Februari 2016
D.w.D
Seperti pagi biasanya, aku selalu menyempatkan diri meminum kopi di kedai
belakang kampus. Bagi segelintir manusia,
memperoleh kesempatan belajar disini adalah anugerah. Tetapi bagi
sebagian besarnya, kuliah adalah mencari masalah. Itu kataku mungkin lain lagi kata orang. Dan Biasanya aku selalu memperdebatkannya dengan Si
Cuplis.
Aku dan Cuplis adalah bagian kecil dari komunitas besar mahluk asing di
negeri ini. Tak tahu kanan atau kiri apalagi depan belakang. Jadi harus
bagaimana? Menjadi mahluk asing ditanah sendiri adalah sebuah kekonyolan.
Aksara saja aku tak tahu. Bagaimana
aku bisa membaca, apalagi bertutur. Tetapi inilah kosekuensi sebuah peradaban. jika
terlarut maka kita pasti hanyut.
“ Otakmu berkutat dengan aksara
bong?” kata Cuplis sembari menepuk pundakku. Ia berjalan kedepan,
menarik bangku dan duduk. Aku hanya mengangguk sembari meneguk kopi.
“Ini adalah sebagian besar masalah di negeri ini Plis, mana mungkin bisa
lepas begitu saja dari otakku.”
“Memang kamu siapa? Presiden? Menteri ? anggota Dewan? Mereka saja mungkin
tak memikirkan” jawab cuplis dengan sinis.
“ Tetapi setidaknya aku tak berpikir seperti mereka” jawabku dengan enteng
“ apa yang kau dapat dari proses berpikirmu? “ Cuplis kembali bertanya.
“ Bayangkan Plis ribuan manusia di negeri ini tak mengerti aksara. Ha na ca
ra ka, pallawa apalagi sansekerta. Padahal itu adalah kunci peradaban. itu
adalah sumber kearifan. Dimana manusia memanusiakan manusia”.
“ Apa hubungannya dengan sekarang Bong?” itu adalah hal yang dianggap
kolot” Cuplis menggeser tempat duduknya. Ia mulai kelihatan serius.
“ Itulah kejamnya perang ideologi
Plis. Mereka yang berbudi luhur dianggap kolot. Bahasa daerah pun
dianggap ketinggalan zaman. Padahal dari mereka kita bisa melihat komunikasi
secara utuh dan bulat. Ada tata cara, etika, rasa dan makna.” jawabku
“ Sekarang mungkin yang tersisa tinggal
rasa Bong, itulah mengapa bicara kasar dan kotor pada orang tua hal yang
tabu. Semua harus dengan rasa hormat. Tidak seperti budaya barat yang berbicara
seenaknya” Cuplis menimpal.
“ Tetapi kita semua juga mulai ikut-ikutan”. Jawabku sambil tertawa.
“Jika hanya itu dampaknya, bukankah
itu masalah kecil Bong?”
“ kamu lupa Plis peradaban kita berserakan di luar negeri. Baik berupa
manusia, tulisan kuno bahkan budaya. Dengan semua itu mereka membuat sebuah peradaban yang
sangat maju. Kita hanya menerima sebagaian kecilnya saja, Itupun dengan balutan
teori dan bahasa baru. Parahnya lagi orang-orang diluar sana lebih paham negeri
ini dari pada kita.”
“ kita terjebak dalam perang ideologi bong. Mereka menciptakan hantu
bernama ideologi. masyarakat terlanjur takut dengan liberalisasi, komunis,
maupun globalisasi. Padahal orang-orang yang selama ini dianggap kolot
menanggapi semua itu dengan biasa saja. Mereka hanya menerima pasrah sebagai
manusia, bekerja keras ditengah himpitan hidup, tiada waktu tanpa kegiatan tak berarti. Seikhlas-ikhlasnya
mengabdi pada negeri. Bagiku itulah yang namanya kreatif.” Cuplis mulai
terlihat berapi-api.
“ Itu justru berbanding terbalik dengan orang-orang pandai di negeri ini
Plis. Beberapa dari mereka terlihat
cukup putus asa. Membawa nama Tuhan untuk membangun ideologi baru demi
mewujudkan Negeri utopia. Apa mereka tak sadar, negeri ini hampir tak sanggup lagi berperang melawan ideologi.”
Kataku.
“ kita sudah terlanjur menikmati huruf tanpa makna. Tak ada arti apalagi filosofi. A hanya berarti a, b juga berarti b, demikian
c dan seterusnya. Inilah kosekuensi meninggalkan peradaban. kita bersekolah
tinggi-tinggi dengan bayaran mahal untuk apa? Bukankah Untuk memahami Bong?
Cuplis bertanya.
“ Bener Plis, Tetapi sayang kebanyakan orang pandai di negeri ini minta di
pahami. Aku pun tak tahu Otak mereka sudah teracuni apa. Masa iya rakyat kecil
yang harus memahami mereka.Bahasa dan pola pikirnya saja berbeda. Kalau tak
paham mereka mulai mengancam, bahkan akan meninggalkan negeri ini. Padahal
rakyat kecil tak tahu apa-apa, apalagi negeri ini. Harusnya yang dimusuhi adalah para penjahat
berkerah yang duduk berkuasa itu. “
“ Ibarat anak kecil disuruh memahami
orang tua, kan lucu”. Kata Cuplis sambil tertawa.
“ Negeri ini memang aneh.
Orang-orang yang katanya pandai di giring kedalam sebuah ideologi. Terjebak dan
menjadi ketergantungan. Sampai saatnya menjadi sebuah ketakutan. Sementara
masyarakat kecil yang katanya kolot. Yang tak tahu liberalisasi, komunis atau
apalah itu. Pikirannya begitu jernih dan damai.
Bagi mereka BBM naik, sembako mahal, korupsi, dan lain-lain hanya
sebatas layar kaca. Mereka tetap bekerja
keras banting tulang supaya bisa makan, bisa sekolah, bisa dan bisa apa saja.”
kataku sembari menarik nafas panjang.
“ Sekarang orang-orang yang selalu minta dipahami bukanlah siapa-siapa. Mereka hanya orang-orang
yang hidup dari belas kasihan rakyat
kecil. Label pengemis berdasi pun layak disematkan. “ Jadi apa yang
bisa kita berikan untuk negeri Ini Bong?”
“Aku hanya mahluk asing Plis Jadi tak tahu. “
Bel berbunyi keras, kami bergegas masuk kelas. Meninggalkan sisa kopi, abu
rokok dan remah-remah omong kosong.

No comments:
Post a Comment