Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Sunday, 19 June 2016

KACANG




D.w.D
7 JANUARI 2016

Bau menyengat mengepul dari gulungan tembakau yang dihisapnya. Tak terhitung berapakali Parman mengupat. Sudah beberapa hari  ia membiarkan kacang panjangnya menjuntai tanpa di petik, padahal buahnya sudah mulai tua dan menguning. Beberapa kali ia terlihat menggelengkan kepala, tak menyangka jika kacangnya akan berbuah sia-sia. 1000 rupiah adalah harga yang ditawarkan tengkulak. ” Lebih baik aku kasih makan kambing saja”. Lagi-lagi Parman menggerutu. 
Ia merasa buntu akal, kemarin saja isrtrinya sudah membagikan secara gratis keseluruh tetangga. Tetapi kacangnya seakan tak mau habis. “Dosa apa aku”ratap Parman. Sekali lagi kesialan menerpa, setelah musim kemarin tanamannya di kandaskan cuaca, kali ini tanamannya, dimurahkan manusia. Dia menghisap gulungan tembakaunya dalam-dalam.  Bau asapnya mengepul bercampur keringat dan lumpur yang menempel di tubuhnya.
Matahari  masih cukup menyengat untuk menuju senja. Seorang pria separuh baya datang menghampiri, wajahnya terlihat cukup sumringah. Atok namanya, ia adalah tengkulak yang biasa membeli kacang milik Parman.
“Petiklah kacangnya Man, nanti malam aku ambil”. Atok berkata tanpa basa-basi.
“Harganya masih seribu? “ Parman balik bertanya.
“Harganya turun jadi 800, kacang panjang sedang tumpah dipasar”. Atok menimpal
Parman hanya mengangguk, ia terlihat iba menatap rimbun buah kacangnya.  Ia seakan tak kuasa melepas  dengan harga yang cukup rendah. Bagaimana bisa buah kacangnya yang hijau, panjang dan nyaris tanpa ulat di hargai semurah itu.
“Pokoknya kau petik saja kacangnya Man”. Atok berbalik badan, tepampang  jelas senyum girang diwajahnya. Atok jumawa, ia merasa berhasil menyihir pria berbau lumpur itu. Dengan percaya diri atok meninggalkan area perkebunan kacang milik keponakannya.
Melihat Atok pergi, Parman melangkahkan kaiknya diantara sela bedengan, tanah yang basah semakin membuat ajiran merunduk tak kuasa menahan beban. Walau sungkan, tangan Parman terlihat terampil memetik dan memilah buah mana yang layak dijual. Jika ia mengingat bagaimana merawat kacang-kacangnya, terselip rasa ingin meledak didada. Lebih setengah bulan ia harus bergelut dengan tanah. Mengaduk dolomit, belerang dan pupuk kandang sebagai bumbu.  Belum lagi ia harus menyiapkan puluhan bahkan ratusan bambu sebagai ajiran. Sampai tanamannya berbuah, ia bercumbu dengan ladang dari petang ketemu petang.  
  
