D.w.D
Diantara keterbatasan, ingin sekali aku melihat siang dan
malam secara bersamaan. Agar bisa menyaksikan matahari bersanding diantara
bintang dan rembulan. Tetapi mana
mungkin, Hatiku terlalu dekat dengan perut.
Dan perut selalu berurusan dengan mulut. Tahu sendirikan bagaimana
buasnya mulut. Jangankan manusia, dunia ini saja pasti dilahapnya.
Di sini sayang-Ku, di ruang sederhana ini aku
menunggu, dimana waktu terus bergerak
maju. Melindas setiap jejak tanpa menghapus
ingatannya.Mengaburkan makna dalam setiap peristiwa. Lihatlah dadaku , Apinya begitu menyala-nyala.
Ambil pisau dan sayatlah. Airnya pasti sudah habis. Menjadi gula yang
kusuguhkan untuk semua orang. Membuatku mabuk akan pujian dan penghargaan.
Disini sayang-Ku, saat status sosial menjadi sebuah
penghakiman. Otakku menjadi buntu. Hanya rasa haus yang begitu menggebu.
Membunuh setiap sel dalam darahku. Tetapi itu tak membuatku mati, apalagi tua.
Itu hanya membuatku mengecil. Menjadi
ada dan tiada.
Ramai, ruang sederhana ini terlalu ramai. Banyak
suara-suara lantang menyuarakan kebenaran. Menawarkan Obat dalam bentuk
kebebasan. Bebas, Bebas tanpa batas kata mereka. Ada batu tergenggam ditangan,
ada belati teselip di pinggang, senapan, palu, besi dan masih banyak lagi.
Menjadikanya alat untuk menembus ruang
ini. Bersaing mengikis setiap dinding yang coba menghalangi. Mereka mungkin
tak sabar ingin bertemu dengan Mu
sayang-Ku. Untuk sementara aku dibuatnya takjub.Tetapi akhirnya menjadi takut,
bahkan sangat takut.
Aku melihat darah
berceceran dimana-mana. Amisnya saja membuatku ingin muntah. Tetapi mereka malah
meminumnya. Isi kepalaku terasa kosong. Aku berlari dan terus berlari. Ternyata
ruang ini terlalu sempit. Sampai tenaga ini habis, Aku hanya memutarinya. Kuputuskan untuk
memanjat dan terus memanjat. Hingga akhirnya mereka terlihat sangat kecil
bahkan nyaris tak terlihat.
Ruang ini menjadi sempit sayang-Ku. Aku sendirian,
benar-benar sendirian. Mereka yang sebenarnya manusia telah memanjat melawati
batas itu. sementara aku, aku dikelilingi onggokan daging. Benar-benar onggokan
daging. Menjadi bagian dari kelompok yang memuja kebahagian semu.
Mencabik-cabik siapa saja yang tak mau menjadi bagiannya. Bukankah yang hakiki
penuh kelembutan? Penuh dengan kasih sayang. Kenapa harus memaknai simbolnya
saja. mengedepankan baju, batu atau mungkin kayu. Bukankah manusia adalah
gembala. Meski hujan, meski panas, meski
tak tahu arah harus menjaga ternak dan pulang dengan selamat.
Seperti yang pernah kau ajarkan sayang-Ku. Jika semua
telah berputar balik aku harus mengurangi makan dan tidur. Lebih banyak
mendengar dan berpikir. Berendam dan bersimpuh. Tetapi apa aku bisa? Haruskah
aku merasa mati diantara yang hidup? . Jika memang ia, Izinkan aku memahaminya.

No comments:
Post a Comment