D.w.D
09 Januari 2015
Embun pergi lebih lambat dari biasanya. Sebab matahari,
sedang tak kuasa menembus mendung. Di belakang rumah di bawah pohon aren, Seruni sedang sibuk mengupas kelapa.
Rambutnya pendek dan tangannya terlihat
cukup kekar untuk seorang perempuan. Satu-persatu tumpukan kelapa di
babatnya tuntas. Disampingnya di sebelah sumur, perempuan separuh baya sedang
membersihkan ayam.
“ Kapan kira-kira ayuk sampai bu?” Tanya seruni
“Mungkin sehabis
lohor”. Jawab ibunya tanpa melihat seruni. Mata si ibu terlalu fokus pada sisa bulu ayam
yang melawan untuk di cabut.
“ Calon suami dan mertuanya jadi ikut?” Seruni bertanya
kembali.
“Jika Cuma ayuk
yang datang, tak mungkin ibu masak opor sebanyak ini.”
Setelah selesai mengupas dan mencongkelnya, dia
tinggalkan begitu saja tumpukan kelapa disamping ibunya. Seruni melangkahkan
kaki mendekati kandang sapi. Di keluarkan sapi-sapinya lalu di ikatkan di bawah
batang. Ia masuk kedalam rumah mengambil ember berisi air hangat lalu
memandikan mereka. Dari jauh ibunya termangu, ia sadar anaknya tumbuh dewasa.
Tak ada bedak di wajah apalagi lipstik di bibir, atau mungkin memang seruni tak
pernah memikirkannya. “ Andai saja aku bisa memasangkan anting di telinganya”.
Harap ibunya dalam hati.
“ Lho nggak sarapan dulu?” Tanya ibunya.
“Nanti saja bu sama bapak sarapan disawah”. Jawab seruni
sambil nyengir. Seruni memakai seragamnya. celana usang dan kaos lengan
panjang dilekatkan ditubuh. Kepalanya
tertutup caping dan kain yang rapat. Hanya dua matanya yang kelihatan. Dia
menunduk, mengambil besi dan menghidupkan kerbau besinya. Suaranya menderu, bersama kepulan asap dan
bunyi gerobak, seruni beranjak pergi.
Ada sebersit rasa bersalah dari mata ibu separuh baya
itu kala melihat anak gadisnya pergi.
Hatinya bergejolak.” Lihat itu anak gadismu, anak gadis kok seperti itu” Kata masripah dalam hati. Anak gadis masripah
ada dua, tetapi mereka bagai sisi mata uang yang berbeda. Si sulung bernama ayuk. Ayuk begitu lemah lembut dan berpendidikan. Sementara
seruni, dia adalah gadis perkasa dan sekolah adalah hal yang tak masuk akal
baginya.
Saat anak perempuan masih gemar bermain boneka, Seruni minta
berhenti sekolah dan minta dibelikan sapi saja. Sebagai orang tua jelas bapak
tak menanggapi, tetapi karena terus
merengek dan mengamuk. Akhirnya sang bapak mengalah juga. Walaupun sang bapak
harus menggadaikan sebidang tanah demi keinginan putrinya. Sejak itulah Seruni
kenal dengan sapi, rindu harum tanah serta berkawan dengan rumput. Tak hanya
itu, seruni juga membantu pekerjaan bapaknya. Ia sudah seperti tulang punggung
keluarga. Terselip rasa bangga saat anak membantu pekerjaan orang tua. Tetapi
pada saatnya pasti ada harga yang harus dibayarnya.
Burung layang –layang berkitar menangkap udang dari
lumpur yang sedang dibajak, ia menukik diantara sela stang kerbau besi yang
dikemudikan seruni. Di pematang pria separuh baya berteriak melambaikan tangan
menyuruh berhenti.
“ sarapan Ni!”. Teriak ayahnya.
Seketika seruni menghentikan kerbau besinya, dia berjalan
menuju kubangan membersikan tangan dan pakaiaan dari lumpur. Tangannya menyeka
dan membasuh sedikit mukanya. Wajahnya yang bersih nyaris tanpa jerawat membuat
ia kelihatan cantik.
“ Kok datangnya kesiangan sih pak?” Hampir saja Seruni pinsan”
“ Ayuk datang lebih awal ni,... bapak harus menjamu calon
mertua dan rombongan keluarga.”
“Lho kok ada rombongan keluarga?” emang mau ada apa?” Tanya seruni.
“Sudah jangan banyak tanya, makan dulu, nanti bapak
ceritakan “
Seruni membuka rantang yang dibawa ayahnya. Bau dari nasi
yang beralas daun pisang dalam rantang serta opor masakan ibunya cukup
menggugah selera. Diambilnya sepiring nasi dan beberapa potong ayam. Seruni
makan dengan lahapnya.
“Pelan – pelan ni nanti tersedak”.
“Ia pak ia...” Jawab seruni dengan mulut penuh dengan
nasi.
“Malam ini ada acara lamaran sekaligus menentukan hari
akadnya” kata si bapak.
Seruni hanya manggut-manggut, ia seakan tak peduli dengan
apa yang dikatakan bapaknya. Sepertinya ia lebih memilih menikmati sensasi opor
ayam di lidahnya.
“Awas pulangnya jangan kesorean, malu sama tetangga”.
Kata si bapak.