Parman pulang lebih awal dari biasanya. Dua keranjang besar kacang panjang di hempaskan begitu saja di teras belakang rumah. Suryati yang kebetulan menyapu dihalaman belakang menggelengkan kepala. Baru kali ini ia melihat tingkah suaminya seperti itu saat pulang dari ladang. Parman masuk ke rumah diikuti suryati di belakangnya.
“Ada apa tho pak?” Tanya Suryati sembari memberi minum.
“Pamanmu itu sudah kelewatan bu, kacangnya Cuma di hargai 800” Kata parman dengan emosi.
Parman duduk dibale-bale, diminumnya air pemberian istrinya tanpa sisa. Suryati cukup paham apa yang di rasakan suaminya. Ia tak berani mengeluarkan kata-kata hanya sekedar menenangkannya. Sebab tak terhitung lagi pamannya berbuat seperti itu, dan mungkin inilah batas kesabaran suaminya. Ini bukan hanya tentang harga tetapi tentang bagaimana pamannya menjadi seorang tengkulak. Mulai dari berat timbangan yang diakali sampai pada pembayaran yang dilulur-ulur. Ah, andai saja tak ada ikatan keluarga mungkin kami akan pindah ke tengkulak lain.
“ Dasar manusia tak tahu di untung!”, aku sudah tak tahan lagi dengan kelakuannya bu”
“Jadi kita harus bagaimana pak?” jawab suryati. Ia merangsek duduk disebelah suaminya,.
“Bukannya apa-apa bu, kita sudah berbaik hati menjual hasil kebun kita kepadanya, kita sudah tahu bagaiman kondisi ekonominya, modal saja dia tak punya.
Dalam hati suryati mengiyakan apa yang dikatakan suaminya. Kondisi ekonomi pamannya memang kurang beruntung. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja dia pinjam kesana kemari. Itu jelas berbanding terbalik dengan keluarga kecilnya. Parman dan suryati adalah pasangan muda dari keluarga petani sederhana yang berkecukupan. Karena merasa prihatin ia dan suaminya berinisiatif membantu pamannya dengan  menjualkan hasil kebun miliknya. Pembayaran dilakukan dengan jika daganganya sudah habis terjual. Tetapi kali ini pamannya sering bertingkah aneh.
“Sebenarnya bapak tahu bu, walaupun kacang sedang tumpah dipasar, harganya tak semiring itu.” Tengkulak desa sebelah  berani membeli dengan harga 1500-2000.”
“Bagaimana kalau kita bagi dua pak? “ setengah kita jual ke paman atok, setengahnya lagi kita jual ke tengkulak lain.” Usul suryati
“Nanti aku pikirkan bu, sekarang aku mau mandi, gerah sekali badanku setelah seharian di kebun.”
Parman beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke sumur. Suryati memandang suaminya penuh pengertian.
“ Oh ya pak, bagaimana dengan kacang yang di letakkan di teras belakang? “ Tanya Suryati.
“ Biarkan saja bu, biar nanti bapak yang mengurusnya”. Jawab parman disertai bunyi air yang mengguyur tubuhnya.
Matahari mulai mendekap keparaduan. Di pinggiran desa asap mengepul dari sebuah rumah. Seorang perempuan separuh baya sedang memasak. Asap dari tungku menghambur begitu saja keatas. Dinding papan yang sudah mulai lapuk semakin hitam bersama kumpulan sarang laba-laba yang menggantung di langit-langit.
Atok masuk kedapur dengan berkain sarung saja, tangannya menggenggam secangkir kopi. Dia duduk di atas bale bambu sembari memandangi istrinya yang sedang memasak. Bau minyak yang beradu dengan bumbu serta  ikan asin membuat perutnya memanggil.
“Masih lama masaknya bu? “ Tanya Atok
“ Masih lah pak, berasnya saja baru di tanak.” Jawab istrinya. Dia berbicara tanpa melihat atok, tangannya menari bersama spatula. Sesekali dia menarik kayu kebelakang karena api yang mulai membesar.
“ Gimana pak?” parman sudah dikasih tahu harga kacang turun jadi 1500.” Tanya istrinya sambil mengusap mata yang pedih karena asap.
“ Sudah bu,  nanti malam bapak mau mengambil kacangnya.”
“ Syukurlah kalau begitu pak, sebenarnya saya ndak enak sama parman dan suryati, saat panennya melimpah harganya malah anjlok.”
“ Kenyataannya memang begitu, mau bagaimana lagi.” Jawab atok
Atok bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan keluar lewat pintu belakang. Di pandangnya satu persatu ayam jagonya dalam kurungan. Terbayang sudah berapa banyak rupiah yang ia dapat jika ayam kesayangannya menang lagi besok. Matanya tertuju pada si jalu. Ayam bangkok miliknya adalah jawara yang mumpuni. Tak hanya di lingkup desa tetapi sampai desa seberang. Jika ia bisa menjual habis dagangannya, modal untuk si jalu juga semakin besar.
