D.w.D
Januari 2016
Setelah lelah menunggu bulan yang tak kunjung
menentramkan, Raka bergumul dalam sarung. Berharap kabut turun bersama embun
yang lebih dari biasanya. Diantara kantuk yang tertahankan, kicauan burung
kecil memanggil di balik daun yang masih sangat basah. Tak ada hal yan istimewa
selain membuka jendela sembari meraih
tetesan air pada daun bunga di samping jendela. Di dekap erat kedua tangan
kemuka. Sekejap saja dingin menjalan keseluruh tubuh. Melepas sejenak penat dari ingatan segala
peristiwa.
Entah sudah berapa lama ia seperti itu. Sejak rumahnya
berasa tak lagi bernyawa, raka menjadikan aktivitas itu sebagai rutintas yang
tak terlewatkan. Januari banyak menumbuhkan bunga baru, tetapi hatinya masih
tetap saja layu. Remah-remah ingatan terasa begitu memanggil kala ia menikmati
tiap tetesnya. Semakin diresapi semakin enggan ia untuk pergi. Berharap waktu
akan berputar kembali. Sehingga kesalahan
bisa di benahi.
“ Seharusnya pagi tak berakhir seperti ini”
Di dalam rumah sederhana ini, harapan akan suara bayi dan
celoteh perempuan itu hanya sebatas hanyalan belaka. Harum semerbak kopi yang
biasa tersaji hanya membekas di otak dan menimbulkan fatamorgana. Ingin sekali
ia mendengar suara batu beradu menggerus bumbu. Menghirup setiap harum asap
yang keluar dari dapurnya. Melelehkan liur dari perut yang kosong. Ah..hilang
sudah hiruk pikuk bersama embun sebelum sirna oleh cahaya.
Meja, kursi dan dipan seakan terlihat mengadu.
Menceritakan betapa hampa suasana. Dengan marahnya ia mehakimi, Menuduh Raka sebagai biangnya.
“ Inikah sebuah rumah?” Tanya mereka.
Diantara pagi yang masih remang, Raka melangkah melewati
pintu belakang. Berjalan sempoyongan di sela rerumputan. Tubuhya menghambur
dalam semak basah. Ia bersimpuh menatap gamang gundukan tanah yang penuh rumput
liar. Matanya meleleh, tangannya erat menggenggam tanah. Suaranya ingin keluar
tetapi tertahan. Hanya desah sesak nafas yang terdengar. Berapa kali aku
mengutuk, mencakar bahkan memukul tanah.
Bayang wajah biru perempuan dan bayi itu mengundang pilu.
Seperti hujan pada waktu itu, tetes embun dari daun yang bergoyang
menggambarkan jelas peristiwanya. Terngiang di benaknya kala berseteru di
sepertiga malam yang sedang hujan. Emosi membuat kami begitu kalap. Diantara
guruh yang menggelegar, perempuan itu mengamuk sejadi-jadinya. Upatan demi
upatan pun keluar dari mulutnya. Aku hanya diam saja dengan mulut yang masih
bau alkohol. Tangannya menggenggam pundakku dan menggoyangkannya.
“ Aku ini istrimu pak!”
Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Diambilnya beberapa
lembar kain dan di masukan kedalam tas. Ditengah dera hujan dan pagi yang masih
gelap ia bergegas keluar dengan perut yang sudah sangat besar. “ aku kerumah
ibu!” kata perempuan itu sembari membanting pintu.
Raka hanya pasrah melihat perempuan itu pergi.” Peduli
setan perempuan itu, persetan juga anak dalam perutnya!”. Gumannya
Kenyataan itu pahit, dan lebih pahit lagi kenapa ia harus
menjatuhkan pilihan pada perempuan itu. Tak terelakan lagi, dahulu parasnya
memang mempesona. Setiap lelaki pasti melirikan mata kala melihatnya. Bedebah
apa yang merasuki otak ku. Hampir setiap waktu tak terlewatkan tanpa
memikirkannya. Kejar dan dapat, dua kata yang terus meracuni.
Merebut hatinya bagaikan sayembara. Segalanya di
pertaruhkan demi mendapatkannya. Tak hanya satu dua tetapi banyak pemuda.
