Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Wednesday, 10 August 2016

Kopi Harimau

D.w.D
(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen #mycupofstory diselenggarakan oleh GIORDANO dan nulisbuku.com)

Lembah rimba candi tenggelam dalam secangkir kopi. Meski tanpa gula, tetap saja ia bisa dinikmati. Aromanya bercampur dengan bau tanah, rumput , dan pepohonan. Menghirupnya  seperti melebur pada  punggung-punggung bukit barisan yang  memagar perkampungan kecil dikaki gunung dempo. Jangan berbincang tentang rindu.  Langit malam sedang kosong, bintang saja enggan keluar apalagi hatiku.
Entah kenapa aku selalu kembali kesini. Kesebuah gubuk panggung  beratapkan daun rumbia tempat tinggal nenek Sati. Perempuan uzur yang mengabdikan sisa hidupnya di lembah ini. Di teras rumah dengan penerangan seadanya, angin lembah menerobos masuk sampai ketulang. Beberapakali aku mengusap tangan sambil  meneguk kopi. Tak terbayangkan bagaimana hidup sendiri di tempat seperti ini. Jauh dari tetangga apalagi sanak saudara. “Gula saja tak terbeli”.
Dari balik pintu nenek Sati tergopoh-gopoh membawa sepiring ubi rebus.  Remang cahaya tak bisa menutupi  jika  wajah keriputnya kelihatan sumringah. Dia terlihat begitu sehat, lebih sehat dari orang seusianya.
“Ini ada sedikit makanan untuk mengganjal perut,” ayo silakan dimakan.” Nenek Sati meletakkannya di atas meja. Ia lalu duduk dibangku seberang meja. Dari dalam rumah terdengar sayup-sayup lantunan ayat suci. Sepertinya  Arum, anak bungsu nenek Sati sedang mengaji.
“ Wah ubinya harum sekali, pasti rasanya enak.” 
“ Makanya ayo dicoba.”  Nenek sati mengambil sepotong dan menguyahnya.  Terlihat begitu enak, siapa saja yang melihatnya pasti ingin ikut mecicipi ubi rebus buatannya. Tak menunggu lama akupun ikut mencicipinya.
“ Nggak nyangka ya,  setelah kejadian itu  nenek bisa bertemu aden lagi.” Kata nenek sati dengan logat bahasa jawa yang masih sangat kental.
Sontak aku berhenti menguyah. Ingatan-ingatan yang reda bersama pahit rasa kopi mulai berkecamuk dalam pikiran. Kusandarkan bahuku pada pada kursi dan menarik nafas panjang.
“Ah.. panggil saja Dimas jangan panggil aden.”  jawabku sambil tersenyum.

“Maaf ya Den, eh nak dimas.”
“Maaf kenapa?”
“Soal kata-kata nenek tadi tentang kejadian itu.”
“ Kok minta maaf, harusnya saya yang berterimakasih. Kalau nggak ada nenek  mungkin saya sudah jadi santapan binatang buas di luar sana.” jawabku sambil tertawa.
Nenek Sati hanya tersenyum. Sepertinya ia paham betul  dengan kondisiku. Kalimat-kalimat yang keluar hanya sebatas hiburan belaka. Mulut bisa tertawa, tetapi jauh didalam sana tak seorangpun bisa tahu.
“Sepertinya nenek sudah mulai mengantuk,  sudah waktunya istirahat.”
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum. Nenek sati beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah  dengan pelan memasuki ruangan. Beberapakali ia menguap. Tubuh rentanya sudah  tak kuat lagi  meski  jam menunjukan  masih jauh dari tengah malam.  Keadaan kembali sunyi. Tak terdengar lagi suara Arum mengaji. Mungkin ia juga sudah terlelap tidur. Nenek Sati memang baik hati. Ia meninggalkan termos berisi  air panas dan  setoples bubuk kopi  di meja depan.  Mungkin sengaja di siapkan sebagai bekal malam untukku. Ia sudah menduga jika aku akan tidur larut malam ini.
Siluet hutan terasa memanggil didepan sana. Mengajakku pulang  pada rasa yang sama. Pada rindu  yang tak pernah terucapkan. Pada rasa kopi yang sama tetapi waktu yang berbeda. Hingga rasa sesak yang timbul di dada tanpa ada air yang keluar dari mata.
