Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Thursday, 11 September 2014

Eling


generasi penerus bangsa

Tahun baru mengingatkan pada pemaknaan kelahiran kita sendiri. Dimana problema selalu beriring mengikutinya. Tak ada yang pernah salah dalam kelahiran. Lahir dalam keadaan miskin bukanlah sebuah kesialan. Tetapi mati sebagi orang miskin adalah sebuah kesialan.
Kebanyakan dalam benak orang , miskin hanya sebatas ukuran materi. Yang memujakan pikiran dan tenaga mereka kepada gemerlap kehidupan. Entah darimana pola pikir tersebut berasal. tetapi yang aku tahu, kebudayaan timur, khususnya nenek moyangku. Jarang sekali mengajarkan hal tersebut.
Bangsaku dulunya adalah bangsa yang beradab.  Mengajarkan norma-norma kehidupan yang luhur dan hidup tentram bersanding dengan alam. Falsafah gotong royong diajarkan melaui seto. yaitu sebuah kalimat-kalimat  pengandaian yang diceritakan melaui dongeng pengantar tidur.bahkan dari catatan sejarah yang kita tahu,  para pemikir spritualis dari negri seberang banyak belajar tersebut dari tempat kita.
“eling”, sebuah kata sederhana yang selalu kudengar dari para lanjut usia. Eling adalah ingat. Ingat siapa kita, ingat dari mana kita berasal dan ingat untuk apa  kita harus hidup. sepatah kata saja sudah melahir falsafah hidup yang luar biasa. Apalagi menjadi sebuah kalimat. Dan anehnya banyak sekali kata yang tak terdefinisi  yang diadopsi kedalam disiplin keilmuan. Kadang aku bertanya,  “untuk apa itu semua?”
Efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Empat kata yang bisa dikatakan sama bila diartikan dengan bahasa kita. Apabila kita berpikir jauh dengan kata tersebut hanya akan menimbulkan kebingungan dalam berfikir. Sebuah hal absurd yang nyata tetapi tak pernah terpikirkan.
Aku pernah pesimis dengan dunia pendidikan ini. Semua hanya berujung pada nilai, sesuatu hal yang dianggap baik dengan sebuah standar yang diukur dari kertas anak-anak balita di cekoki dengan segala hal yang belum sesuai dengan pola pikir mereka. aku merasa beruntung lahir ditengah sebuah kemiskinan materi tetapi  tidak miskin untuk semuanya. Setidaknya aku bisa merasakan keramahan penduduk desa, mencicipi kehangatan dalam gotong royong dan beragama tetapi tidak membudayakannya. Mungkin itulah sedikit gambaran sejarah yang masih bertahan tersimpan rapi dalam individu pada kehidupan desa di pelosok negeri.

No comments:

Post a Comment