Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Saturday, 6 September 2014

Coklat dan alinea

cerpen sahabat

            Bus melaju  melewati area perbukitan teh  yang cukup luas. Bergerak merayap   menembus  kabut putih bersama derai rintik hujan. Dari jendela kulihat  gunung dempo terlihat begitu perkasa. Berdiri kokoh bagaikan seorang raja yang dikelilingi pohon sebagai pengawalnya. Sengaja kubuka sedikit jendela menunggu  matahari tenggelam. Tapi sayang cuaca sedang tidak bersahabat. Kabut putih semakin tebal dan  derai hujan semakin deras.
            Kurapatrkan tangan dalam dekapan dan kurasakan hawa dingin semakin menggila. Disebelahku Ina malah terlihat sibuk menguyah makanan ringan. Walauu beberapa kali terlihat mengusap tangan. Tetapi kelihatannya tak sedikitpun terbesit di benaknya  untuk memakai jaket. Seperti biasa dia banyak bicara. Walaupun mulutnya penuh makanan masih saja banyak kata ia keluarkan. Dan aku tak bisa menyalahkan karena itulah kebanyakan perempuan.
            Ini adalah hari pertama kita bertemu. Bukan hanya dengan Ina, tetapi dengan yang lainya. Kami baru saja melaksanakan Kuliah kerja nyata. Jadi wajar saja kalau Ina lebih banyak bicara dari biasanya. Ketika yang lain sudah tidur karena kecapean. Dia masih saja bertahan dengan  segala ceritanya. Tak ada yang istimewa dengan pertemuan kami. Walupun kita sudah bersahabat lama. Semua obrolan yang tercipta masih seputar kisah kuliah kerja nyata. Tentang program kerja, cinta lokasi atau kisah lucu lainya. sepertinya semua masih tenggelam di dalamnya..
            Tetapi kondisi ini justru berbanding terbalik dengan seseorang perempuan yang duduk sendirian di deretan bangku sebelah kiriku. Kupandangi dia sembari menikmati potongan coklat yang di beri Ina. Aku menggambarkannya sepeti coklat yang sedang kumakan. Saat  kita mendengar namanya kita sudah dapt membayangkan bagaimana nikmatnya. Rasa manisnya menenangkan, lembut tekturnya saat dikunyah, dan rasa pahitnya  yang hanya tertinggal sementara.
            Sahabatku yang satu itu memang luarnya. Dari tadi belum ada sepatah katapun keluar dari mulutnya  yang menceritakan  kisahnya selama kkn. Hanya ada bebarapa pertanyaan untuk mengetahui keadaan kami. Mungkin dia tidak ingin merusak  pertemuan pertama kami dengan cerita-cerita yang belum saatnya di sampaikan.  Sepertinya dia ingin merasakan kondisi sewaktu sebelum kkn. Dimana semua cerita hanya tentang kami. Jadi mungkin itu alasanya mengapa  dia mengambil sikap seperti itu dan  Tanpa berpikir panjang aku datang menghampirinya. Meninggalkan Ina dengan sejuta celotehnya.
            Seperti biasa dia hanya melempar senyum. Di lepasnya headset satu persatu dari telinga dan dimasukkan perlahan kedalam tas.  Aku sedikit canggung, beberapakali kurubah posisi dudukku agar terasa nyaman. Tetapi semua ternyata sia-sia. Aku merasa seperti baru pertamakali bertemu dengannya. Kondisi itu semakin parah saat dia mulai menanyakan soal kkn. Mungkinkah perasaan seperti ini yang tidak dia inginkan. Merasa hidup diantara orang yang baru saja bertemu  dengan segala cerita yang berbeda. Padahal kami adalah kumpulan manusia yang sudah lama kenal.
            

No comments:

Post a Comment