D.w.D
Odon membenturkan kepalanya ke
dinding. Sekali, dua kali, dan yang ketiga, dia mengurungkan niatnya. Bukannya dapat inspirasi, kepalanya malah terasa berputar dan timbul memar. Belum genap seminggu ia
menjabat kepala desa, bertumpuk-tumpuk masalah menghampirinya.” Ini desa atau
kota? Desa setengah kota? Atau... Entahlah” Guman Odon.
Berkas-berkas yang ada di lemari ia hamburkan begitu saja diatas diatas
meja, tak ada sesuatu yang penting
ditemukan. Hanya ada beberapa lembar
nama warga, itupun sudah hampir habis dimakan rayap. Tak ada catatan uang Desa,
apalagi kegiatan pemuda. Yang ada di kepala odon sekarang adalah bagaimana dan
darimana ia harus memulainya.
Musim kemarau menghabiskan air-air yang ada disumur. Ladang-ladang juga tak
mungkin ditanami. Untuk minum saja warga
harus rela jalan puluhan kilo. Jika hari hujan, air masuk sampai kedalam rumah. Sebenarnya
irigasi itu ada, tetapi dibiarkan begitu saja, terbengkalai, penuh rumput dan
sampah. Jalan rusak parah dan jembatan
ikut putus. Warga seperti tersihir dengan keadaan. Tak ada gotong royong,
siskamling, maupun musyawarah. Kondisi ini juga diperparah dengan banyaknya
maling. Musim paceklik terasa sangat mencekik. Odon memaklumi dalam hati, warga
mungkin seperti dirinya tak tahu harus memulai darimana.
Kemarahan Odon memuncak saat ia menyadari jika gosip yang beredar selama
ini benar. Jika korupsi telah masuk ke desa. kota memang pusat kemajuan, tetapi
desalah yang membuat kemajuan. Pusat perekonomian ada di kota tetapi ujung
tombak perekonomian ada di desa. Sialnya Odon hanya jadi saksi keganasan
korupsi di desa. Belum lagi ada kabar bahwa minggu depan akan ada kunjungan dari pusat, mereka akan
melihat kondisi desa. Sebab beberapa
minggu terakhir media tengah gencar memberitakannya. Mau di taruh dimana muka
Odon. Mau ditaruh dimana muka warganya.
Odon beranjak dari tempat duduknya, ia beranjak keluar dari kantor. Ternyata
beberapa pegawai desa baru mulai berdatangan. Odon hanya geleng-geleng kepala.
“ lho pak mau Kemana?” Tanya sekdes.
“ Mau pulang sebentar, oh ya nanti
pak sekdes bikin surat pengumuman ke warga, besok ada musyawarah
sekaligus syukuran di Balai desa. “ Jawab Odon.
Pak sekdes hanya mengangguk, sementara Odon pergi begitu saja meninggalkan
kantor desa yang mulai ramai. Odon ingin menepi sebentar. Mengistirahatkan Otak
sembari mencari wangsit. Bertanya kesana kemari entah itu manusia, hewan,
tumbuhan bahkan batu. Ia hanya perlu yakin bahwa jawaban yang ia cari pasti
ada.
Hari yang dinantikan tiba, balai desa ramai, bahkan ramai sekali. Mungkin
warga sudah rindu sekali saat bermusyawarah seperti ini. Setelah sekian lama
akhirnya mereka bisa bermusyawarah lagi. Tak ada kursi yang berjajar rapi,
apalagi pengeras suara. Mereka duduk diatas tikar, mengambil posisi semaunya.
Terlihat santai tetapi serius. Setelah
acara pembukaan dan lain-lain, akhirnya tiba saatnya Odon berbicara, awalnya
tak ada hal serius yang dibicarakan tetapi lama-lama ia mulai mengajak warga
diskusi. Kondisi terlihat cair dan hangat. Dari jauh sekdes memandang aneh
kepala desanya. Di zaman modern seperti ini, Mengajak musyarawarah tanpa menggunakan kursi dan pengeras suara
merupakan hal tak masuk akal baginya.
“ Jika ada tamu datang, rumah kita terlihat kumuh dan kotor, padahal kita
sehat dan mampu membersihkan, apa yang kita rasakan?” Tanya Odon.
“Malu...! Jawab warga serempak.
“ Begitu juga dengan desa kita, desa kita ini ibarat rumah. Berpenghuni
tetapi tak terawat. Jalan rusak dimana-mana, irigasi penuh tertutup rumput dan
pohon-pohon hampir sudah tak ada lagi. Mungkin itu yang selama mengacaukan mata
pencaharian kita sebagai petani. Air kering di musim kemarau dan banjir di
musim hujan. Musim paceklik jadi lebih panjang, dan maling jadi lebih banyak.
Benar begitu bapak-bapak?” Odon bertanya lagi.
“ Benar..! jawab warga dalam hati. Mereka mulai serius mendengarkan kepala
desanya.
“ Dua minggu lagi ada kunjungan dari pusat dan kabupaten. Kita sebagai
warga biasa sudah waktunya tak hanya menunggu. mungkin kita sama-sama telah
merasa di hianati dan menjadi acuh tak acuh. Kita merasa di telantarkan begitu
saja. Merasa merana karena dana untuk pembangunan desa semakin tipis dan kebanyakan
disunat. Jika kita acuh tak acuh, kita yang akan rugi sendiri. Ini bukan hanya
omongan saja, tetapi inilah yang kita rasakan bersama sekarang ini.
“ Jadi kita harus bagaimana? “ celetuk seorang warga.
“ Kita akan belajar bersama”.
Musyawarah itu diselesaikan dengan khidmat dan penuh tanda tanya. Ada
semangat baru di dalam benak warga. Ada sejuta cara yang disiapkan. Jika ini di
ibaratkan perang, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.
Dua minggu berlalu, kantor kepala desa sepi. Tak ada satu orangpun disana.
Rombongan dari pusat dan kabupaten dibuat tercengang. Mereka mengernyitkan dahi
memandang spanduk ucapan selamat datang. Bukan tulisan ucapan selamat datangnya, tetapi tulisan dibawahnya.
“ Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah pusat dan kabupaten yang
sudi datang meluangkan waktunya kemari. Kami terlalu malu untuk sekedar
bertatap muka dan berjabat tangan. Beberapa hari terakhir kami sudah berusaha
semaksimal mungkin. Tetapi jalan desa masih banyak yang rusak. Jembatan yang
ambruk belum selesai di benari. Administrasi desa juga belum selesai di tata,
dan masih banyak lagi masalah yang belum terselesaikan. Kami mohon kiranya
bapak dan ibu bisa berkunjung kemari setahun atau dua tahun lagi. Semoga
permasalahan ini bisa kami selesaikan. Terimakasih.”
***
Di tengah terik matahari yang sangat menyengat ribuan warga berkumpul dan
berteriak di depan gedung. Beberapa pria berseragam terlihat berjaga. Dari
balik jeruji , Odon hanya mendengar sayup-sayup suaranya. “ Kami hanya belajar
menjadi manusia” Guman Odon dalam hati.

nice post and good job
ReplyDeleteterimakasih sudah mampir..
ReplyDelete