Bertahun-tahun  yang lalu, di hari yang hampir sama seperti malam ini. Kami mewakili sebuah perusahaan nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian hutan dan satwa bekerja sama dengan TNI angkatan darat melakukan sebuah ekspedisi. Ekspedisi danau merah begitulah kira-kira namanya. Misi kami adalah membuka akses jalan menuju  danau dan memetakannya. Rombongan kami berjumlah 20 orang . 12 dari TNI, 5 dari dari tim SAR, 2 dari perusahaan kami dan mang ujang seorang  warga yang diminta  sebagai penunjuk jalan. Aku dan Tria adalah dua orang yang mewakili perusahaan.
Menurut mang ujang,  perjalanan kami dapat di tempuh paling lambat dua hari.  Sebab terletak dibarisan bukit diatara pagar alam dan Bengkulu. Kami mempersiapkan segala sesuatu di  tempat juru kunci. Seseorang yang dianggap dituakan di kampung. Ia berpesan kepada kami agar jangan berkata sembarangan. Apalagi menyinggung soal mbah atau nenek. Ya “ mbah” sebutan untuk  Panthera tigris sumatrae . sebutan khas warga sekitar  pada seekor harimau sumatera. Itu adalah hal tabu diucapkan apalagi  saat masuk hutan.
Kami berangkat pagi hari, sebab menurut  perkiraan mang ujang kami  akan sampai di sore berikutnya. Dengan pertimbangan bisa langsung istirahat. Aku menggendong  sebuah carrier  berisi perlengkapan lengkap. Sementara Tria menggendong tas kecil dan menenteng sebuah kamera.  Tim terbagi tiga, di depan sebagai pembuka jalan, ditengah ada kami dan dibelakang sebagai penjaga.  Ternyata medan tak semudah yang dibayangkan. Kami harus naik turun bukit bahkan naik tebing. Akhirya kami tiba di sebuah aliran sungai yang cukup jernih. “ Yang mau membersikan diri silakan, hari sudah mau gelap. Kita akan  bermalan di tanah lapang di depan sana.” Kata pemimpin ekspedisi sambil membasuh muka.
Aku dan Tria ikut ambil bagian.  Air gunung terasa mengalir kedalam menembus kulit.  Wajah Tria kelihatan agak pucat. Mungkin ia kelelahan.
“Baru pertamakali jalan sejauh ini? “ tanyaku.
“Heem.” Jawab Tria sambil  bermain-main air.
“Nggak takut? “
“Takut apa? Nenek, Mbah, atau ha....”
Buru-buru telpak tangaku menutup mulut Tria. Kami saling berpandangan aku memandang tajam dan menggelengkan kepala. Tria mengangguk paham. Pelan- pelan aku melepaskan tangan dari mulutnya.  Tria tertawa bahkan sampai terbahak-bahak.
“Sudah-sudah ayo kita gabung dengan yang lainya.”
Kami berjalan menuju ke tanah lapang, tenda-tenda sudah didirikan, api unggun  pun sudah di buat. Beberapa wanita  terlihat menyiapkan makanan. Tria segera bergabung dengan  para wanita tersebut. Sementara aku mendekat ke api, tempat dimana bapak-bapak berkumpul. Waktu berjalan cukup singkat. Makanan sudah siap dan kami di perintahkan makan. Setelah makan kami ngobrol seadanya di dekat api. Mang ujang terlihat paling vokal. Ia sangat pandai melucu. Beberapa orang tertawa sampai keluar air mata. Satu-persatu  dari kami masuk ketenda untuk istirahat. Tak kuat  rasanya  meski hanya sekedar membuka mata.
Hari berikutnya perjalanan tak begitu berat. Selain mungkin  sudah mulai terbiasa, medan yang kami lalui juga tak cukup menguras tenaga. Tepat sebelum matahari tenggelam kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah danau berwarna merah membentang luas di hadapan kami. Sebuah harga  yang cukup untuk membayar semua keletihan yang dirasakan.
Kami segera mempersiapkan segala sesuatu untuk bermalam. Berbeda dengan malam kemarin, tak ada lagi obrolan  di dekat api unggun.  semuanya pergi istirahat. Hanya aku dan Tria yang tersisa di dekat api.
“Mendekat ke danau yuk?” Ajak Tria
Aku masih diam saja. tanganku meraih beberapa kayu kecil  dan mendorongnya ke api.  Bunga-bunga api meletik dan membumbung keatas.