Pikirannya begitu girang membayangkan bisa makan enak dan mabuk sepuasnya. Di ambilnya si jalu dari dalam kurungan. Mulutnya berbisik seolah jalu bisa bicara. di elusnya  kepala si jalu dengan bangga. “ Jika kamu menang akan kubelikan makanan kesukaanmu”guman atok. 
“Sudah petang pak, jangan main ayam terus”. Istri atok menyembul dari pintu. Dia mengangkat beberapa terompah berisi nasi sisa kemarin yang di jemur. Dalam keterbatasan ekonomi dia adalah istri yang berbakti. Selain mengurus keluarga, istrinya menjadi buruh serabutan. Mulai dari buruh tanam, menyiangi maupun memanen. Tetapi untuk urusan berdagang, ia tak tahu menahu. Ia hanya tahu berapa harga jual ataupun beli dan itu pun  hanya ia dengar dari mulut suaminya. Tak banyak waktu yang ia bisa gunakan untuk mengobrol dengan tetangga. Ia lebih memilih kerja membantu meringankan beban suaminya.
Petang sudah lewat, atok memasukkan si jalu kedalam tas, mengalungkan sarung dan menenteng senter. Ia bergegas keluar melewati istrinya yang sedang melipat baju.
“ Lho pak mau kemana?” nggak makan dulu?”. Tanya istrinya
“Nanti bu habis pulang dari rumah parman saja.” Jawab atok
Atok menghidupkan motor tuanya. Memacunya melewati jalanan  desa yang lumayan suram. Suaranya meraung memecah keheningan. Di posko ronda tepat di pinggir perempatan jalan dia berhenti. Disana terlihat dua orang pria sedang mengobrol. Atok datang menghampiri.
“ wah  yang di tunggu datang juga”. Bang kumis menyapa.
“ Aku sudah tak sabar menunggu besok”. Jawab atok
“ Kenapa kamu bawa-bawa si jalu juga?” Pria gundul menimpal
“ bukannya sabungnya besok siang? “ Serobot bang kumis
“ Kalian tahulah besok aku harus kepasar, aku tak bisa mengurusi persiapan si jalu, kalau bukan kalian siapa lagi.” Jawab atok
Atok meletakkan jalu disamping kumis dan gundul, tanpa basa-basi dia segera bergegas menuju sepeda motornya.
“Eh mana ini uang jaminan si jalu?” tanya kumis sedikit berteriak.
“ baru ada besok saat pulang dari pasar”. Jawab atok sambil memacu sepeda motornya.
Parman dan suryati terlihat  menikmati sepiring ubi rebus sambil nonton televisi. sembari makan, tangan suryati mengibaskan kain menghalau nyamuk. Melindungi si kecil yang  sedang tidur dari gigitannya.
“ Ibu merasa was-was lho pak”. Kata suryati
“was – was kenapa bu?”
“kacang – kacang yang di belakang itu lho, emang nggak kenapa-kenapa?”  Suryati balik bertanya.
“ Tenang bu nggak apa-apa kok, aku sudah memikirkannya secara masak-masak “. Jawab parman dengan santainya.
“ Terus terang pak, ibu nggak enak sama paman atok, apalagi sama bibi” suryati menyahut
“ Ah... mana berani paman atok mengadu sama bibi “ tukas parman
 Tendengar suara motor berhenti di depan rumah. Buru-buru suryati tegak membukakan pintu.   Dilihatnya pamannya belum beranjak dari atas jok motor bututnya.
“ Kacangnya ada di depan atau dibelakang ti?” Tanya paman atok
“ Kacangnya ada di belakang, mang Atok masuk dulu kebetulan ada ubi rebus sama teh hangat ” Jawab suryati.
“ Bukannya nggak mau ti, aku sedang buru-buru” Atok bergegas dari atas motornya,  menyalakan senter melangkah melewati samping  rumah menuju belakang. Suryati hanya menatap dari pintu. kebiasaan atok saat mengambil kacang memang begitu, ia sering mengambil sendiri tanpa menunggu. menimbangnya lalu di bawa pulang. Tetapi jika mengambilnya malam  ia  langsung membawanya pulang.
Atok menembus pekat malam di belakang rumah Parman. Ia terlihat mondar-mandir, beberapa kali ia mengarahkan senternya ke arah dua keranjang besar yang telah kosong. Tak ada satupun buah kacang ada disana. “Apa mungkin kacangnya diambil orang, ah tetapi mana ada orang yang mau maling kacang” Guman Atok.  Mata atok melirik kearah kandang kambing milik parman. Ada kejanggalan disana, tak biasanya kambing-kambingya sediam ini. Ia mengarahkan senter kesana, terlihat  emosi meluap dari wajahya. Kambing-kambing itu tampak sedang melahap sesuatu. Setumpukan kacang panjang berwarna  hijau dan segar tersusun di tempat pakan.
“Bangsat kau parman! Hilang sudah modalku untuk sabung ayam besok!”

No comments:

Post a Comment