Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Sunday, 10 July 2016

“ LELAKI PENJAGA EMBUN”

Cerpen tentang penyesalan
D.w.D
Januari 2016

Setelah lelah menunggu bulan yang tak kunjung menentramkan, Raka bergumul dalam sarung. Berharap kabut turun bersama embun yang lebih dari biasanya. Diantara kantuk yang tertahankan, kicauan burung kecil memanggil di balik daun yang masih sangat basah. Tak ada hal yan istimewa selain membuka jendela sembari  meraih tetesan air pada daun bunga di samping jendela. Di dekap erat kedua tangan kemuka. Sekejap saja dingin menjalan keseluruh tubuh.  Melepas sejenak penat dari ingatan segala peristiwa.
Entah sudah berapa lama ia seperti itu. Sejak rumahnya berasa tak lagi bernyawa, raka menjadikan aktivitas itu sebagai rutintas yang tak terlewatkan. Januari banyak menumbuhkan bunga baru, tetapi hatinya masih tetap saja layu. Remah-remah ingatan terasa begitu memanggil kala ia menikmati tiap tetesnya. Semakin diresapi semakin enggan ia untuk pergi. Berharap waktu akan berputar kembali. Sehingga kesalahan  bisa di benahi.
“ Seharusnya pagi tak berakhir seperti ini”
Di dalam rumah sederhana ini, harapan akan suara bayi dan celoteh perempuan itu hanya sebatas hanyalan belaka. Harum semerbak kopi yang biasa tersaji hanya membekas di otak dan menimbulkan fatamorgana. Ingin sekali ia mendengar suara batu beradu menggerus bumbu. Menghirup setiap harum asap yang keluar dari dapurnya. Melelehkan liur dari perut yang kosong. Ah..hilang sudah hiruk pikuk bersama embun sebelum sirna oleh cahaya.
Meja, kursi dan dipan seakan terlihat mengadu. Menceritakan betapa hampa suasana. Dengan marahnya ia  mehakimi, Menuduh Raka  sebagai biangnya.
“ Inikah sebuah rumah?” Tanya mereka.
Diantara pagi yang masih remang, Raka melangkah melewati pintu belakang. Berjalan sempoyongan di sela rerumputan. Tubuhya menghambur dalam semak basah. Ia bersimpuh menatap gamang gundukan tanah yang penuh rumput liar. Matanya meleleh, tangannya erat menggenggam tanah. Suaranya ingin keluar tetapi tertahan. Hanya desah sesak nafas yang terdengar. Berapa kali aku mengutuk, mencakar bahkan memukul tanah.
Bayang wajah biru perempuan dan bayi itu mengundang pilu. Seperti hujan pada waktu itu, tetes embun dari daun yang bergoyang menggambarkan jelas peristiwanya. Terngiang di benaknya kala berseteru di sepertiga malam yang sedang hujan. Emosi membuat kami begitu kalap. Diantara guruh yang menggelegar, perempuan itu mengamuk sejadi-jadinya. Upatan demi upatan pun keluar dari mulutnya. Aku hanya diam saja dengan mulut yang masih bau alkohol. Tangannya menggenggam pundakku dan menggoyangkannya.
“ Aku ini istrimu pak!”
Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Diambilnya beberapa lembar kain dan di masukan kedalam tas. Ditengah dera hujan dan pagi yang masih gelap ia bergegas keluar dengan perut yang sudah sangat besar. “ aku kerumah ibu!” kata perempuan itu sembari membanting pintu.
Raka hanya pasrah melihat perempuan itu pergi.” Peduli setan perempuan itu, persetan juga anak dalam perutnya!”. Gumannya
Kenyataan itu pahit, dan lebih pahit lagi kenapa ia harus menjatuhkan pilihan pada perempuan itu. Tak terelakan lagi, dahulu parasnya memang mempesona. Setiap lelaki pasti melirikan mata kala melihatnya. Bedebah apa yang merasuki otak ku. Hampir setiap waktu tak terlewatkan tanpa memikirkannya. Kejar dan dapat, dua kata yang terus meracuni.
Merebut hatinya bagaikan sayembara. Segalanya di pertaruhkan demi mendapatkannya. Tak hanya satu dua tetapi banyak pemuda. Kemewahan dan harga diri  tak masuk dalam logika lagi. Di tengah euforia suasana, perempuan itu terlalu larut menikmatinya.  Bukan lagi siapa saya, tetapi siapa saja. Siapa yang mampu maka dia mau. Meski berita miring tersebar dimana-dimana, niatku malah semakin menggebu.
“ kemana akal sehatku?” aku pun tak tahu”.
Orang-orang kampung tahu siapa dia. Dia itu perempuan nggak bener. Hampir semua pemuda kampung sudah pernah menindihnya. Tetapi tak  kupedulikan lagi ocehan mereka. Aku maju mempersuntingnya dan bodohnya lagi aku tahu kalau perempuan itu sudah hamil sebelum kunikahi. Hati ini sudah terlanjur  lurus memilih. Dan berharap pelaminan bisa mengubahnya perlahan.
Hari demi hari kami lewati dengan biasa. Layaknya pengantin baru,  kami  merasakan hidup sebagai sebuah keluarga. Bercengkrama setiap hari, merasakan tanggung jawab sebagai seorang suami, serta bahu membahu dalam himpitan ekonomi.  Terbayang sudah kebahagian yang akan datang di masa depan.
Hingga waktunya tiba, terdengar lagi ocehan tetangga tentangnya. Gunjingannya sampai memekakan telinga. Tetapi semua itu aku anggap sebagi angin lalu saja. Sampai akhirnya aku melihat sendiri perempuanku bergumul dengan tetangga di semak di dekat kandang sapi. Walau pedih menyayat sembilu aku tak mampu berbuat apa-apa. Di usia pernikahan yang  masih  belum seumur jagung tak sanggup lagi rasanya membuka aib yang membuat malu keluarga. Belum kering rasanya ludah orang-orang kampung menggunjing kala kami di pelaminan. Jadi  kuputuskan alkohol sebagai pelampiasan. Pahit, pusing dan menghilangkan. Meski semua itu hanya bersifat sementara.
Pagi itu aku tersadar istriku telah pergi kerumah orang tuanya. “ kenapa aku tak menahannya”. Bodoh...!”.  Aku berlari seperti orang gila.  Menerobos pagi yang masih buta, menyibak kabut dan hujan yang masih mendera. Tak kupedulikan lagi betapa dingin dan kantuk terasa. Tetapi ternyata dia tak ada di tempat orang tuanya.
 Aku kembali menyusuri jalan desa yang masih sangat sepi. Mataku tak berkedip mencari setiap sudut yang aku lewati. Sudah tak terhitung lagi beberapakali aku berkeliling. Tetapi hasilnya tetap sia-sia. Kepala yang masih sakit merayu langkah menuju rumah dengan tangan hampa.