“Dimas!” Tria menggoyangkan tubuhku.
“Hem.”
“Ayook!”
Akhirnya goyah juga pendirianku. Entah  dorongan apa yang mengajak tubuhku mengikuti Tria. Ia berjalan semaunya menuju danau. Malam begitu terang meski  bulan belum purnama. Tepat dipinggir danau kami berhenti. Kebetulan ada sebuah pohon tua yang rebah. Aku langsung duduk diatasnya. Tria mematung  di depan danau. Ia memandang takjub ke arah air yang menggenang. Langit terasa menjadi dua. Satu diatas dan satu didalam danau. Seperti pintu yang menghubungkan keduanya. Menyentuh air berasa seperti menyentuh langit. Sementara aku sejak tadi hanya takjub memandang Tria.
“Oh ia Dim, ini ada kopi.” Tria menyodorkan termos berisi kopi kearahku.
Tanpa pikir panjang aku meminumnya. Mataku terbelalak dan terasa berat untuk menelan. Ada sesuatu yang aneh “ Pahit, Cuih” aku meludah beberapakali. Tria terlihat tertawa memegangi perutnya.
“Maaf  lupa bilang  kalau kopi itu tanpa gula.”
Aku hanya menggelengkan kepala. Dari sisa-sisa di tenggorokan,  pelan-pelan  aku dapat menikmati rasa kopi yang sebenarnya. Menikmati kebersamaan bersama Tria.
“Aku berkhayal punya rumah di dekat danau seperti ini Dim.” Jauh dari kebisingan, dari asap pabrik yang memuakkan, dari  gadget  dan dari  Televisi yang acaranya mulai  nggak penting. Tetapi..”
“Tetapi apa?”
“Harus tanpa si mbah di sini, tanpa....”
Sontak aku mendekap mulut Tria. Kami berdiri nyaris tanpa jarak  saling berpandangan. Belum pernah kami sedekat ini. Tubuhku bergetar, kakiku terasa lemas. Tria memandang dalam kearahku. Aku mengisyaratkan diam.  Wajahku  mendekat kewajahnya. Ia memejamkan mata.  Semua jadi sunyi
.           “Ayo kita pergi tetapi pelan-pelan.” Kataku sambil berbisik
 Tria membuka matanya. Ia terlihat kebingungan. Hanya isyarat anggukan yang kuberikan. Tanganku refleks memegang tangannya. Belum sempat melangkah.” Krak” sebuah ranting terpijak. Sekuat tenaga kami berlari. Sesosok banyangan hitam  besar berkaki empat mengejar . kami berlari dengan kalap. Tak tahu berapa banyak ranting dan pohon kecil yang kami tabrak. Masuk kedalam hutan bahkan jauh kedalam. Keadaan yang gelap  menjadikan kami buta arah  dan jadi tak terkendali.
“Brak” sesuatu yang besar tertabrak. Kami terlempar. Aku memegang dada dengan kesakitan. Dalam gelap kulihat Tria mundur ketakutan sambil memegang termos. Sinar bulan yang menerobos masuk lewat celah daun dipantulkan oleh dua pasang mata tepat di hadapanku. “ Grrrrrr” terdengar suara auman kecil. Ia siap menerkam.
“Bug” tangan Tria reflek melempar termos kearah harimau tersebut. Pandangannya teralihkan, ia menerjang  kearah Tria. Ia mengelak dan mundur berapa langkah. Tria tak sadar jika tanah yang dipijak adalah tepian. Tubuhnya jatuh kebelakang. Terdengar  teriakan. Serta merta aku mengejar. Tubuhku  ikut terjerembab, jatuh, menggelinding,  melucur deras kebawah.  Aku hanya bisa  mendengar suara benturan dan gesekan tubuhku. Semua gelap bahkan sangat gelap.
“Nek Sati! Nek Sati!”
Aku terbangun.  Keringat mengucur deras kesekujur tubuh.  Membasahi setiap jengkal kain yang kupakai,  kuatur nafasku secara perlahan. Pelan-pelan tubuhku  di terpa sinar matahari yang hampir sepenggal. Mataku belum terbuka sempurna. Di bawah ramai orang. Seorang  pria separuh baya membopong Arum dengan baju basah kuyup.  Aku langsung kebawah. Membopong  Arum dan membawanya keatas.  Nenek Sati  yang akan turun kembali kedalam.  Buru-buru ia menyiapkan bantal  dan merapikan dipan. Aku langsung merebahkan Arum di dipan sederhana tersebut. Dengan hati-hati nenek Sati mengelap sisa busa di mulut anaknya. Orang- orang mulai mengelilingi dipan.