Kemewahan dan harga diri tak masuk dalam
logika lagi. Di tengah euforia suasana, perempuan itu terlalu larut
menikmatinya. Bukan lagi siapa saya,
tetapi siapa saja. Siapa yang mampu maka dia mau. Meski berita miring tersebar
dimana-dimana, niatku malah semakin menggebu.
“ kemana akal sehatku?” aku pun tak tahu”.
Orang-orang kampung tahu siapa dia. Dia itu perempuan
nggak bener. Hampir semua pemuda kampung sudah pernah menindihnya. Tetapi tak kupedulikan lagi ocehan mereka. Aku maju
mempersuntingnya dan bodohnya lagi aku tahu kalau perempuan itu sudah hamil
sebelum kunikahi. Hati ini sudah terlanjur
lurus memilih. Dan berharap pelaminan bisa mengubahnya perlahan.
Hari demi hari kami lewati dengan biasa. Layaknya pengantin
baru, kami merasakan hidup sebagai sebuah keluarga.
Bercengkrama setiap hari, merasakan tanggung jawab sebagai seorang suami, serta
bahu membahu dalam himpitan ekonomi. Terbayang
sudah kebahagian yang akan datang di masa depan.
Hingga waktunya tiba, terdengar lagi ocehan tetangga
tentangnya. Gunjingannya sampai memekakan telinga. Tetapi semua itu aku anggap
sebagi angin lalu saja. Sampai akhirnya aku melihat sendiri perempuanku
bergumul dengan tetangga di semak di dekat kandang sapi. Walau pedih menyayat
sembilu aku tak mampu berbuat apa-apa. Di usia pernikahan yang masih
belum seumur jagung tak sanggup lagi rasanya membuka aib yang membuat
malu keluarga. Belum kering rasanya ludah orang-orang kampung menggunjing kala
kami di pelaminan. Jadi kuputuskan alkohol
sebagai pelampiasan. Pahit, pusing dan menghilangkan. Meski semua itu hanya
bersifat sementara.
Pagi itu aku tersadar istriku telah pergi kerumah orang
tuanya. “ kenapa aku tak menahannya”. Bodoh...!”. Aku berlari seperti orang gila. Menerobos pagi yang masih buta, menyibak
kabut dan hujan yang masih mendera. Tak kupedulikan lagi betapa dingin dan
kantuk terasa. Tetapi ternyata dia tak ada di tempat orang tuanya.
Aku kembali
menyusuri jalan desa yang masih sangat sepi. Mataku tak berkedip mencari setiap
sudut yang aku lewati. Sudah tak terhitung lagi beberapakali aku berkeliling.
Tetapi hasilnya tetap sia-sia. Kepala yang masih sakit merayu langkah menuju
rumah dengan tangan hampa.
Dalam hati aku berjanji. Tak akan kusentuh lagi alkohol sebagai pelampiasan. Tak akan kupermainkan
lagi perempuan perayu sebagai balasan terhadap istriku. Terpikir sudah kujual
segala harta benda yang kupunya. Mengajak istriku pergi jauh Meninggalkan
tanah terkutuk ini.
Ku hempaskan tubuh di kursi belakang rumah. Mataku
menatap embun yang menetes dari dahan yang bergoyang. Samar-samar terlihat
seseorang tergeletak di semak. Kutatap dengan cermat sembari mendekat. Sesosok
perempuan berbaring dengan memar merah di kepala. Disampingnya terbaring bayi
mungil tanpa busana. Tanah yang kuinjak semuanya berwarna merah dan tanganku
menggenggam balok berlumur darah.
“ Manusiakah aku?”
Perlahan tetapi pasti, mentari menerobos melewati
dedaunan mengusir bayang dan embun di tempat itu. Mencuci sementara sebongkah
peristiwa bertahun-tahun lalu. Aku masih tergeletak di tempat sama, di hamparan
rumput dengan embun yang tersisa. Aku masih dengan rasa yang sama, tetap
meratap bersama aroma amis yang masih
melekat. Rindu yang sama tetapi dengan
waktu yang bebeda.
“ Ku tunggu engkau di pagi berikutnya”.

No comments:
Post a Comment