Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Wednesday, 31 August 2016

“CANGKIR AJAIB”


D.w.D

Berada di tengah barang parlente, cangkir itu terlihat cukup bersahaja. Walau sedikit berdebu, Putih polosnya  cukup membuatku tak nyenyak tidur. Ditengah kesibukanku sebagai pelayan  di  kedai kopi seberang, selalu kusempatkan diri hanya sekedar meliriknya. Melihat label harganya saja membuatku mundur,  apa lagi menawarnya. Di sela semangatku mengumpulkan rupiah, aku hanya menunggu dan menunggu,  berharap cangkir itu tak laku.
Benar saja, nasib memang berkata lain. Setelah berbulan-bulan berlalu, cangkir itu tetap ada disana. Meski uangku belum cukup, aku memberanikan diri mendekatinya. Bentuknya cukup sederhana,  Berwarna putih dan berbahan porselen. Itu tak sebanding dengan label harga selangit. Jadi apa yang membuatnya begitu istimewa? Pembuatnya kah? Sejarahnya? Atau...ah buat apa kupikirkan semua itu. Lagi pula hatiku sudah memilihnya.
Aku mulai rajin mengunjunginya, mengajaknya berbicara bahkan bercanda dan itu membuat kami sangat akrab. Penjaga toko sampai menggelengkan kepala melihatku. Berbicara dan tertawa sendiri dihadapannya. Gila! Tak perlu di jelaskan lagi. Cangkir itu membuatku gila. Gila karena kebisuannya, gila karena ketuliannya, gila karena kebutaanya juga kelumpuhannya. Puncak kegilaanku terjadi saat penjaga toko mengusirku. Dia bilang jangan kembali  sampai aku membawa uangnya.
Hari yang ditunggu datang juga. Dengan semangat menggebu aku datangi toko itu. Sudah tak sabar lagi aku melepas penderitaannya. Di tengah sekumpulan barang mahal dan mewah dia terlihat cukup kesepian. Tak di sentuh apalagi direngkuh. Tetapi kucukupkan semua itu, kami pergi dengan muka yang sumringah.
Ternyata semuanya tak cukup sampai di situ. Sesampainya dirumah aku merasa kebingungan. Mau di taruh dimana cangkir ini. Tak ada lemari apalagi etalase. Masa iya cangkir ini di taruh bersama  piring-piring itu. Jika itu yang kulakukan, sama saja aku menelantarkannya. Setelah lelah berpikir, akhirnya aku menaruhnya di jendela  kamarku. Agar dia bisa menemaniku saat  terlelap dan ada saat aku terbangun. Rutinitas itu berulang dan terus berulang. bahagia  dan bahagia.
Roda nasib memang selalu berputar. Bulan dan tahun berlalu. Hari demi hari lebih berat dari biasanya, kedai kopi itu sudah aku tinggalkan dan  berganti dengan gedung pencakar langit.. Berangkat pagi pulang pagi itulah yang dilakukan.  Karena kesibukanku, tak ada yang aku lakukan selain menggerutu saat sampai dirumah. Hampa dan hambar, itulah yang kurasa. Cangkir itu kelihatan berdebu, kotor dan tak terurus. Bukannya saling bercanda, kami malah bertengkar hebat. Sampai-sampai aku hampir membantingya. Tetapi segera ku urungkan niatku, terbayang sudah bagaimana membelinya.
Kutatap cangkir itu dalam-dalam. Pelan–pelan kubersihkan debu-debu yang menempel. Dia diam seribu bahasa. Apa bedanya cangkir ini berada di toko dan dirumahku. Setiap hari kerjanya menunggu dan hanya menunggu. bosankah ia?...pertanyaan macam apa itu. Jawabannya pasti ia. Ia ingin dirawat dan ajak bicara. Dibelai dan diajak pergi. Dia ingin...ingin banyak sekali. Tetapi itulah hebatnya dia, dia diam dan  tetap setia menunggu. “ bodohnya aku”.

Kuubah semua pemikiranku tentangnya. Mulai detik ini aku mulai bergaul dengannya. Menyempatkan diri sekedar ngobrol dan bercanda.Tak lagi kubiarkan dia kosong.  Setiap pagi mulai ku isi dia dengan  kopi, susu dan kadang teh. Kadang aku sengaja  membawanya ke kantor ataupun taman untuk sekedar melepas penat. Agar tak menjadi rutinitas yang membosankan, aku siapkan berbagai isi dan jenis minuman untuknya.  Apalagi dia tak lagi sediri, ada cangkir kecil yang mulai menemaninya. “ Aku memandanngnya sebagai perempuan, bukan wanita apalagi gadis”

1 comment: