Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Wednesday, 2 April 2014

Secangkir kopi


Pagi adalah suatu keindahan, apalagi saat kita menikmatinya sembari minum kopi dan  Saat itu  Aku dapat merasakan tahta langit seakan mendekapku. Menghangatkan tubuhku yang masih menggigil. Di dalam sana, dibawah atap yang katanya sebagai pusat kegiatan mahasiswa semua manusia  masih terlelap tidur. Sebuah keberuntungan bagi yang masih terlelap tidur. Dimana semua masalah dapat terlupakan sementara. Daripada melihat  kebanyakan dari mereka yang masih terjaga   menjalani hari-hari seperti mayat hidup yang bergerak tapi mati, ada dan tiada, tanpa makna dan tujuan, tanpa menghargai keindahan dan keajaiban proses bernama hidup. Tetapi kadang justru keberuntungan berpihak pada mereka. Beruntung tentang sesuatu yang seharusnya tahu tapi tidak tahu.
Di balik kerumunan lautan manusia, aku masih merasa sebagai yang dimanusiakan dan  Untuk beragam alasan aku harus mencintai hidup serta kehidupan. Walaupun dalam kenyataannya,  kadang hidup terasa busuk dan menyebalkan. Andai saja ada manusia  yang mampu memberikan pengertian untuk itu semua. Mungkin teka-teki hidup akan sedikit tercerahkan.
Dalam keadaan terinspirasi kita merasa terlahir untuk berkarya dan mencipta.  Saat ego mulai memuncak tanpa sadar semua kesempatan terlewati secara sia-sia. Kalau  menengok kebelakang, banyak sekali pilihan  yang telah terlewati dan lucunya justru semua membuatku merasa lebih bebas. Apakah ini yang dinamakan kepuasan?.  Itulah mengapa tak ada jawaban yang pasti untuk menyelesaikannya. Seperti orang yang sedang dirudung asmara yang merasakan dirinya lahir untuk seseorang yang di cinta.
keadaan paling membingungkan adalah saat dimana terlintas dipikiranku tentang apa itu cinta? Apa tidak ada kata yang lebih pantas menggantikannya. Entah itu tahu, ayam goreng atau bisa juga keju. yang semua itu sudah jelas maknanya.  Terlebih lagi jika ada seseorang yang datang menceritakan sejuta problema tentang kehidupan cintanya. Keadaan tersebut hanya menyajikan jawaban subjektif yang terlalu dilebih-lebihkan. Mungkin salah satu tujuannya adalah agar kelihatan lebih dewasa.   Atau hanya menuturkan kembali kalimat-kalimat bijaksana yang keluar dari mulut para pujangga agar terlihat lebih tahu tentang problema tersebut.
Tak dapat di pungkiri, kehidupan menyimpan sejuta pesona tentang bercinta. Baik itu merasakan, Mendalami atau hanya mendengarkan. Beruntung bagi yang bisa merasakan, bahagia bagi yang sudah mendalami dan bersyukurlah bagi yang baru punya keseempatan untuk mendengarkan. Sebab dari sanalah kita dapat melihat bijaksannya hidup. Setiap orang menunggu kesempatanya untuk merasakan, mendalami dan mendengarkan. Seperti secangkir kopi yang selalu membuat penikmatnya merasa ketagihan untuk meneguknya kembali.  Saat secangkir kopi itu sudah habis kita hanya butuh membuatnya kembali untuk menikmatinya.
Saat dua manusia sedang dimabuk asmara dan merasakan mereka lahir untuk orang yang mereka  cinta tetapi belum menjalin ikatan dalam percintaan.  Mereka seperti gula dan kopi yang menunggu air panas untuk menyeduhya. Setelah mereka menjalin ikatan, secangkir kopi begitu menawan, hangat, manis dan menenangkan. Seteguk demi seteguk kopi itu mulai dinikmati. Dunia hanya terasa milik berdua,  semua terasa manis dan menghangatkan. Tetapi tanpa sadar lama-lama secangkir kopi itu mulai habis. Hanya tertinggal ampas dan pahitnya saja. Di situlah titiik jenuh mulai menggrogoti.  Segala bentuk kegelisahan mulai terluapkan dan Air mata mulai membanjiri.
Sebelum mencurahkan hati tentang problema kepada orang lain. Apa mereka lupa tentang secankir kopi tersebut? Bagaimana cara membuatnya, atau dari mana asalnya. Kebanyakan dari manusia selalu melupakannya. lupa untuk membuatnya kembali. Lupa menyiapkan bahan untuk membuatnya dan lupa mengingat proses itu semua. Ini hanya tentang secangkir kopi yang dihabiskan oleh pembuatnya dan lupa membuatnya kembali. 

No comments:

Post a Comment