
Namanya Kia, bibirnya merah muda dan
mulutnya yang beraroma vodka
menyemburkan kalimat-kalimat yang tak
kumengerti.
“Adam”. Tahukah engkau, bahwa laki-laki selalu berakhir di suatu
tempat yang sama? Entah itu orang orang asing atau pacar kita sendiri. Apalagi
yang di inginkan dari perempuan seperti saya?” Tanya Kia.
Tentu saja aku tak perlu menjawab. Lagi
pula ia sudah mulai mabuk. Suara-suara yang keluar dari bibirnya mulai kurang terjaga.
Di kedalaman matanya yang penuh bekas luka, tersimpan berjuta misteri yang tak
terkuakkan . meski ia tertawa, meski ia tersenyum, meski ia berusaha menahan
tangis, Namun selalu saja nampak misteri sembab dimatanya. Sekarang tubuhnya
malah terlihat lunglai dan penuh kepasrahan. Akupun hanya bisa menatapnya iba. Jam sudah menunjukkan pukul
sebelas malam. Di seberang jalan terlihat muda-mudi lalu-lalang sambil bergandengan tangan. Pemandangan tersebut tak
sedikitpun membuatku tertarik. Kia mengatakan bahwa semua itu sama saja? Entah
itu orang asing atau pacar sendiri. dan Kia menyebut perempuan itu sama seperti
dia.
Tetap saja tak mengerti apa yang dia
ucapkan, semua masih kuanggap seperti
angin lalu, Semua bentuk upatan yang keluar adalah luapan emosi sebotol vodka.
Tetapi dugaanku tak semuanya benar, lambat laun intonasinya mulai teratur, kata demi kata pun terangkai,
dan kalimat-kalimat yang sebelumnya amburadul jadi lebih berirama.
Aku memutuskan mengajak Kia keluar menuju taman di seberang jalan,
meninggalkan gemerlap lampu dan megahnya suasana, Surganya kaum hedonis.Arsitektur yang di ciptakan untuk menentang Tuhan.
“ Kau lihat mereka adam?” tiba- tiba Kia bertanya
sembari menunjuk beberapa muda - mudi yang lewat sambil bergandeng tangan.
Mereka itu tak seelegan apa yang kamu pikirkan. Belum tentu mereka lebih bahagia dari para pemungut
sampah. Mereka hanya boneka hidup yang
terikat oleh sebuah sistem yang merekapun sama sekali tak tahu. Dengan
angkuhnya menjentikkan jari mungilnya
untuk memperoleh sesuatu. Seperti kisah 1001 malam, di gunakan sebagai
pengantar tidur.Sensor-sensor mataku menjalar liar ke berbagai sudut pandang.
Tak ada yang aneh maupun istimewa. hanya
ada sekelompok muda-mudi berbagi cerita dibawah sinar lampu taman.
tepat di sebuah bangku di tengah taman kota kami
berhenti. Dapat kurasakan alam cukup bersahabat. Dengan tersipu sang candra
mulai menebarkan sinar-sinar kedamaian. remang cahayanya mencoba menenggelamkan
keangkuhan buana. bayu pun ikut ambil bagian, dengan lembutnya ia membelai
rambut Kia, aliran udaranya yang lembut membuatnya
meliuk-liuk sempurna. Kulihat butiran-butiran mutiara mulai membanjiri. Ia terdengar terisak.
Semesta
menenggelamkannya, ia sepeti buih-buih air di tengah lautan yang maha
luas. Sendiri, sunyi dan mencekam.Akupun ikut larut, kurasakan tepi alam
semesta begitu dekat, dan tubuhku berasa diantara gugusan bintang sagitarius yang
kelam, di tengah hampa udara ini, dadaku
mulai merasa sakit. Efek nya pun mulai naik ke otak. Aku berasa bagaikan patung
lilin yang tersentuh Api. Meleleh dan membisu.
“Adam”. Kia bersuara. Tangannya dengan
cekatan mengelap air mata yang tersisa.” Akankah semua berakhir
sama, seperti cahaya lilin yang pelan-pelan habis di hanyutkan angin, seberkas cahaya
kecil yang hidup diantara benderang lampu pijar, dan di butuhkan bila lampu
pijar mati suri. Ah, Andai Thomas alfa
Edison masih hidup, dia pasti tertawa melihatku.
“Aku adalah bagian dari mereka”.Tangan Kia
menunjuk kerumunan muda-mudi itu.Tetapi aku merasa bukan bagian dari mereka,
tak ada yang bisa di harapkan. Di tengah gemerlap kemewahan. Semua menjadi
kapitalis. Hedonisme telah merenggut keperawanan jiwa manuasiawiku dan Individualistis bagaikan sel kanker yang
secara pelan menggerogotiku. Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang Adam?
Aku memandanginya bagaikan seorang peramal.
Menatap ke dalam maha misteri dan menemukan rahasianya. Kondisi ini
memperlihatkannya sebagai sesuatu yang lebih agung. Gelar Seorang hedonis,
idividualis, atau bahkan seorang pelacur seakan tercabut detik ini. Kia lebih
terlihat sebagai anak balita yang di tinggalkan orang tuanya di tengah kota.
Fantasiku akan pandangan birahi terhadapnya mulai terjinakkan. Panah- panah
yang berkobar, menjadi beku. dari matanya aku melihat malaikat memandangnya
kepadaku seraya berkata. “ Kia adalah tunas baru jadi bantulah dia tumbuh.”
“Serendah itukah penghargaanmu terhadap
dirimu ?” Aku blik bertanya.
“ Bahkan lebih rendah”.Jawab Kia. Aku
sekarang tumbuh jadi seorang hawa yang tidak tahu siapa hawa itu sebenarnya.
bukan lagi hawa yang terbuang dari surga
ke bumi. Tetapi hawa yang terbuang ke ruang hampa di tepi alam semesta.
Selaput-selaput bernoda telah menutup mataku dan kecermelangan dunia mengikatku
kedalam system yang membawa pada kehancuran.
“Bukankah manusia tercipta sebagai system
yang pasti hancur?”
“Benar,
Tetapi setidaknya aku tidak menjadi bagian sistem yang memuja mata rantai penilaian.aku
juga ingin menjadi seorang penilai. Jadi saat aku hancur, nilai takakan
menghakimiku, tetapi akulah yang menghakiminya.
Jadi apa yang kurang Kia? Harta punya
dan kebebasanmu pun penuh.
Itulah yang menjadi masalahnya. Aku
telah larut dalam nilai sebuah sistem
yang kubuat sendiri. psikologiku tak berkembang sempurna, jiwa sosialisku
terenggut,dan individualisku tertanam
kuat sejak aku mulai belajar bicara. Semua serba monoton dan Serba pasti, seperti
rutinitas makan yang terjadwal. Tahukah kau adam!. Itu cukup membosankan. kebebasan
yang kudapat bukan hasil cipta, rasa dan karya dari hati. Itu adalah bentuk
pelarianku untuk mencari sesuatu. karena tak dapat mengukurnya. Kebebasan malah
berbalik menakarku. Jadi apa yang sekarang bisa kulakukan ?
Aku terdiam mendengar pertanyaan Kia.
Mataku kosong menatap hamparan rumput,
ingin rasanya aku bicara padanya dan segera kutayakan jawaban atas pertanyaannya. “ Kamu harus memahami dan
berkomunikasi pada mereka semua.” Sembari menunjuk keseluruh benda yang ada di
taman.
“ kamu kira aku sudah gila, Aku masih
waras dam!” Kia terlihat jengah.
“Aku tahu kamu masih waras.”
“terus?”
“walau mereka tak dapat bicara, tetapi
mereka bisa memberikan jawaban atas semua pertanyaanmu.”
“caranya?”
Pahami dan bicaralah pada mereka. Karena
pada dasarnya semua benda di dunia ini saling berkomunikasi. Baik dengan cara visual maupun bahasa dan
kita hanya butuh memahaminya dengan visual.”
”maksudnya?”
“ Hanya menerjemahkan pesan yang mereka
sampaikan lewat symbol dan tanda.”Kita akan akan memulainya dari benda mati.
Coba kamu lihat bulan itu. Apa yang bisa
kamu presepsikan dari bulan?
“cahaya”.
“Cuma itu?”
“ya.”
Bulan adalah symbol ketremtaman hati. Dia
memberikan keindahan purnama tanpa harus, meminta balas budi atas purnamanya.
Bulan juga memberikan efek pasang surut yang memberikan penghidupan para
nelayan dan tumbuhan pantai.”