Dalam hati aku berjanji. Tak akan kusentuh lagi alkohol  sebagai pelampiasan. Tak akan kupermainkan lagi perempuan perayu sebagai balasan terhadap istriku. Terpikir sudah kujual segala harta benda yang kupunya. Mengajak istriku pergi jauh Meninggalkan tanah  terkutuk ini.
Ku hempaskan tubuh di kursi belakang rumah. Mataku menatap embun yang menetes dari dahan yang bergoyang. Samar-samar terlihat seseorang tergeletak di semak. Kutatap dengan cermat sembari mendekat. Sesosok perempuan berbaring dengan memar merah di kepala. Disampingnya terbaring bayi mungil tanpa busana. Tanah yang kuinjak semuanya berwarna merah dan tanganku menggenggam balok berlumur darah.
“ Manusiakah aku?”
Perlahan tetapi pasti, mentari menerobos melewati dedaunan mengusir bayang dan embun di tempat itu. Mencuci sementara sebongkah peristiwa bertahun-tahun lalu. Aku masih tergeletak di tempat sama, di hamparan rumput dengan embun yang tersisa. Aku masih dengan rasa yang sama, tetap meratap  bersama aroma amis yang masih melekat. Rindu yang sama tetapi  dengan waktu yang bebeda.

“ Ku tunggu engkau di pagi berikutnya”.

No comments:

Post a Comment