Bus melaju melewati area perbukitan teh yang cukup luas. Bergerak merayap menembus kabut putih bersama derai rintik hujan. Dari
jendela kulihat gunung dempo terlihat
begitu perkasa. Berdiri kokoh bagaikan seorang raja yang dikelilingi pohon
sebagai pengawalnya. Sengaja kubuka sedikit jendela menunggu matahari tenggelam. Tapi sayang cuaca sedang
tidak bersahabat. Kabut putih semakin tebal dan
derai hujan semakin deras.
Kurapatrkan
tangan dalam dekapan dan kurasakan hawa dingin semakin menggila. Disebelahku
Ina malah terlihat sibuk menguyah makanan ringan. Walauu beberapa kali terlihat
mengusap tangan. Tetapi kelihatannya tak sedikitpun terbesit di benaknya untuk memakai jaket. Seperti biasa dia banyak
bicara. Walaupun mulutnya penuh makanan masih saja banyak kata ia keluarkan.
Dan aku tak bisa menyalahkan karena itulah kebanyakan perempuan.
Ini adalah
hari pertama kita bertemu. Bukan hanya dengan Ina, tetapi dengan yang lainya.
Kami baru saja melaksanakan Kuliah kerja nyata. Jadi wajar saja kalau Ina lebih
banyak bicara dari biasanya. Ketika yang lain sudah tidur karena kecapean. Dia
masih saja bertahan dengan segala ceritanya.
Tak ada yang istimewa dengan pertemuan kami. Walupun kita sudah bersahabat
lama. Semua obrolan yang tercipta masih seputar kisah kuliah kerja nyata.
Tentang program kerja, cinta lokasi atau kisah lucu lainya. sepertinya semua
masih tenggelam di dalamnya..
Tetapi
kondisi ini justru berbanding terbalik dengan seseorang perempuan yang duduk
sendirian di deretan bangku sebelah kiriku. Kupandangi dia sembari menikmati
potongan coklat yang di beri Ina. Aku menggambarkannya sepeti coklat yang
sedang kumakan. Saat kita mendengar
namanya kita sudah dapt membayangkan bagaimana nikmatnya. Rasa manisnya
menenangkan, lembut tekturnya saat dikunyah, dan rasa pahitnya yang hanya tertinggal sementara.
Sahabatku
yang satu itu memang luarnya. Dari tadi belum ada sepatah katapun keluar dari
mulutnya yang menceritakan kisahnya selama kkn. Hanya ada bebarapa
pertanyaan untuk mengetahui keadaan kami. Mungkin dia tidak ingin merusak pertemuan pertama kami dengan cerita-cerita
yang belum saatnya di sampaikan. Sepertinya
dia ingin merasakan kondisi sewaktu sebelum kkn. Dimana semua cerita hanya tentang
kami. Jadi mungkin itu alasanya mengapa
dia mengambil sikap seperti itu dan
Tanpa berpikir panjang aku datang menghampirinya. Meninggalkan Ina
dengan sejuta celotehnya.
Seperti
biasa dia hanya melempar senyum. Di lepasnya headset satu persatu dari telinga
dan dimasukkan perlahan kedalam tas. Aku
sedikit canggung, beberapakali kurubah posisi dudukku agar terasa nyaman.
Tetapi semua ternyata sia-sia. Aku merasa seperti baru pertamakali bertemu
dengannya. Kondisi itu semakin parah saat dia mulai menanyakan soal kkn.
Mungkinkah perasaan seperti ini yang tidak dia inginkan. Merasa hidup diantara
orang yang baru saja bertemu dengan
segala cerita yang berbeda. Padahal kami adalah kumpulan manusia yang sudah
lama kenal.

No comments:
Post a Comment