D.w.D
(Blog
post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen #mycupofstory
diselenggarakan oleh GIORDANO dan nulisbuku.com)
Lembah
rimba candi tenggelam dalam secangkir kopi. Meski tanpa gula, tetap saja ia
bisa dinikmati. Aromanya bercampur dengan bau tanah, rumput , dan pepohonan.
Menghirupnya seperti melebur pada punggung-punggung bukit barisan yang memagar perkampungan kecil dikaki gunung
dempo. Jangan berbincang tentang rindu.
Langit malam sedang kosong, bintang saja enggan keluar apalagi hatiku.
Entah
kenapa aku selalu kembali kesini. Kesebuah gubuk panggung beratapkan daun rumbia tempat tinggal nenek
Sati. Perempuan uzur yang mengabdikan sisa hidupnya di lembah ini. Di teras
rumah dengan penerangan seadanya, angin lembah menerobos masuk sampai ketulang.
Beberapakali aku mengusap tangan sambil meneguk kopi. Tak terbayangkan bagaimana hidup
sendiri di tempat seperti ini. Jauh dari tetangga apalagi sanak saudara. “Gula
saja tak terbeli”.
Dari
balik pintu nenek Sati tergopoh-gopoh membawa sepiring ubi rebus. Remang cahaya tak bisa menutupi jika
wajah keriputnya kelihatan sumringah. Dia terlihat begitu sehat, lebih sehat
dari orang seusianya.
“Ini
ada sedikit makanan untuk mengganjal perut,” ayo silakan dimakan.” Nenek Sati
meletakkannya di atas meja. Ia lalu duduk dibangku seberang meja. Dari dalam
rumah terdengar sayup-sayup lantunan ayat suci. Sepertinya Arum, anak bungsu nenek Sati sedang mengaji.
“ Wah
ubinya harum sekali, pasti rasanya enak.”
“ Makanya
ayo dicoba.” Nenek sati mengambil
sepotong dan menguyahnya. Terlihat
begitu enak, siapa saja yang melihatnya pasti ingin ikut mecicipi ubi rebus
buatannya. Tak menunggu lama akupun ikut mencicipinya.
“ Nggak
nyangka ya, setelah kejadian itu nenek bisa bertemu aden lagi.” Kata nenek
sati dengan logat bahasa jawa yang masih sangat kental.
Sontak
aku berhenti menguyah. Ingatan-ingatan yang reda bersama pahit rasa kopi mulai
berkecamuk dalam pikiran. Kusandarkan bahuku pada pada kursi dan menarik nafas
panjang.
“Ah..
panggil saja Dimas jangan panggil aden.”
jawabku sambil tersenyum.
“Maaf
ya Den, eh nak dimas.”
“Maaf
kenapa?”
“Soal
kata-kata nenek tadi tentang kejadian itu.”
“ Kok
minta maaf, harusnya saya yang berterimakasih. Kalau nggak ada nenek mungkin saya sudah jadi santapan binatang buas
di luar sana.” jawabku sambil tertawa.
Nenek
Sati hanya tersenyum. Sepertinya ia paham betul
dengan kondisiku. Kalimat-kalimat yang keluar hanya sebatas hiburan
belaka. Mulut bisa tertawa, tetapi jauh didalam sana tak seorangpun bisa tahu.
“Sepertinya
nenek sudah mulai mengantuk, sudah
waktunya istirahat.”
Aku
hanya mengangguk sembari tersenyum. Nenek sati beranjak dari tempat duduknya.
Ia melangkah dengan pelan memasuki
ruangan. Beberapakali ia menguap. Tubuh rentanya sudah tak kuat lagi
meski jam menunjukan masih jauh dari tengah malam. Keadaan kembali sunyi. Tak terdengar lagi
suara Arum mengaji. Mungkin ia juga sudah terlelap tidur. Nenek Sati memang
baik hati. Ia meninggalkan termos berisi
air panas dan setoples bubuk
kopi di meja depan. Mungkin sengaja di siapkan sebagai bekal
malam untukku. Ia sudah menduga jika aku akan tidur larut malam ini.
Siluet
hutan terasa memanggil didepan sana. Mengajakku pulang pada rasa yang sama. Pada rindu yang tak pernah terucapkan. Pada rasa kopi
yang sama tetapi waktu yang berbeda. Hingga rasa sesak yang timbul di dada
tanpa ada air yang keluar dari mata.
