Tahun baru mengingatkan pada pemaknaan kelahiran kita
sendiri. Dimana problema selalu beriring mengikutinya. Tak ada yang pernah
salah dalam kelahiran. Lahir dalam keadaan miskin bukanlah sebuah
kesialan. Tetapi mati sebagi orang miskin adalah sebuah kesialan.
Kebanyakan dalam benak orang , miskin hanya sebatas ukuran
materi. Yang memujakan pikiran dan tenaga mereka kepada gemerlap kehidupan.
Entah darimana pola pikir tersebut berasal. tetapi yang aku tahu, kebudayaan
timur, khususnya nenek moyangku. Jarang sekali mengajarkan hal tersebut.
Bangsaku dulunya adalah bangsa yang beradab. Mengajarkan norma-norma kehidupan yang luhur
dan hidup tentram bersanding dengan alam. Falsafah gotong royong diajarkan melaui
seto. yaitu sebuah kalimat-kalimat
pengandaian yang diceritakan melaui dongeng pengantar tidur.bahkan dari
catatan sejarah yang kita tahu, para
pemikir spritualis dari negri seberang banyak belajar tersebut dari tempat
kita.
“eling”, sebuah kata sederhana yang selalu kudengar dari
para lanjut usia. Eling adalah ingat. Ingat siapa kita, ingat dari mana kita
berasal dan ingat untuk apa kita harus hidup. sepatah kata saja sudah melahir
falsafah hidup yang luar biasa. Apalagi menjadi sebuah kalimat. Dan anehnya
banyak sekali kata yang tak terdefinisi yang
diadopsi kedalam disiplin keilmuan. Kadang aku bertanya, “untuk apa itu semua?”
Efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas.
Empat kata yang bisa dikatakan sama bila diartikan dengan bahasa kita. Apabila
kita berpikir jauh dengan kata tersebut hanya akan menimbulkan kebingungan
dalam berfikir. Sebuah hal absurd yang nyata tetapi tak pernah terpikirkan.
Aku pernah pesimis dengan dunia pendidikan ini. Semua hanya
berujung pada nilai, sesuatu hal yang dianggap baik dengan sebuah standar yang
diukur dari kertas anak-anak balita di cekoki dengan segala hal yang belum
sesuai dengan pola pikir mereka. aku merasa beruntung lahir ditengah sebuah
kemiskinan materi tetapi tidak miskin
untuk semuanya. Setidaknya aku bisa merasakan keramahan penduduk desa, mencicipi
kehangatan dalam gotong royong dan beragama tetapi tidak membudayakannya.
Mungkin itulah sedikit gambaran sejarah yang masih bertahan tersimpan rapi
dalam individu pada kehidupan desa di pelosok negeri.

No comments:
Post a Comment