Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Friday, 5 August 2016

KIDUNG AKSARA

Februari 2016
D.w.D

Seperti pagi biasanya, aku selalu menyempatkan diri meminum kopi di kedai belakang kampus. Bagi segelintir manusia,  memperoleh kesempatan belajar disini adalah anugerah. Tetapi bagi sebagian besarnya, kuliah adalah mencari masalah. Itu kataku mungkin  lain lagi  kata orang. Dan  Biasanya  aku selalu memperdebatkannya dengan Si Cuplis. 
Aku dan Cuplis adalah bagian kecil dari komunitas besar mahluk asing di negeri ini. Tak tahu kanan atau kiri apalagi depan belakang. Jadi harus bagaimana? Menjadi mahluk asing ditanah sendiri adalah sebuah kekonyolan. Aksara saja aku tak tahu.  Bagaimana aku  bisa membaca,  apalagi bertutur. Tetapi  inilah kosekuensi sebuah peradaban. jika terlarut maka kita pasti hanyut.
“ Otakmu berkutat dengan aksara  bong?” kata Cuplis sembari menepuk pundakku. Ia berjalan kedepan, menarik bangku dan duduk. Aku hanya mengangguk sembari meneguk kopi.
“Ini adalah sebagian besar masalah di negeri ini Plis, mana mungkin bisa lepas begitu saja dari otakku.”
“Memang kamu siapa? Presiden? Menteri ? anggota Dewan? Mereka saja mungkin tak memikirkan” jawab cuplis dengan sinis.
“ Tetapi setidaknya aku tak berpikir seperti mereka”  jawabku dengan enteng
“ apa yang kau dapat dari proses berpikirmu? “ Cuplis kembali bertanya.
“ Bayangkan Plis ribuan manusia di negeri ini tak mengerti aksara. Ha na ca ra ka, pallawa apalagi sansekerta. Padahal itu adalah kunci peradaban. itu adalah sumber kearifan. Dimana manusia memanusiakan manusia”.
“ Apa hubungannya dengan sekarang Bong?” itu adalah hal yang dianggap kolot” Cuplis menggeser tempat duduknya. Ia mulai kelihatan serius.
“ Itulah kejamnya perang ideologi  Plis. Mereka yang berbudi luhur dianggap kolot. Bahasa daerah pun dianggap ketinggalan zaman. Padahal dari mereka kita bisa melihat komunikasi secara utuh dan bulat. Ada tata cara, etika, rasa dan makna.” jawabku
“ Sekarang mungkin yang tersisa tinggal  rasa Bong, itulah mengapa bicara kasar dan kotor pada orang tua hal yang tabu. Semua harus dengan rasa hormat. Tidak seperti budaya barat yang berbicara seenaknya” Cuplis menimpal.
“ Tetapi kita semua juga mulai ikut-ikutan”. Jawabku sambil tertawa.
“Jika hanya itu dampaknya,  bukankah itu masalah kecil Bong?”
“ kamu lupa Plis peradaban  kita  berserakan di luar negeri. Baik berupa manusia, tulisan kuno bahkan budaya. Dengan semua  itu mereka membuat sebuah peradaban yang sangat maju. Kita hanya menerima sebagaian kecilnya saja, Itupun dengan balutan teori dan bahasa baru. Parahnya lagi orang-orang diluar sana lebih paham negeri ini dari pada kita.”
“ kita terjebak dalam perang ideologi bong. Mereka menciptakan hantu bernama ideologi. masyarakat terlanjur takut dengan liberalisasi, komunis, maupun globalisasi. Padahal orang-orang yang selama ini dianggap kolot menanggapi semua itu dengan biasa saja. Mereka hanya menerima pasrah sebagai manusia, bekerja keras ditengah himpitan hidup, tiada waktu  tanpa kegiatan tak berarti. Seikhlas-ikhlasnya mengabdi pada negeri. Bagiku itulah yang namanya kreatif.” Cuplis mulai terlihat berapi-api.
“ Itu justru berbanding terbalik dengan orang-orang pandai di negeri ini Plis. Beberapa dari mereka  terlihat cukup putus asa. Membawa nama Tuhan untuk membangun ideologi baru demi mewujudkan Negeri utopia. Apa mereka tak sadar, negeri ini hampir  tak sanggup lagi berperang melawan ideologi.” Kataku.
“ kita sudah terlanjur menikmati huruf tanpa makna.  Tak ada arti apalagi filosofi.  A hanya berarti a, b juga berarti b, demikian c dan seterusnya. Inilah kosekuensi meninggalkan peradaban. kita bersekolah tinggi-tinggi dengan bayaran mahal untuk apa? Bukankah Untuk memahami Bong? Cuplis bertanya.
“ Bener Plis, Tetapi sayang kebanyakan orang pandai di negeri ini minta di pahami. Aku pun tak tahu Otak mereka sudah teracuni apa. Masa iya rakyat kecil yang harus memahami mereka.Bahasa dan pola pikirnya saja berbeda. Kalau tak paham mereka mulai mengancam, bahkan akan meninggalkan negeri ini. Padahal rakyat kecil tak tahu apa-apa, apalagi negeri ini.  Harusnya yang dimusuhi adalah para penjahat berkerah yang duduk berkuasa itu. “
“  Ibarat anak kecil disuruh memahami orang tua, kan lucu”. Kata Cuplis sambil tertawa.
“ Negeri ini  memang aneh. Orang-orang yang katanya pandai di giring kedalam sebuah ideologi. Terjebak dan menjadi ketergantungan. Sampai saatnya menjadi sebuah ketakutan. Sementara masyarakat kecil yang katanya kolot. Yang tak tahu liberalisasi, komunis atau apalah itu. Pikirannya begitu jernih dan damai.  Bagi mereka BBM naik, sembako mahal, korupsi, dan lain-lain hanya sebatas layar kaca. Mereka tetap  bekerja keras banting tulang supaya bisa makan, bisa sekolah, bisa dan bisa apa saja.” kataku sembari menarik nafas panjang.
“ Sekarang orang-orang yang selalu minta dipahami  bukanlah siapa-siapa. Mereka hanya orang-orang yang  hidup dari belas kasihan rakyat kecil.  Label pengemis  berdasi pun layak disematkan. “ Jadi apa yang bisa kita berikan untuk negeri Ini Bong?”
“Aku hanya mahluk asing Plis Jadi tak tahu. “
Bel berbunyi keras, kami bergegas masuk kelas. Meninggalkan sisa kopi, abu rokok dan remah-remah omong kosong.




No comments:

Post a Comment