Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Friday, 17 June 2016

Diterik Siang Mencoba Memberi Cahaya Rembulan




Jika ada kesempatan bertanya. “Kenapa harus memeluk matahari?” .Bukankah lebih menyenangkan menikmatinya dari jauh. Saat menjadi rembulan misalnya, atau saat tertutup awan dan menimbulkan hujan. Bukan! Tetapi bukan hujan yang selama ini kau sembunyikan. Hujan yang membuatmu sakit dan membuatmu tanpa suara.
“Belum cukupkah semua itu?”...
Belum cukupkah kau sembunyikan hujan sampai harus memeluk matahari. Lihatlah keluar, Hujan menantikanmu. Hujan yang sebenarnya, mengulang dan membuat tumbuh. Menggugah masa kecilmu yang dulu. Bermain dan terus bermain sampai lupa apa tangis itu.
“ Tahukah?”...
Kau adalah sihir bintang jatuh. Hampir setiap manusia mengharapkanmu.  Menanti  setiap keajaiban yang kau sebarkan. Andai saja bisa memaksa, akan kupindahkan matahari dari pelukmu. Menaruhnya lagi pada tempatnya. Tetapi apa daya, kau terlalu menikmatinya. Sekeras apapun aku memaksa, sekeras itu pula kau menentangnya. Seharusnya kau sadar. Kau hangus, hancur dan lebur.
“Tidak”
Tidak hanya itu. kebun bungamu, yang setiap pagi kau siram layu semua. Begitu juga dengan rumah, keluarga maupun saudara. Mereka terbujur kaku karenanya. Hari ini, sudah kesekian kali kau mengadu. Kesekian itu pula aku kehabisan kata-kata. Di bawah flamboyan aku memaknai tatapanmu. Ada sesuatu yang abadi di dalamnya. Tak mungkin diselami dengan hati apalagi dilogikakan dengan otak.  Semuanya masih tentang matahari. Dari ujung rambut sampai ujung kuku  juga matahari. Semua terlihat begitu getir lewat gambar tubuhmu. Tulang-tulangmu mulai menonjol keluar.  Satu dua uban mulai kelihatan. Lipstik dibibirmu hanya riasan belaka. Oh...dewata agung. Matamu, matamu  menunjukkannya. Antara pasrah atau bahagia, bisa saja keduanya. Seperti biasa, aku mundur perlahan setelah semua menjadi lebih baik. Bisa menikmati derai rambut dan punggunngmu, itu lebih dari cukup.
 “ Kau pendengar yang baik,  bisakah kau lebih banyak bicara selain kata belum cukupkah,  tahukah dan Tidak.”  Kata perempuan itu sembari tersenyun dan beranjak pergi.
Dibawah pohon ini aku selalu mencoba menerangi.  Diterik siang mencoba memberi cahaya rembulan.


No comments:

Post a Comment