”. Tanya istrinya
“Nanti bu habis pulang dari rumah parman saja.” Jawab
atok
Atok menghidupkan motor tuanya. Memacunya melewati
jalanan desa yang lumayan suram.
Suaranya meraung memecah keheningan. Di posko ronda tepat di pinggir perempatan
jalan dia berhenti. Disana terlihat dua orang pria sedang mengobrol. Atok
datang menghampiri.
“ wah yang di
tunggu datang juga”. Bang kumis menyapa.
“ Aku sudah tak sabar menunggu besok”. Jawab atok
“ Kenapa kamu bawa-bawa si jalu juga?” Pria gundul menimpal
“ bukannya sabungnya besok siang? “ Serobot bang kumis
“ Kalian tahulah besok aku harus kepasar, aku tak bisa
mengurusi persiapan si jalu, kalau bukan kalian siapa lagi.” Jawab atok
Atok meletakkan jalu disamping kumis dan gundul, tanpa
basa-basi dia segera bergegas menuju sepeda motornya.
“Eh mana ini uang jaminan si jalu?” tanya kumis sedikit
berteriak.
“ baru ada besok saat pulang dari pasar”. Jawab atok
sambil memacu sepeda motornya.
Parman dan suryati terlihat menikmati sepiring ubi rebus sambil nonton
televisi. sembari makan, tangan suryati mengibaskan kain menghalau nyamuk.
Melindungi si kecil yang sedang tidur
dari gigitannya.
“ Ibu merasa was-was lho pak”. Kata suryati
“was – was kenapa bu?”
“kacang – kacang yang di belakang itu lho, emang nggak
kenapa-kenapa?” Suryati balik bertanya.
“ Tenang bu nggak apa-apa kok, aku sudah memikirkannya
secara masak-masak “. Jawab parman dengan santainya.
“ Terus terang pak, ibu nggak enak sama paman atok,
apalagi sama bibi” suryati menyahut
“ Ah... mana berani paman atok mengadu sama bibi “ tukas
parman
Tendengar suara
motor berhenti di depan rumah. Buru-buru suryati tegak membukakan pintu. Dilihatnya pamannya belum beranjak dari atas
jok motor bututnya.
“ Kacangnya ada di depan atau dibelakang ti?” Tanya paman
atok
“ Kacangnya ada di belakang, mang Atok masuk dulu
kebetulan ada ubi rebus sama teh hangat ” Jawab suryati.
“ Bukannya nggak mau ti, aku sedang buru-buru” Atok
bergegas dari atas motornya, menyalakan
senter melangkah melewati samping rumah
menuju belakang. Suryati hanya menatap dari pintu. kebiasaan atok saat
mengambil kacang memang begitu, ia sering mengambil sendiri tanpa menunggu.
menimbangnya lalu di bawa pulang. Tetapi jika mengambilnya malam ia
langsung membawanya pulang.
Atok menembus pekat malam di belakang rumah Parman. Ia
terlihat mondar-mandir, beberapa kali ia mengarahkan senternya ke arah dua
keranjang besar yang telah kosong. Tak ada satupun buah kacang ada disana. “Apa
mungkin kacangnya diambil orang, ah tetapi mana ada orang yang mau maling
kacang” Guman Atok. Mata atok melirik
kearah kandang kambing milik parman. Ada kejanggalan disana, tak biasanya
kambing-kambingya sediam ini. Ia mengarahkan senter kesana, terlihat emosi meluap dari wajahya. Kambing-kambing
itu tampak sedang melahap sesuatu. Setumpukan kacang panjang berwarna hijau dan segar tersusun di tempat pakan.


No comments:
Post a Comment