Bertahun-tahun
yang lalu, di hari yang hampir sama
seperti malam ini. Kami mewakili sebuah perusahaan nirlaba yang bergerak di
bidang pelestarian hutan dan satwa bekerja sama dengan TNI angkatan darat
melakukan sebuah ekspedisi. Ekspedisi danau merah begitulah kira-kira namanya.
Misi kami adalah membuka akses jalan menuju danau dan memetakannya. Rombongan kami
berjumlah 20 orang . 12 dari TNI, 5 dari dari tim SAR, 2 dari perusahaan kami
dan mang ujang seorang warga yang
diminta sebagai penunjuk jalan. Aku dan
Tria adalah dua orang yang mewakili perusahaan.
Menurut
mang ujang, perjalanan kami dapat di
tempuh paling lambat dua hari. Sebab
terletak dibarisan bukit diatara pagar alam dan Bengkulu. Kami mempersiapkan
segala sesuatu di tempat juru kunci.
Seseorang yang dianggap dituakan di kampung. Ia berpesan kepada kami agar
jangan berkata sembarangan. Apalagi menyinggung soal mbah atau nenek. Ya “
mbah” sebutan untuk Panthera tigris sumatrae . sebutan khas warga sekitar pada seekor harimau sumatera. Itu adalah hal
tabu diucapkan apalagi saat masuk hutan.
Kami
berangkat pagi hari, sebab menurut
perkiraan mang ujang kami akan
sampai di sore berikutnya. Dengan pertimbangan bisa langsung istirahat. Aku
menggendong sebuah carrier berisi perlengkapan
lengkap. Sementara Tria menggendong tas kecil dan menenteng sebuah kamera. Tim terbagi tiga, di depan sebagai pembuka
jalan, ditengah ada kami dan dibelakang sebagai penjaga. Ternyata medan tak semudah yang dibayangkan.
Kami harus naik turun bukit bahkan naik tebing. Akhirya kami tiba di sebuah
aliran sungai yang cukup jernih. “ Yang mau membersikan diri silakan, hari
sudah mau gelap. Kita akan bermalan di
tanah lapang di depan sana.” Kata pemimpin ekspedisi sambil membasuh muka.
Aku
dan Tria ikut ambil bagian. Air gunung
terasa mengalir kedalam menembus kulit. Wajah Tria kelihatan agak pucat. Mungkin ia
kelelahan.
“Baru
pertamakali jalan sejauh ini? “ tanyaku.
“Heem.”
Jawab Tria sambil bermain-main air.
“Nggak
takut? “
“Takut
apa? Nenek, Mbah, atau ha....”
Buru-buru
telpak tangaku menutup mulut Tria. Kami saling berpandangan aku memandang tajam
dan menggelengkan kepala. Tria mengangguk paham. Pelan- pelan aku melepaskan
tangan dari mulutnya. Tria tertawa
bahkan sampai terbahak-bahak.
“Sudah-sudah
ayo kita gabung dengan yang lainya.”
Kami
berjalan menuju ke tanah lapang, tenda-tenda sudah didirikan, api unggun pun sudah di buat. Beberapa wanita terlihat menyiapkan makanan. Tria segera
bergabung dengan para wanita tersebut.
Sementara aku mendekat ke api, tempat dimana bapak-bapak berkumpul. Waktu
berjalan cukup singkat. Makanan sudah siap dan kami di perintahkan makan.
Setelah makan kami ngobrol seadanya di dekat api. Mang ujang terlihat paling
vokal. Ia sangat pandai melucu. Beberapa orang tertawa sampai keluar air mata.
Satu-persatu dari kami masuk ketenda
untuk istirahat. Tak kuat rasanya meski hanya sekedar membuka mata.
Hari
berikutnya perjalanan tak begitu berat. Selain mungkin sudah mulai terbiasa, medan yang kami lalui
juga tak cukup menguras tenaga. Tepat sebelum matahari tenggelam kami akhirnya sampai
di tempat tujuan. Sebuah danau berwarna merah membentang luas di hadapan kami.
Sebuah harga yang cukup untuk membayar
semua keletihan yang dirasakan.
Kami
segera mempersiapkan segala sesuatu untuk bermalam. Berbeda dengan malam
kemarin, tak ada lagi obrolan di dekat
api unggun. semuanya pergi istirahat.
Hanya aku dan Tria yang tersisa di dekat api.
“Mendekat
ke danau yuk?” Ajak Tria
Aku
masih diam saja. tanganku meraih beberapa kayu kecil dan mendorongnya ke api. Bunga-bunga api meletik dan membumbung
keatas.