“tetapi bulan kan benda mati, sedangkan aku
adalah benda hidup.”
“ Oke, kita kebenda hidup. Tahu alasan
kenapa rumput dan tumbuhan ada di taman ini?”
“di Tanam Manusia”.
“Benar, rumput dan tumbuhan ada disini karena ditanam manusia. Tetapi mereka bertahan disini karena
ia memposisikan dan beradaptasi dengan
ingkungannya
“Jadi kesimpulannya apa?”
“Jika kamu, mulai merasa bimbang terhadap
hidup ini. Pahami dan berkomunikasilah dengan Semesta. Ada berbagai misteri
yang disimpan tuhan untuk di hadiahkan pada ciptaannya. Baik itu dari filosofi,
cara hidup, itelegensi, ataupun cara kerja. Itu semua adalah symbol-simbol yang
memberikanmu pemahaman luar biasa. Memang guru terbaik adalah pengalaman.tetapi
pengalaman dihasilkan dari sebuah harmoni
pengelihatan, pendengaran dan perasaan, lalu mereka diolah oleh logika dalam otak.itulah yang
disebut pemahaman.” Asal kamu tahu Kia, engalaman hidupmu sungguh luar biasa.”
“Luar biasa? Apanya yang luar biasa.
Ngaco kamu dam” Terus kenapa pengalaman yang aku punya lewat begitu saja?.
“ kamu hanya menikmatinya sebagai
visualisasi, bukan memahami visualisasinya. Seperti para penikmat acara televisi
yang tak tahu apa makna yang terkandung dari acara tersebut. Luar biasa, karena
kamu sudah pernah mengalami gelap. Sebab untuk melihat terang harus dari gelap.”
“ Jadi untuk menjadi baik harus
seperti saya dulu?. Hobi mabok, drug, free sex, dan juga ugal-ugalan. Itu ide
gila adam!.”
“Bukan begitu maksudnya Kia!.
“so?”
“ Gelap itu titik dimana dirimu
benar-benar merasa sendiri dalam kebimbangan, entah apapun itu sebabnya.”
“haruskah semuanya melewati yang
namanya gelap?”
“ secara logika sih iya.”
“kenapa demikian?”
“Agar orang dapat pelajaran
perihal dua sisi dari segala hal. Baik dan buruk, ying dan yang,atau
bisa juga order and chaos.tetapi kebanyakan orang sangat membenci bagian sisi
gelapnya, dan dengan angkuhnya menutup hatinya dari hal-hal yang tidak menyenangkan
tersebut.Seperti kamu Kia.”
“ seperti aku?”.Sok tahu kamu dam.”
Jawab Kia sambil terkekeh.
Semilir sang bayu beriring searah jarum
jam menyusul mencairnya suasana.Tunas-tunas barupun mulai bermunculan,
menggeliatkan secercah harapan yang mulai merekah. sepertinya sebuah siklus
sederhana telah melahirka bayi dewasa dan Aku merasa beruntung karena dapat secara langsung menyaksikannya.Tanpa
disadari Rintik air hujan dengan
lembut menyapu wajah,, tak ada yang bergeming, kulihat Kia malah
menikmatinya.
“I just want to the know who I’am
adam? Suara Kia mengagetkankan lamunanku.
“ Butuh proses Kia.”
Ingin rasanya aku berteriak sembari
mengatakan.” I wanna do it”. berharap hujan datang
menyirami kesalahan ini dan
Semoga aku juga dapat berterimakasih terhadap hadiah dari dua sisi
segala hal.
“kenapa kau tak melakukannya?”
“Aku sudah melakukannya, bahkan
seluruh tubuhku, kecuali mulutku. Suaraku tertahan karena aku terlalu bahagia.”
“
Kia, semoga tunas-tunasmu tumbuh beriring dengan dengan lahirnya impianmu,
Biarkan
akar-akamu menghujam kuat kebumi, agar badanmu tertopang kokoh sehingga mampu
menyanggamu melewati dinginya embun pagi. Seperti benih dan hujan yang lahir
berulang supaya bebas.”
Aku pun tegak dan segera beranjak pergi.
“ tunggu!. Cegah Kia. “ Siapa
sebenarnya Kamu?
“ Calon pelangganmu yang gagal, aku
sama sepertimu. Sebuah tunas baru.”
No comments:
Post a Comment