D.w.D
Berada di tengah barang parlente, cangkir itu terlihat
cukup bersahaja. Walau sedikit berdebu, Putih polosnya cukup membuatku tak nyenyak tidur. Ditengah
kesibukanku sebagai pelayan di kedai kopi seberang, selalu kusempatkan diri
hanya sekedar meliriknya. Melihat label harganya saja membuatku mundur, apa lagi menawarnya. Di sela semangatku
mengumpulkan rupiah, aku hanya menunggu dan menunggu, berharap cangkir itu tak laku.
Benar saja, nasib memang berkata lain. Setelah berbulan-bulan
berlalu, cangkir itu tetap ada disana. Meski uangku belum cukup, aku
memberanikan diri mendekatinya. Bentuknya cukup sederhana, Berwarna putih dan berbahan porselen. Itu tak
sebanding dengan label harga selangit. Jadi apa yang membuatnya begitu
istimewa? Pembuatnya kah? Sejarahnya? Atau...ah buat apa kupikirkan semua itu.
Lagi pula hatiku sudah memilihnya.
Aku mulai rajin mengunjunginya, mengajaknya berbicara
bahkan bercanda dan itu membuat kami sangat akrab. Penjaga toko sampai
menggelengkan kepala melihatku. Berbicara dan tertawa sendiri dihadapannya.
Gila! Tak perlu di jelaskan lagi. Cangkir itu membuatku gila. Gila karena
kebisuannya, gila karena ketuliannya, gila karena kebutaanya juga
kelumpuhannya. Puncak kegilaanku terjadi saat penjaga toko mengusirku. Dia
bilang jangan kembali sampai aku membawa
uangnya.
Hari yang ditunggu datang juga. Dengan semangat menggebu
aku datangi toko itu. Sudah tak sabar lagi aku melepas penderitaannya. Di
tengah sekumpulan barang mahal dan mewah dia terlihat cukup kesepian. Tak di
sentuh apalagi direngkuh. Tetapi kucukupkan semua itu, kami pergi dengan muka
yang sumringah.
Ternyata semuanya tak cukup sampai di situ. Sesampainya
dirumah aku merasa kebingungan. Mau di taruh dimana cangkir ini. Tak ada lemari
apalagi etalase. Masa iya cangkir ini di taruh bersama piring-piring itu. Jika itu yang kulakukan,
sama saja aku menelantarkannya. Setelah lelah berpikir, akhirnya aku menaruhnya
di jendela kamarku. Agar dia bisa
menemaniku saat terlelap dan ada saat
aku terbangun. Rutinitas itu berulang dan terus berulang. bahagia dan bahagia.
Roda nasib memang selalu berputar. Bulan dan tahun
berlalu. Hari demi hari lebih berat dari biasanya, kedai kopi itu sudah aku
tinggalkan dan berganti dengan gedung
pencakar langit.. Berangkat pagi pulang pagi itulah yang dilakukan. Karena kesibukanku, tak ada yang aku lakukan
selain menggerutu saat sampai dirumah. Hampa dan hambar, itulah yang kurasa.
Cangkir itu kelihatan berdebu, kotor dan tak terurus. Bukannya saling bercanda,
kami malah bertengkar hebat. Sampai-sampai aku hampir membantingya. Tetapi
segera ku urungkan niatku, terbayang sudah bagaimana membelinya.
Kutatap cangkir itu dalam-dalam. Pelan–pelan kubersihkan
debu-debu yang menempel. Dia diam seribu bahasa. Apa bedanya cangkir ini berada
di toko dan dirumahku. Setiap hari kerjanya menunggu dan hanya menunggu.
bosankah ia?...pertanyaan macam apa itu. Jawabannya pasti ia. Ia ingin dirawat
dan ajak bicara. Dibelai dan diajak pergi. Dia ingin...ingin banyak sekali.
Tetapi itulah hebatnya dia, dia diam dan tetap setia menunggu. “ bodohnya aku”.
Kuubah semua pemikiranku tentangnya. Mulai detik ini aku
mulai bergaul dengannya. Menyempatkan diri sekedar ngobrol dan bercanda.Tak
lagi kubiarkan dia kosong. Setiap pagi
mulai ku isi dia dengan kopi, susu dan
kadang teh. Kadang aku sengaja
membawanya ke kantor ataupun taman untuk sekedar melepas penat. Agar tak
menjadi rutinitas yang membosankan, aku siapkan berbagai isi dan jenis minuman
untuknya. Apalagi dia tak lagi sediri,
ada cangkir kecil yang mulai menemaninya. “ Aku memandanngnya sebagai
perempuan, bukan wanita apalagi gadis”