Pagi adalah suatu keindahan,
apalagi saat kita menikmatinya sembari minum kopi dan Saat itu
Aku dapat merasakan tahta langit seakan mendekapku. Menghangatkan
tubuhku yang masih menggigil. Di dalam sana, dibawah atap yang katanya sebagai
pusat kegiatan mahasiswa semua manusia
masih terlelap tidur. Sebuah keberuntungan bagi yang masih terlelap
tidur. Dimana semua masalah dapat terlupakan sementara. Daripada melihat kebanyakan dari mereka yang masih
terjaga menjalani hari-hari seperti
mayat hidup yang bergerak tapi mati, ada dan tiada, tanpa makna dan tujuan,
tanpa menghargai keindahan dan keajaiban proses bernama hidup. Tetapi kadang
justru keberuntungan berpihak pada mereka. Beruntung tentang sesuatu yang
seharusnya tahu tapi tidak tahu.
Di balik kerumunan lautan
manusia, aku masih merasa sebagai yang dimanusiakan dan Untuk beragam alasan aku harus mencintai
hidup serta kehidupan. Walaupun dalam kenyataannya, kadang hidup terasa busuk dan menyebalkan.
Andai saja ada manusia yang mampu
memberikan pengertian untuk itu semua. Mungkin teka-teki hidup akan sedikit
tercerahkan.
Dalam keadaan terinspirasi kita
merasa terlahir untuk berkarya dan mencipta.
Saat ego mulai memuncak tanpa sadar semua kesempatan terlewati secara sia-sia.
Kalau menengok kebelakang, banyak sekali
pilihan yang telah terlewati dan lucunya
justru semua membuatku merasa lebih bebas. Apakah ini yang dinamakan kepuasan?.
Itulah mengapa tak ada jawaban yang
pasti untuk menyelesaikannya. Seperti orang yang sedang dirudung asmara yang
merasakan dirinya lahir untuk seseorang yang di cinta.
keadaan paling membingungkan
adalah saat dimana terlintas dipikiranku tentang apa itu cinta? Apa tidak ada
kata yang lebih pantas menggantikannya. Entah itu tahu, ayam goreng atau bisa
juga keju. yang semua itu sudah jelas maknanya.
Terlebih lagi jika ada seseorang yang datang menceritakan sejuta
problema tentang kehidupan cintanya. Keadaan tersebut hanya menyajikan jawaban
subjektif yang terlalu dilebih-lebihkan. Mungkin salah satu tujuannya adalah
agar kelihatan lebih dewasa. Atau hanya menuturkan kembali kalimat-kalimat
bijaksana yang keluar dari mulut para pujangga agar terlihat lebih tahu tentang
problema tersebut.
Tak dapat di pungkiri, kehidupan
menyimpan sejuta pesona tentang bercinta. Baik itu merasakan, Mendalami atau
hanya mendengarkan. Beruntung bagi yang bisa merasakan, bahagia bagi yang sudah
mendalami dan bersyukurlah bagi yang baru punya keseempatan untuk mendengarkan.
Sebab dari sanalah kita dapat melihat bijaksannya hidup. Setiap orang menunggu
kesempatanya untuk merasakan, mendalami dan mendengarkan. Seperti secangkir
kopi yang selalu membuat penikmatnya merasa ketagihan untuk meneguknya
kembali. Saat secangkir kopi itu sudah
habis kita hanya butuh membuatnya kembali untuk menikmatinya.
Saat dua manusia sedang dimabuk
asmara dan merasakan mereka lahir untuk orang yang mereka cinta tetapi belum menjalin ikatan dalam
percintaan. Mereka seperti gula dan kopi
yang menunggu air panas untuk menyeduhya. Setelah mereka menjalin ikatan,
secangkir kopi begitu menawan, hangat, manis dan menenangkan. Seteguk demi
seteguk kopi itu mulai dinikmati. Dunia hanya terasa milik berdua, semua terasa manis dan menghangatkan. Tetapi
tanpa sadar lama-lama secangkir kopi itu mulai habis. Hanya tertinggal ampas
dan pahitnya saja. Di situlah titiik jenuh mulai menggrogoti. Segala bentuk kegelisahan mulai terluapkan
dan Air mata mulai membanjiri.
Sebelum mencurahkan hati tentang
problema kepada orang lain. Apa mereka lupa tentang secankir kopi tersebut?
Bagaimana cara membuatnya, atau dari mana asalnya. Kebanyakan dari manusia
selalu melupakannya. lupa untuk membuatnya kembali. Lupa menyiapkan bahan untuk
membuatnya dan lupa mengingat proses itu semua. Ini hanya tentang secangkir kopi
yang dihabiskan oleh pembuatnya dan lupa membuatnya kembali.

No comments:
Post a Comment