Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Friday, 1 July 2016

“PULANG”

cerpen tentang perempuan
D.w.D
09 Januari 2015

Embun pergi lebih lambat dari biasanya. Sebab matahari, sedang tak kuasa menembus mendung. Di belakang rumah di bawah pohon aren,  Seruni sedang sibuk mengupas kelapa. Rambutnya pendek dan tangannya terlihat  cukup kekar untuk seorang perempuan. Satu-persatu tumpukan kelapa di babatnya tuntas. Disampingnya di sebelah sumur, perempuan separuh baya sedang membersihkan ayam.
“ Kapan kira-kira ayuk sampai bu?” Tanya seruni
“Mungkin sehabis  lohor”. Jawab ibunya tanpa melihat seruni.  Mata si ibu terlalu fokus pada sisa bulu ayam yang melawan untuk di cabut.
“ Calon suami dan mertuanya jadi ikut?” Seruni bertanya kembali.
“Jika  Cuma ayuk yang datang, tak mungkin ibu masak opor sebanyak ini.”
Setelah selesai mengupas dan mencongkelnya, dia tinggalkan begitu saja tumpukan kelapa disamping ibunya. Seruni melangkahkan kaki mendekati kandang sapi. Di keluarkan sapi-sapinya lalu di ikatkan di bawah batang. Ia masuk kedalam rumah mengambil ember berisi air hangat lalu memandikan mereka. Dari jauh ibunya termangu, ia sadar anaknya tumbuh dewasa. Tak ada bedak di wajah apalagi lipstik di bibir, atau mungkin memang seruni tak pernah memikirkannya. “ Andai saja aku bisa memasangkan anting di telinganya”. Harap ibunya dalam hati.