“Abis ngapo Arum ni Wak? “ tanya Nenek Sati .
“Dio tadi maen di sungai, terus kumat untung bae dak anyut”. Kata pria separuh baya.
“Mokaseh wak e.”
“Samo-samo nek, kami jugo nak beranjak pegi, ado gawe” 
Orang-orang berpamitan pergi dengan Nenek Sati. Aku dari tadi hanya terpaku.  Melihat betapa sayangnya melihat seorang Ibu terhadap anaknya. Seorang gadis yang seharusnya sudah berkeluarga. Tetapi tak kunjung menikah karena tak ada perjaka yang mau meminangnya. Ia dianugerahi  sebuah cobaan  bernama epilepsi. Sebuah penyakit yang paling dihindari dalam hal pernikahan.
“ Itu ada kopi manis didekat meja makan  sekalian bawa kedepan, nenek mau mengganti baju Arum.”
Meski ragu akhirnya aku bawa juga kopi itu.  harum kopi begitu menggoda. Tetapi kenapa harus manis. Apa mungkin nenek Sati sengaja membeli gula. Tetapi mana mungkin, gula yang kubawa saja tak pernah dibukanya.
“Kenapa? Kau ragu meminumnya? Tiba-tiba nenek Sati menyembul dari balik pintu.
“Nggak nek, hanya sudah tak terbiasa”.
“ Kamu kira nenek tidak mampu  untuk beli gula?” Kamu kira nenek nggak tahu alasan kamu setiap tahun kesini dihari dan di tanggal yang sama.”
Aku hanya menggelengkan kepala dan  mengankat bahu. “ Duduk”. Nenek Sati menyuruhku seperti seorang ibu yang ingin memberi nasihat pada anaknya.
“Tiga tahun yang lalu, menjelang siang seperti ini. Aku dan Arum  menemukan tubuhmu di tepi jurang di seberang desa. Hari itu pula terdengar kabar dari para pencari burung bahwa ada seorang gadis  hilang di tengah lembah yang sampai sekarang  jasadnya saja tak tahu dimana rimbanya.”
Aku hanya diam saja. tak menyangka kata-kata itu  melucur deras dari mulut nenek Sati. Rasanya seperti disambar petir di hari yang panas disiang hari bolong.
“ Nenek tak tahu apa yang ada dalam  isi kepalamu  sekarang. Tak tahu juga tentang hubunganmu dengan gadis itu. Tentang kopi pahit yang kau nikmati. Tetapi yang jelas  kita adalah penikmat kopi yang berbeda”.
“Beda?”
“ Ya, bagi nenek kopi pahit seperti ingatan. Begitu kuat bahkan sangat kuat. Bahkan bisa menghubungkan dua dunia yang berbeda. Memperkaya rasa di dada, membuat  bertahan hidup demi Arum dan memunculkan senyum saat mengingat masa-masa pelik bersama almarhum ayahnya. Saat-saat dimana kami masih muda. Masa dimana  pada waktu itu bahkan kami  tak mampu membeli gula.”
Nenek Sati berkata sambil tersenyum lebar.  Kurebahkan  tubuhku di kursi. Menarik nafas panjang dan  memandang kosong sekenannya. Sepertinya aku kehilangan kata-kata.
“Tak perlu rasanya kau menikmati kopi dengan cara seperti itu. Sebuah ingatan putus asa. Menjelma bagaikan harimau yang kapan saja siap menerkam hatimu. Engkau masih muda, banyak hal diluar sana yang  bisa  kau dapatkan.”
Nenek Sati beranjak dari tempat duduknya. Dia pergi tanpa basa-basi. Aku memandang dengan paham. Mulai bercermin pada tubuh renta yang sangat kuat jiwanya. Bahkan membuatku malu. Dalam kegamangan kuputuskan  untuk berburu  harimau dalam  diriku. Mengikuti jejak kakinya sembari menikmati  rasa kopi yamg sama. Tak tahu sampai kapan. Mungkin sampai aku bisa mengatakan isi hatiku pada gadis itu. sampai  rinduku berubah jadi doa.




No comments:

Post a Comment