Jika ada kesempatan bertanya. “Kenapa harus memeluk
matahari?” .Bukankah lebih menyenangkan menikmatinya dari jauh. Saat menjadi
rembulan misalnya, atau saat tertutup awan dan menimbulkan hujan. Bukan! Tetapi
bukan hujan yang selama ini kau sembunyikan. Hujan yang membuatmu sakit dan
membuatmu tanpa suara.
“Belum cukupkah semua itu?”...
Belum cukupkah kau sembunyikan hujan sampai harus memeluk
matahari. Lihatlah keluar, Hujan menantikanmu. Hujan yang sebenarnya, mengulang
dan membuat tumbuh. Menggugah masa kecilmu yang dulu. Bermain dan terus bermain
sampai lupa apa tangis itu.
“ Tahukah?”...
Kau adalah sihir bintang jatuh. Hampir setiap manusia
mengharapkanmu. Menanti setiap keajaiban yang kau sebarkan. Andai
saja bisa memaksa, akan kupindahkan matahari dari pelukmu. Menaruhnya lagi pada
tempatnya. Tetapi apa daya, kau terlalu menikmatinya. Sekeras apapun aku
memaksa, sekeras itu pula kau menentangnya. Seharusnya kau sadar. Kau hangus,
hancur dan lebur.
“Tidak”
Tidak hanya itu. kebun bungamu, yang setiap pagi kau
siram layu semua. Begitu juga dengan rumah, keluarga maupun saudara. Mereka
terbujur kaku karenanya. Hari ini, sudah kesekian kali kau mengadu. Kesekian
itu pula aku kehabisan kata-kata. Di bawah flamboyan aku memaknai tatapanmu.
Ada sesuatu yang abadi di dalamnya. Tak mungkin diselami dengan hati apalagi
dilogikakan dengan otak. Semuanya masih
tentang matahari. Dari ujung rambut sampai ujung kuku juga matahari. Semua terlihat begitu getir
lewat gambar tubuhmu. Tulang-tulangmu mulai menonjol keluar. Satu dua uban mulai kelihatan. Lipstik
dibibirmu hanya riasan belaka. Oh...dewata agung. Matamu, matamu menunjukkannya. Antara pasrah atau bahagia,
bisa saja keduanya. Seperti biasa, aku mundur perlahan setelah semua menjadi
lebih baik. Bisa menikmati derai rambut dan punggunngmu, itu lebih dari cukup.
“ Kau pendengar
yang baik, bisakah kau lebih banyak
bicara selain kata belum cukupkah,
tahukah dan Tidak.” Kata
perempuan itu sembari tersenyun dan beranjak pergi.
Dibawah pohon ini aku selalu mencoba menerangi. Diterik siang mencoba memberi cahaya
rembulan.

No comments:
Post a Comment