“ Seruni mau kesawah bu, ada lahan yang harus dibajak”.
“ Lho nggak sarapan dulu?” Tanya ibunya.
“Nanti saja bu sama bapak sarapan disawah”. Jawab seruni sambil nyengir. Seruni memakai seragamnya. celana usang dan kaos lengan panjang  dilekatkan ditubuh. Kepalanya tertutup caping dan kain yang rapat. Hanya dua matanya yang kelihatan. Dia menunduk, mengambil besi dan menghidupkan kerbau besinya.  Suaranya menderu, bersama kepulan asap dan bunyi gerobak, seruni beranjak pergi.
Ada sebersit rasa bersalah dari mata ibu separuh baya itu  kala melihat anak gadisnya pergi. Hatinya bergejolak.” Lihat itu anak gadismu, anak gadis kok seperti itu”  Kata masripah dalam hati. Anak gadis masripah ada dua, tetapi mereka bagai sisi mata uang yang berbeda. Si sulung bernama ayuk.  Ayuk begitu lemah lembut dan berpendidikan. Sementara seruni, dia adalah gadis perkasa dan sekolah adalah hal yang tak masuk akal baginya.
Saat anak perempuan  masih gemar bermain boneka, Seruni minta berhenti sekolah dan minta dibelikan sapi saja. Sebagai orang tua jelas bapak tak menanggapi, tetapi karena  terus merengek dan mengamuk. Akhirnya sang bapak mengalah juga. Walaupun sang bapak harus menggadaikan sebidang tanah demi keinginan putrinya. Sejak itulah Seruni kenal dengan sapi, rindu harum tanah serta berkawan dengan rumput. Tak hanya itu, seruni juga membantu pekerjaan bapaknya. Ia sudah seperti tulang punggung keluarga. Terselip rasa bangga saat anak membantu pekerjaan orang tua. Tetapi pada saatnya pasti ada harga yang harus dibayarnya.
Burung layang –layang berkitar menangkap udang dari lumpur yang sedang dibajak, ia menukik diantara sela stang kerbau besi yang dikemudikan seruni. Di pematang pria separuh baya berteriak melambaikan tangan menyuruh berhenti.
“ sarapan Ni!”. Teriak ayahnya.
Seketika seruni menghentikan kerbau besinya, dia berjalan menuju kubangan membersikan tangan dan pakaiaan dari lumpur. Tangannya menyeka dan membasuh sedikit mukanya. Wajahnya yang bersih nyaris tanpa jerawat membuat ia kelihatan cantik.
“ Kok datangnya kesiangan sih pak?”  Hampir saja Seruni pinsan”
“ Ayuk datang lebih awal ni,... bapak harus menjamu calon mertua dan rombongan keluarga.”
“Lho kok ada rombongan keluarga?”  emang mau ada apa?” Tanya seruni.
“Sudah jangan banyak tanya, makan dulu, nanti bapak ceritakan “
Seruni membuka rantang yang dibawa ayahnya. Bau dari nasi yang beralas daun pisang dalam rantang serta opor masakan ibunya cukup menggugah selera. Diambilnya sepiring nasi dan beberapa potong ayam. Seruni makan dengan lahapnya.
“Pelan – pelan ni nanti tersedak”.
“Ia pak ia...” Jawab seruni dengan mulut penuh dengan nasi.
“Malam ini ada acara lamaran sekaligus menentukan hari akadnya” kata si bapak.
Seruni hanya manggut-manggut, ia seakan tak peduli dengan apa yang dikatakan bapaknya. Sepertinya ia lebih memilih menikmati sensasi opor ayam di lidahnya.
“Awas pulangnya jangan kesorean, malu sama tetangga”. Kata si bapak.
Pak narto meninggalkan seruni bersama kerbau besinya. Ada perasaan campur aduk. Narto tak mampu mencari tahu atau sekedar menebak isi otak anak gadisnya tersebut. Apalagi saat mendengar kakaknya menikah, Ingin sekali narto mendengar  mulut putrinya berbicara tentang laki-laki.
Di kampung itu siapa yang tak kenal dengan Seruni. Ia bagaikan malaikat yang diutus untuk mengangkat derajat keluarganya. Ditengah kondisi ekonomi yang pas-pasan dan kondisi badan pak Narto yang sakit-sakitan. Bersama sapi-sapinya, ia mengambil alih tugas pak narto. Setelah bertahun-tahun insiden kekonyolannya memutuskan bergaul dengan sapi daripada bersekolah. Ia membuktikan kepada keluarganya bahwa keputusan yan diambil adalah benar. Tak hanya status ekonomi keluarga yang meningkat. Ia juga mampu meluluskan ayuk dari hingga bangku kuliah. Ia juga menjadi tolak ukur  peternak sapi yang ada di kampungnya. Menjadi contoh dan tauladan bagi siapa saja yang ingin bergelut dengan usaha sapi.
Pak narto berjalan melewati jalan persawahan, melewati petak – demi petak, matanya menikmati kilauan air yan terpanggang oleh matahari yan sudah mulai terik.  Di atas jembatan terlihat mbah jenggot sedang menjaga itik-itiknya. Beberapa kali ia terlihat melemparkan potongan ubi keatas air.
“ Nggak ikut mbajak sawah to? “ Tanya mbah jenggot
“Nggak mbah, dirumah lagi ada tamu”. Jawab narto sambil berhenti.
“Oalah pantas saja tadi kelihatan rame,”  lho itu seruni kok masih mbajak?”
“ Mbah kan tahu seruni bagaimana, kalau nggak kesawah dia mirip udang di garami”. Jawab narto sambil ketawa.
“ anak gadismu memang hebat to, pasti banyak pemuda yang mau melamarnya”. Tukas mbah jenggot.
“Ah mbah bisa saja”.
“Tetapi sayang to banyak pemuda yang takut padanya, takut kalau sudah menikah disuruh mengasuh anak sama seruni.” Kata mbah jenggot sambil tertawa.
“ Aku pulang dulu mbah”.  jawab narto sambil tersenyum
Narto melangkahkan kaki dari atas jembatan, meninggalkan mbah jenggot dan bebek – bebeknya. Telinga sudah cukup kebal dengan ejekan yang sering terlontar dari mulut warga. Tetapi  jauh dalam lubuk hatinya mengatakan tidak.
Petang sudah mulai mendekat. Di dalam dapur,  Masripah dan beberapa ibu-ibu sedang mempersiapkan hidangan. Mesti tanganya sibuk, mata masripah beberapa kali fokus  melihat  jendela. Sampai kadang nasi yang ditaruh di piring tumpah.
“ Anak lanangmu belum pulang pah? “ Seorang perempuan lewat umur bertanya sambil memindahkan bakul nasi.
“ Belum mbah, padahal tadi sudah di bilang jangan pulang terlalu sore”. Jawab masripah.
“Kasihan dia, sudah cukup dia berurusan dengan sawah dan sapi-sapinya, walapun kami sering menyebutnya anak lanang,  anakmu itu perempuan, “
Hari mulai gelap,rumah pak narto sudah mulai rame.  Suara deru kerbau besi masuk kepelataran rumah, dengan cekatan seruni menghentikannya, diatas gerobak setumpuk  rumput segar tersusun rapi  dalam karung. Dengan tubuh penuh lumpur Seruni memindahkannya kedekat kandang sapi. Dari dalam masripah berjalan menghampiri.
“ sudah..sudah..tinggalkan dulu rumput-rumputnya, sekarang kamu kesumur lekas mandi”.
Seruni terlihat cukup capek , ia hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam rumah, prosesi lamaran sedang  berjalan, hanya terlihat  narto dan pamanya yang ada di depan. Sementara di Masripah dan ayuk ada diruang tengah bersama bibinya.
“ Dimana seruni bu?” tanya ayuk.
“ Tadi sih mandi, tetapi sekarang ...”.  masripah baru sadar seruni belum keluar. Masripah memandang kepintu kamar.  Ternyata pintunya tertutup.
“ Padahal ayuk kepingin cerita banyak sama seruni”
“ Ya sudah masuk saja ke kamar, mungkin seruni ketiduran.” Perintah ibunya.
“ Mana berani ayuk bu”.
Masripah memegang gagang pintu dan membukanya,  di lihatnya Seruni duduk menghadap cermin, tangannya terlihat memegang sesuatu,  ada tumpukan bedak dan riasan dihadapannya. Ibunya pelan berjalan mendekat, tangan seruni berulang mengoleskan lipstik di di bibir. Butiran air menetes deras di wajah, menghapus jejak bedak diwajah.
“ Seruni”. Panggil ibunya pelan
Serta merta seruni menghambur memeluk ibunya. masripah diam tanpa bisa berkata apa-apa. Ia telah lupa kapan terakhir kali melihat putrinya yang satu ini menangis. Diantara isak ia mendekap erat putrinya.
” Seruni ingin menikah bu”
Masripah ikut hanyut, air matanya ikut meleleh. ia merasa seperti saat pertama kali Seruni lahir. Tak bisa di pikirkan apalagi di ucapkan.


No comments:

Post a Comment