Aku berjalan kesana kemari menyusuri jalur perjalanan kesukaanku. Kos, Kantin dan kampuz.. Hatiku sudah puas meski pun Tuhan hanya menjadikan bumi terdiri dari tiga jenis tempat itu. Dan sepanjang perjalananku itu, tanganku tak lupa memakai jimat berasap.
Bagiku semua itu adalah surga. Jika bumi terasa marah muak padaku padaku, aku akan menyendiri ke ladang itu. Akupun tak pernah tahu ingin bicara dengan siapa di sana, karena akupun tak yakin untuk berbicara dengan manusia. Kata- kataku hanya seperti tumbuhan yang bercerita dan sedikit bisa meredakan. Tumbuhan apa?, ehm... hanya rumput yang merambat di tepi pagar dan berbunga ungu saat mekar. Aku sendiri tak pernah tahu apa namanya, karena bagiku itu hanya rumput semata.
Aku tak mengerti jika kadang berlama-lama dikantin. Mungkin di situlah kubunuh rasa bosan pada diriku. Dan di situ juga aku berusaha menjadi laki-laki yang dewasa. Bercengkerama dengan beberapa orang lainnya. Dengan sedikit bercengkrama Barangkali kebijaksanaan mereka tumpah ruah pada diriku,dan itu kualami sembari menikmati segelas kopi dan menghisap jimat berasap yang biasa sebut dengan rokok kretek tanpa filter.
Untuk semua itu aku bisa paham dan mengerti. Hingga suatu saat ketika pulang ke kosan dengan wajah yang aku sendiripun tak bisa melukiskannya.Hari ini mungkin rumput berbunga ungu tak mampu meredakan hatiku , dan kantin malah membuatmu muak.
Seperti biasa hal yang harus kulakukan untuk menghadapi diriku. Aku diam saja. Kuhidupkan sebatang rokok, kuambil secarik kertas Hvs serta beberapa buah pastel dan aku mulai melukis. Pikiranku terbang entah kemana, bayangan dia dan mereka seolah semakin nyata, dalam hatiku saling bergejolak dan timbul dialog antar logika.
“Aku ditertawakan mereka.” kataku memecah kebekuan
“Siapa?”
“para sahabatku.”
“Kenapa?”
“Mereka mencoba memberikan jalan padaku tentang seorang wanita. Tapi setelah itu mereka seakan buru-buru mengusirku, dan mengatakan bahwa aku tak punya keberanian mengungkapkan rasa itu padanya. Apa iya aku tak punya keberanian itu?”
“Pikiranku semakin bergelut dan berkecamuk memikirkan hal tersebut, sesekali kugoreskan pastel dengan berani pada kertas dan kurasakan tanganku semakin mengalun sempurna. Tanpa sadar akupun tersenyum dengan cukup sinis.
“Lalu bagaimana?
Apakah dengan tersenyum sinis akan menolongku?” gumanku dengan kesal.
Wajahku yang kasar itu mendadak sedikit lunak, karena ku mulai teringat kata - kata sahabatku, dia berkata “hanya masalah waktu untuk mendapatkanya “, tetapi aku berpikir itu hal yang bodoh.
Aku berusaha tak menjawab pertanyaan itu. Aku malah menghempaskan kertas dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Aku membayangkan matanya yang tajam menatapku tanpa berkedip. Seolah Dia berkata.
“Apakah Kau akan membunuh rasa itu padaku?
Rasa yang tumbuh alami dan menglir apa adanya?” Suaranya bergetar lirih mengucapkan kalimat itu.
“Tidak, ”. Jawabku
“Lantas , Mungkinkah aku harus meminta kepada waktu, dan apakah kamu tak sadar rasa dan waktu tersebut sewaktu – waktu bisa berhenti .”
“Kenapa? Kau mau kemana?” desak dia.
“Aku akan berusaha menjaga rasa itu.”
Begitulah awalnya Aku mulai meluangkan waktu bersamanya. Bahkan diantara semua perjalanan kesukaanku, ku tambahkan dirimu dalam daftar perjalanan menyendiri ke ladang itu. Apakah Kau mau memilih ladang sunyi itu sebagai kelasmu.
Tapi dasar diriku memang payah. Perkembanganku begitu lamban. Butuh waktu yang lama supaya telingaku bisa mendengar dengan jelas mana yang sumbang dan mana yang merdu tentang rasa itu.
Sampai suatu saat dia Seperti guru, menyuruhku membeli buku A, buku B, dan terakhir membeli harmonika. Dia berharap setelah aku bisa bernyanyi dengan baik, maka aku berlanjut mempelajari harmonika.
“Harus pakai harmonika?” tanyaku dengan polos.
Dia mengangguk serius menjawabnya. “ Mungkin dirimu tak tahu kenapa aku menyuruh harmonika”.Padahal aku sendiri tidak bisa menggunakan harmonika. Untungnya engkau pun menurut saja, karena aku yang berkata begitu sedang dalam posisi guru.
Seakan Tak tahan dengan wajah polosku yang tak melawan, Dia mulai bercerita dengan antusias.
Sesungguhnya, dalam hati kecilku aku punya mimpi tentang kemungkinan.
“ saat suatu kali aku memintamu berhenti merokok, merapikan diri, dan mencoba member isyarat agar engkau lebih berani, kamu terlihat sumbang. Dan Saat ini malah dirimu begitu tenang menjawab permintaanku. Ah, seandainya rokokmu dan segala kelakuanmu itu yang mendongkel posisiku dari cinta nomor satu di hatimu, bisa kau hentikan seperti menghentikan latihan harmonikamu, pikirku, dan Kita pun seakan tertidur dengan damai, sambil berpelukan di atas taman bunga.” Ungkapnya.
Pikiranku mulai buyar , aku terbayang kembali, dia sedang mandangku dengan senyum ketika aku mengalunkan lagu dari harmonika.Dan sekarang aku mulai sadar dia tidak mematahkan semangaku, idealisku, dan identitasku, tetapi dia hanya berusaha berbuat sesuatu yang terbaik untukku.
“ apakah engkau akan mencari rasa yang baru”. Kata dia dengan pelan.
“ Tidak”. Jawabku.
Entah keajaiban apa yang terjadi, tapi sejak itu pula aku mulai dengan merdu menyanyikan lagu-lagu lewat harmonika. Tidak hanya merdu, tapi juga sangat sempurna dan melngalun Setiap pagi sesaat sebelum beranjak pergi untuk bekerja di ladang itu, Dan pertayaan seperti“,Tentang sesuatu yang baru? Sesuatu tentang jimat asap? Sesuatu yang bisa bernyanyi? Yang bisa menggunakan harmonika? Yang selalu minum kopi? , sekarang Terasa mulai pudar tertutup aliran harmonika, dan rasa itu sekarang kurasakan semakin nyata , sekarang tinggal bagaimana aku berusaha mempertahankanya, bahkan akan mengungkapkannya dan mewujudkanya sebagai suatu yang nyata.”
Bagiku semua itu adalah surga. Jika bumi terasa marah muak padaku padaku, aku akan menyendiri ke ladang itu. Akupun tak pernah tahu ingin bicara dengan siapa di sana, karena akupun tak yakin untuk berbicara dengan manusia. Kata- kataku hanya seperti tumbuhan yang bercerita dan sedikit bisa meredakan. Tumbuhan apa?, ehm... hanya rumput yang merambat di tepi pagar dan berbunga ungu saat mekar. Aku sendiri tak pernah tahu apa namanya, karena bagiku itu hanya rumput semata.
Aku tak mengerti jika kadang berlama-lama dikantin. Mungkin di situlah kubunuh rasa bosan pada diriku. Dan di situ juga aku berusaha menjadi laki-laki yang dewasa. Bercengkerama dengan beberapa orang lainnya. Dengan sedikit bercengkrama Barangkali kebijaksanaan mereka tumpah ruah pada diriku,dan itu kualami sembari menikmati segelas kopi dan menghisap jimat berasap yang biasa sebut dengan rokok kretek tanpa filter.
Untuk semua itu aku bisa paham dan mengerti. Hingga suatu saat ketika pulang ke kosan dengan wajah yang aku sendiripun tak bisa melukiskannya.Hari ini mungkin rumput berbunga ungu tak mampu meredakan hatiku , dan kantin malah membuatmu muak.
Seperti biasa hal yang harus kulakukan untuk menghadapi diriku. Aku diam saja. Kuhidupkan sebatang rokok, kuambil secarik kertas Hvs serta beberapa buah pastel dan aku mulai melukis. Pikiranku terbang entah kemana, bayangan dia dan mereka seolah semakin nyata, dalam hatiku saling bergejolak dan timbul dialog antar logika.
“Aku ditertawakan mereka.” kataku memecah kebekuan
“Siapa?”
“para sahabatku.”
“Kenapa?”
“Mereka mencoba memberikan jalan padaku tentang seorang wanita. Tapi setelah itu mereka seakan buru-buru mengusirku, dan mengatakan bahwa aku tak punya keberanian mengungkapkan rasa itu padanya. Apa iya aku tak punya keberanian itu?”
“Pikiranku semakin bergelut dan berkecamuk memikirkan hal tersebut, sesekali kugoreskan pastel dengan berani pada kertas dan kurasakan tanganku semakin mengalun sempurna. Tanpa sadar akupun tersenyum dengan cukup sinis.
“Lalu bagaimana?
Apakah dengan tersenyum sinis akan menolongku?” gumanku dengan kesal.
Wajahku yang kasar itu mendadak sedikit lunak, karena ku mulai teringat kata - kata sahabatku, dia berkata “hanya masalah waktu untuk mendapatkanya “, tetapi aku berpikir itu hal yang bodoh.
Aku berusaha tak menjawab pertanyaan itu. Aku malah menghempaskan kertas dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Aku membayangkan matanya yang tajam menatapku tanpa berkedip. Seolah Dia berkata.
“Apakah Kau akan membunuh rasa itu padaku?
Rasa yang tumbuh alami dan menglir apa adanya?” Suaranya bergetar lirih mengucapkan kalimat itu.
“Tidak, ”. Jawabku
“Lantas , Mungkinkah aku harus meminta kepada waktu, dan apakah kamu tak sadar rasa dan waktu tersebut sewaktu – waktu bisa berhenti .”
“Kenapa? Kau mau kemana?” desak dia.
“Aku akan berusaha menjaga rasa itu.”
Begitulah awalnya Aku mulai meluangkan waktu bersamanya. Bahkan diantara semua perjalanan kesukaanku, ku tambahkan dirimu dalam daftar perjalanan menyendiri ke ladang itu. Apakah Kau mau memilih ladang sunyi itu sebagai kelasmu.
Tapi dasar diriku memang payah. Perkembanganku begitu lamban. Butuh waktu yang lama supaya telingaku bisa mendengar dengan jelas mana yang sumbang dan mana yang merdu tentang rasa itu.
Sampai suatu saat dia Seperti guru, menyuruhku membeli buku A, buku B, dan terakhir membeli harmonika. Dia berharap setelah aku bisa bernyanyi dengan baik, maka aku berlanjut mempelajari harmonika.
“Harus pakai harmonika?” tanyaku dengan polos.
Dia mengangguk serius menjawabnya. “ Mungkin dirimu tak tahu kenapa aku menyuruh harmonika”.Padahal aku sendiri tidak bisa menggunakan harmonika. Untungnya engkau pun menurut saja, karena aku yang berkata begitu sedang dalam posisi guru.
Seakan Tak tahan dengan wajah polosku yang tak melawan, Dia mulai bercerita dengan antusias.
Sesungguhnya, dalam hati kecilku aku punya mimpi tentang kemungkinan.
“ saat suatu kali aku memintamu berhenti merokok, merapikan diri, dan mencoba member isyarat agar engkau lebih berani, kamu terlihat sumbang. Dan Saat ini malah dirimu begitu tenang menjawab permintaanku. Ah, seandainya rokokmu dan segala kelakuanmu itu yang mendongkel posisiku dari cinta nomor satu di hatimu, bisa kau hentikan seperti menghentikan latihan harmonikamu, pikirku, dan Kita pun seakan tertidur dengan damai, sambil berpelukan di atas taman bunga.” Ungkapnya.
Pikiranku mulai buyar , aku terbayang kembali, dia sedang mandangku dengan senyum ketika aku mengalunkan lagu dari harmonika.Dan sekarang aku mulai sadar dia tidak mematahkan semangaku, idealisku, dan identitasku, tetapi dia hanya berusaha berbuat sesuatu yang terbaik untukku.
“ apakah engkau akan mencari rasa yang baru”. Kata dia dengan pelan.
“ Tidak”. Jawabku.
Entah keajaiban apa yang terjadi, tapi sejak itu pula aku mulai dengan merdu menyanyikan lagu-lagu lewat harmonika. Tidak hanya merdu, tapi juga sangat sempurna dan melngalun Setiap pagi sesaat sebelum beranjak pergi untuk bekerja di ladang itu, Dan pertayaan seperti“,Tentang sesuatu yang baru? Sesuatu tentang jimat asap? Sesuatu yang bisa bernyanyi? Yang bisa menggunakan harmonika? Yang selalu minum kopi? , sekarang Terasa mulai pudar tertutup aliran harmonika, dan rasa itu sekarang kurasakan semakin nyata , sekarang tinggal bagaimana aku berusaha mempertahankanya, bahkan akan mengungkapkannya dan mewujudkanya sebagai suatu yang nyata.”
No comments:
Post a Comment