Pak narto meninggalkan seruni bersama kerbau besinya. Ada
perasaan campur aduk. Narto tak mampu mencari tahu atau sekedar menebak isi
otak anak gadisnya tersebut. Apalagi saat mendengar kakaknya menikah, Ingin
sekali narto mendengar mulut putrinya
berbicara tentang laki-laki.
Di kampung itu siapa yang tak kenal dengan Seruni. Ia
bagaikan malaikat yang diutus untuk mengangkat derajat keluarganya. Ditengah
kondisi ekonomi yang pas-pasan dan kondisi badan pak Narto yang sakit-sakitan.
Bersama sapi-sapinya, ia mengambil alih tugas pak narto. Setelah bertahun-tahun
insiden kekonyolannya memutuskan bergaul dengan sapi daripada bersekolah. Ia
membuktikan kepada keluarganya bahwa keputusan yan diambil adalah benar. Tak
hanya status ekonomi keluarga yang meningkat. Ia juga mampu meluluskan ayuk
dari hingga bangku kuliah. Ia juga menjadi tolak ukur peternak sapi yang ada di kampungnya. Menjadi
contoh dan tauladan bagi siapa saja yang ingin bergelut dengan usaha sapi.
Pak narto berjalan melewati jalan persawahan, melewati
petak – demi petak, matanya menikmati kilauan air yan terpanggang oleh matahari
yan sudah mulai terik. Di atas jembatan
terlihat mbah jenggot sedang menjaga itik-itiknya. Beberapa kali ia terlihat
melemparkan potongan ubi keatas air.
“ Nggak ikut mbajak sawah to? “ Tanya mbah jenggot
“Nggak mbah, dirumah lagi ada tamu”. Jawab narto sambil
berhenti.
“Oalah pantas saja tadi kelihatan rame,” lho itu seruni kok masih mbajak?”
“ Mbah kan tahu seruni bagaimana, kalau nggak kesawah dia
mirip udang di garami”. Jawab narto sambil ketawa.
“ anak gadismu memang hebat to, pasti banyak pemuda yang
mau melamarnya”. Tukas mbah jenggot.
“Ah mbah bisa saja”.
“Tetapi sayang to banyak pemuda yang takut padanya, takut
kalau sudah menikah disuruh mengasuh anak sama seruni.” Kata mbah jenggot
sambil tertawa.
“ Aku pulang dulu mbah”.
jawab narto sambil tersenyum
Narto melangkahkan kaki dari atas jembatan, meninggalkan
mbah jenggot dan bebek – bebeknya. Telinga sudah cukup kebal dengan ejekan yang
sering terlontar dari mulut warga. Tetapi
jauh dalam lubuk hatinya mengatakan tidak.
Petang sudah mulai mendekat. Di dalam dapur, Masripah dan beberapa ibu-ibu sedang
mempersiapkan hidangan. Mesti tanganya sibuk, mata masripah beberapa kali
fokus melihat jendela. Sampai kadang nasi yang ditaruh di
piring tumpah.
“ Anak lanangmu belum pulang pah? “ Seorang perempuan
lewat umur bertanya sambil memindahkan bakul nasi.
“ Belum mbah, padahal tadi sudah di bilang jangan pulang
terlalu sore”. Jawab masripah.
“Kasihan dia, sudah cukup dia berurusan dengan sawah dan
sapi-sapinya, walapun kami sering menyebutnya anak lanang, anakmu itu perempuan, “
Hari mulai gelap,rumah pak narto sudah mulai rame. Suara deru kerbau besi masuk kepelataran
rumah, dengan cekatan seruni menghentikannya, diatas gerobak setumpuk rumput segar tersusun rapi dalam karung. Dengan tubuh penuh lumpur Seruni
memindahkannya kedekat kandang sapi. Dari dalam masripah berjalan menghampiri.
“ sudah..sudah..tinggalkan dulu rumput-rumputnya,
sekarang kamu kesumur lekas mandi”.
Seruni terlihat cukup capek , ia hanya mengangguk lalu
berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam rumah, prosesi lamaran sedang berjalan, hanya terlihat narto dan pamanya yang ada di depan.
Sementara di Masripah dan ayuk ada diruang tengah bersama bibinya.
“ Dimana seruni bu?” tanya ayuk.
“ Tadi sih mandi, tetapi sekarang ...”. masripah baru sadar seruni belum keluar.
Masripah memandang kepintu kamar. Ternyata pintunya tertutup.
“ Padahal ayuk kepingin cerita banyak sama seruni”
“ Ya sudah masuk saja ke kamar, mungkin seruni ketiduran.”
Perintah ibunya.
“ Mana berani ayuk bu”.
Masripah memegang gagang pintu dan membukanya, di lihatnya Seruni duduk menghadap cermin,
tangannya terlihat memegang sesuatu, ada
tumpukan bedak dan riasan dihadapannya. Ibunya pelan berjalan mendekat, tangan
seruni berulang mengoleskan lipstik di di bibir. Butiran air menetes deras di
wajah, menghapus jejak bedak diwajah.
“ Seruni”. Panggil ibunya pelan
Serta merta seruni menghambur memeluk ibunya. masripah
diam tanpa bisa berkata apa-apa. Ia telah lupa kapan terakhir kali melihat
putrinya yang satu ini menangis. Diantara isak ia mendekap erat putrinya.
” Seruni ingin menikah bu”
Masripah ikut hanyut, air matanya ikut meleleh. ia merasa
seperti saat pertama kali Seruni lahir. Tak bisa di pikirkan apalagi di
ucapkan.

No comments:
Post a Comment