“Dimas!”
Tria menggoyangkan tubuhku.
“Hem.”
“Ayook!”
Akhirnya
goyah juga pendirianku. Entah dorongan
apa yang mengajak tubuhku mengikuti Tria. Ia berjalan semaunya menuju danau.
Malam begitu terang meski bulan belum
purnama. Tepat dipinggir danau kami berhenti. Kebetulan ada sebuah pohon tua
yang rebah. Aku langsung duduk diatasnya. Tria mematung di depan danau. Ia memandang takjub ke arah
air yang menggenang. Langit terasa menjadi dua. Satu diatas dan satu didalam
danau. Seperti pintu yang menghubungkan keduanya. Menyentuh air berasa seperti
menyentuh langit. Sementara aku sejak tadi hanya takjub memandang Tria.
“Oh
ia Dim, ini ada kopi.” Tria menyodorkan termos berisi kopi kearahku.
Tanpa
pikir panjang aku meminumnya. Mataku terbelalak dan terasa berat untuk menelan.
Ada sesuatu yang aneh “ Pahit, Cuih” aku meludah beberapakali. Tria terlihat
tertawa memegangi perutnya.
“Maaf lupa bilang
kalau kopi itu tanpa gula.”
Aku
hanya menggelengkan kepala. Dari sisa-sisa di tenggorokan, pelan-pelan
aku dapat menikmati rasa kopi yang sebenarnya. Menikmati kebersamaan
bersama Tria.
“Aku
berkhayal punya rumah di dekat danau seperti ini Dim.” Jauh dari kebisingan,
dari asap pabrik yang memuakkan, dari gadget dan dari Televisi yang acaranya mulai nggak penting. Tetapi..”
“Tetapi
apa?”
“Harus
tanpa si mbah di sini, tanpa....”
Sontak
aku mendekap mulut Tria. Kami berdiri nyaris tanpa jarak saling berpandangan. Belum pernah kami
sedekat ini. Tubuhku bergetar, kakiku terasa lemas. Tria memandang dalam
kearahku. Aku mengisyaratkan diam.
Wajahku mendekat kewajahnya. Ia
memejamkan mata. Semua jadi sunyi
. “Ayo kita pergi tetapi pelan-pelan.”
Kataku sambil berbisik
Tria membuka matanya. Ia terlihat kebingungan.
Hanya isyarat anggukan yang kuberikan. Tanganku refleks memegang tangannya.
Belum sempat melangkah.” Krak” sebuah ranting terpijak. Sekuat tenaga kami
berlari. Sesosok banyangan hitam besar
berkaki empat mengejar . kami berlari dengan kalap. Tak tahu berapa banyak
ranting dan pohon kecil yang kami tabrak. Masuk kedalam hutan bahkan jauh
kedalam. Keadaan yang gelap menjadikan
kami buta arah dan jadi tak terkendali.
“Brak”
sesuatu yang besar tertabrak. Kami terlempar. Aku memegang dada dengan kesakitan.
Dalam gelap kulihat Tria mundur ketakutan sambil memegang termos. Sinar bulan
yang menerobos masuk lewat celah daun dipantulkan oleh dua pasang mata tepat di
hadapanku. “ Grrrrrr” terdengar suara auman kecil. Ia siap menerkam.
“Bug”
tangan Tria reflek melempar termos kearah harimau tersebut. Pandangannya
teralihkan, ia menerjang kearah Tria. Ia
mengelak dan mundur berapa langkah. Tria tak sadar jika tanah yang dipijak
adalah tepian. Tubuhnya jatuh kebelakang. Terdengar teriakan. Serta merta aku mengejar.
Tubuhku ikut terjerembab, jatuh,
menggelinding, melucur deras kebawah. Aku hanya bisa
mendengar suara benturan dan gesekan tubuhku. Semua gelap bahkan sangat
gelap.
“Nek
Sati! Nek Sati!”
Aku
terbangun. Keringat mengucur deras
kesekujur tubuh. Membasahi setiap
jengkal kain yang kupakai, kuatur
nafasku secara perlahan. Pelan-pelan tubuhku di terpa sinar matahari yang hampir sepenggal.
Mataku belum terbuka sempurna. Di bawah ramai orang. Seorang pria separuh baya membopong Arum dengan baju
basah kuyup. Aku langsung kebawah.
