Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Tuesday, 19 July 2016

Ruang 0, 1 ( Tiada Menjadi Ada)

mengenal manusia
D.w.D

Diantara keterbatasan, ingin sekali aku melihat siang dan malam secara bersamaan. Agar bisa menyaksikan matahari bersanding diantara bintang dan rembulan.  Tetapi mana mungkin, Hatiku terlalu dekat dengan perut.  Dan perut selalu berurusan dengan mulut. Tahu sendirikan bagaimana buasnya mulut. Jangankan manusia, dunia ini saja pasti dilahapnya. 
Di sini sayang-Ku, di ruang sederhana ini aku menunggu,  dimana waktu terus bergerak maju.  Melindas setiap jejak tanpa menghapus ingatannya.Mengaburkan  makna dalam  setiap peristiwa.  Lihatlah dadaku , Apinya begitu menyala-nyala. Ambil pisau dan sayatlah. Airnya pasti sudah habis. Menjadi gula yang kusuguhkan untuk semua orang. Membuatku mabuk akan pujian dan penghargaan.
Disini sayang-Ku, saat status sosial menjadi sebuah penghakiman. Otakku menjadi buntu. Hanya rasa haus yang begitu menggebu. Membunuh setiap sel dalam darahku. Tetapi itu tak membuatku mati, apalagi tua. Itu hanya  membuatku mengecil. Menjadi ada dan  tiada.
Ramai, ruang sederhana ini terlalu ramai. Banyak suara-suara lantang menyuarakan kebenaran. Menawarkan Obat dalam bentuk kebebasan. Bebas, Bebas tanpa batas kata mereka. Ada batu tergenggam ditangan, ada belati teselip di pinggang, senapan, palu, besi dan masih banyak lagi. Menjadikanya alat untuk  menembus ruang ini.  Bersaing  mengikis setiap  dinding yang coba menghalangi. Mereka mungkin  tak sabar ingin bertemu dengan Mu sayang-Ku. Untuk sementara aku dibuatnya takjub.Tetapi akhirnya menjadi takut, bahkan sangat takut.
 Aku melihat darah berceceran dimana-mana. Amisnya saja  membuatku ingin muntah. Tetapi mereka malah meminumnya. Isi kepalaku terasa kosong. Aku berlari dan terus berlari. Ternyata ruang ini terlalu sempit. Sampai tenaga ini habis,  Aku hanya memutarinya. Kuputuskan untuk memanjat dan terus memanjat. Hingga akhirnya mereka terlihat sangat kecil bahkan nyaris tak terlihat.
Ruang ini menjadi sempit sayang-Ku. Aku sendirian, benar-benar sendirian. Mereka yang sebenarnya manusia telah memanjat melawati batas itu. sementara aku, aku dikelilingi onggokan daging. Benar-benar onggokan daging. Menjadi bagian dari kelompok yang memuja kebahagian semu. Mencabik-cabik siapa saja yang tak mau menjadi bagiannya. Bukankah yang hakiki penuh kelembutan? Penuh dengan kasih sayang. Kenapa harus memaknai simbolnya saja. mengedepankan baju, batu atau mungkin kayu. Bukankah manusia adalah gembala. Meski hujan, meski panas, meski  tak tahu arah harus menjaga ternak dan pulang dengan selamat.
Seperti yang pernah kau ajarkan sayang-Ku. Jika semua telah berputar balik aku harus mengurangi makan dan tidur. Lebih banyak mendengar dan berpikir. Berendam dan bersimpuh. Tetapi apa aku bisa? Haruskah aku merasa mati diantara yang hidup? . Jika memang ia, Izinkan aku memahaminya.



No comments:

Post a Comment