Membopong Arum dan membawanya
keatas. Nenek Sati yang akan turun kembali kedalam. Buru-buru ia menyiapkan bantal dan merapikan dipan. Aku langsung merebahkan
Arum di dipan sederhana tersebut. Dengan hati-hati nenek Sati mengelap sisa
busa di mulut anaknya. Orang- orang mulai mengelilingi dipan.
“Abis
ngapo Arum ni Wak? “ tanya Nenek Sati .
“Dio
tadi maen di sungai, terus kumat untung bae dak anyut”. Kata pria separuh baya.
“Mokaseh
wak e.”
“Samo-samo
nek, kami jugo nak beranjak pegi, ado gawe”
Orang-orang
berpamitan pergi dengan Nenek Sati. Aku dari tadi hanya terpaku. Melihat betapa sayangnya melihat seorang Ibu
terhadap anaknya. Seorang gadis yang seharusnya sudah berkeluarga. Tetapi tak
kunjung menikah karena tak ada perjaka yang mau meminangnya. Ia
dianugerahi sebuah cobaan bernama epilepsi.
Sebuah penyakit yang paling dihindari dalam hal pernikahan.
“ Itu
ada kopi manis didekat meja makan
sekalian bawa kedepan, nenek mau mengganti baju Arum.”
Meski
ragu akhirnya aku bawa juga kopi itu.
harum kopi begitu menggoda. Tetapi kenapa harus manis. Apa mungkin nenek
Sati sengaja membeli gula. Tetapi mana mungkin, gula yang kubawa saja tak
pernah dibukanya.
“Kenapa?
Kau ragu meminumnya? Tiba-tiba nenek Sati menyembul dari balik pintu.
“Nggak
nek, hanya sudah tak terbiasa”.
“ Kamu
kira nenek tidak mampu untuk beli gula?”
Kamu kira nenek nggak tahu alasan kamu setiap tahun kesini dihari dan di
tanggal yang sama.”
Aku
hanya menggelengkan kepala dan mengankat
bahu. “ Duduk”. Nenek Sati menyuruhku seperti seorang ibu yang ingin memberi
nasihat pada anaknya.
“Tiga
tahun yang lalu, menjelang siang seperti ini. Aku dan Arum menemukan tubuhmu di tepi jurang di seberang
desa. Hari itu pula terdengar kabar dari para pencari burung bahwa ada seorang
gadis hilang di tengah lembah yang sampai
sekarang jasadnya saja tak tahu dimana
rimbanya.”
Aku
hanya diam saja. tak menyangka kata-kata itu
melucur deras dari mulut nenek Sati. Rasanya seperti disambar petir di
hari yang panas disiang hari bolong.
“
Nenek tak tahu apa yang ada dalam isi kepalamu
sekarang. Tak tahu juga tentang
hubunganmu dengan gadis itu. Tentang kopi pahit yang kau nikmati. Tetapi yang
jelas kita adalah penikmat kopi yang
berbeda”.
“Beda?”
“
Ya, bagi nenek kopi pahit seperti ingatan. Begitu kuat bahkan sangat kuat.
Bahkan bisa menghubungkan dua dunia yang berbeda. Memperkaya rasa di dada,
membuat bertahan hidup demi Arum dan
memunculkan senyum saat mengingat masa-masa pelik bersama almarhum ayahnya.
Saat-saat dimana kami masih muda. Masa dimana pada waktu itu bahkan kami tak mampu membeli gula.”
Nenek
Sati berkata sambil tersenyum lebar.
Kurebahkan tubuhku di kursi.
Menarik nafas panjang dan memandang
kosong sekenannya. Sepertinya aku kehilangan kata-kata.
“Tak
perlu rasanya kau menikmati kopi dengan cara seperti itu. Sebuah ingatan putus
asa. Menjelma bagaikan harimau yang kapan saja siap menerkam hatimu. Engkau
masih muda, banyak hal diluar sana yang
bisa kau dapatkan.”
Nenek
Sati beranjak dari tempat duduknya. Dia pergi tanpa basa-basi. Aku memandang
dengan paham. Mulai bercermin pada tubuh renta yang sangat kuat jiwanya. Bahkan
membuatku malu. Dalam kegamangan kuputuskan
untuk berburu harimau dalam diriku. Mengikuti jejak kakinya sembari
menikmati rasa kopi yamg sama. Tak tahu
sampai kapan. Mungkin sampai aku bisa mengatakan isi hatiku pada gadis itu.
sampai rinduku berubah jadi doa.

No comments:
Post a Comment