Basa Basi Ejakulasi

Sebab menulis adalah saluran orgasme otak dan hati. Terserah apa yang mau ditulis. Toh pada akhirnya ketemu jua.

Sunday, 28 November 2010

Kapas – kapas

Oleh : Gede Deska
“I was born to tell ilove you, I I’m torn to do what I have to, To make your mine , Stay with me to night…”, Pagi ini suasana sangat cerah, lantunan lagu your call milik secondhand serenade mengiringi aktivitasku di pagi hari, segelas kopi dan beberapa batang rokok masih berantakan diatas meja, hampir semalaman aku begadang untuk mengerjakan tugas kuliahku, entah apa yang terjadi walaupun begadang semalaman mataku belum biasa terpejam.
“ Andra…!” teriak Deri. “ Bangunlah, hari ini kitakan ada kuliah pagi.”
“ Masuk aja Ri…!” Pintu nggak dikunci kok, sekalian bawa masuk handuk di jemuran depan ya... “
” kebiasaan buruk.”Gerutu Deri..”
“ Deri masuk kekamar dengan kondisi sangat rapi, dia memakai kemeja warna coklat yang selaras dengan jeans hitamnya, Rambut ikalnya yang khas dibalut dan di hiasi kacamata bulat ala professor, ehm..” Mahasiswa banget.”
“Apa kamu…!” Ujar Deri. kesurupan?”
“ Kesurupan sama dandanan kamu” Jawabku singkat. ” sumpah Ri, Mahasiswa banget .”
“ Sialan kamu Dra, “ jawab Deri ketus.” udah beberapa minggu ini aku nggak pake kemeja,” kmu tu coba dandan sedikit biar ada cewek yang deket. “ Sudah tampang pas – pasan, kaya juga nggak, suruh dandan masih juga nggak mau.” Mau jadi ap kamu?” sambil sedikit nyengir.
“ Mau jadi Superman..!” sembari mengambil handuk dan berangkat mandi.”
Suasana Kampus masih sangat sepi, beberapa mahasiswa kelihatan bercanda ria di bawah gazebo. Raut wajah bahagia menyelimut hati mereka, sesekali gelak candanya memecah keheningan pagi. Tidak sengaja mataku menatap p sudut gedung fakultas, tepat di bawah flamboyan, sesosok mahluk yang dinamakn perempuan tertunduk kaku menatap kosong kebawah, Raut mukanya terasa sendu melantunkan lagu kesedihan. “ Apa yang terjadi ?” hanya ia yang tahu. “ Julia Astriani”, ” perempuan paling cantik yang selalu menjadi ikon dan idola Fakultas MIPA, kepopulerannya sampai Lingkup Universitas.”
“Hoi..!”ngelamun aja ,” Teriak Deri. “ Lihat tuh pujaan Hatimu, apa gerangan yang membuatnya duduk menyendiri, mukanya kelihatan sedih lagi Ndra.”
“ Pujaan hati yang mana?” tanyaku polos.
“ Sudah jangan banyak Tanya,” samperin gi, biar tugas kmu biar aku yang kumpul, lagi pula hari ini pak sapto juga nggak masuk.
Secara perlahan kulihat Deri masuk ke kerumunan bawah gazebo, bergabung bersama anak yang lain.

“Andra…,” panggil Julia lirih.” Suaranya sangat pelan terdengar di telingaku.”
“Ku gerakkan langkah untuk menghampirinya, Setelah dekat kulihat mukanya terlihat sembab dan merah, sepertinya dia baru saja menangis.”Kuhirup nafas dan ku kumpulkan segenap keberanian untuk bertanya padanya, sebdsb didalam memoriku masih terekam sangat jelas, walaupun kami sejurusan dan bahkan sekelas tapi kami jarang sekali ngobrol dengannya, munkin hanya sesekali, dan itupun kalau ada tugas kelompok.
“ Tumben sendiri?” mana yang lain?” Tanyaku pelan.”
“ Julia menatapku kosong, Pandangannya telihat sangat dalam, bibirhya menyiratkan kepedihan yang terpendam.”
“Pengen sendiri aja Ndra”. Jawab Julia lirih.”
“ sedang ada masalah ya?”
“ nggak kok,” suara Julia tambah terdengar miris olehku.
“hey…!” teriak cindi.” Serius banget kalian berdua?” boleh ganggu nggak?”Cindi menatap wajah Julia dengan penuh keseriusan. Cindi tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi pada sabatnya itu.”
“Ya ampun Lia”, apa yang terjadi?” Mengapa matamu merah dan sembab” kamu habis nangis Ya?”
“ Sepertinya Begitu.” Jawabku polos.”
“ enggak kok, Aku Cuma kelilipan waktu berangkat tadi.” Kelit Julia.”
“Kamu nggak bisa bohong Lia,” sudah beberapa tahun kita bersahabat?” aku tahu persis keadaanmu, kapan kamu sedih, dan kapan kmu bahagia.” Ya kan Ndra?” Tanya Cindi.”
“ Aku nggak Tahu.”jawabku Pasti.”
“ Kamu ini Ndra Bukanya membantu, malahan memperburuk suasana.”
“ Andra bener kok Cin,”jawab Julia. “ Dia memang nggak tahu apa –apa ,” itu karena memang selama ini aku selalu bergaul dengan kawan – kawanku yang selalu bergaya hidup mewah, fashionable, dan mengagungkan kesenangan. Tapi sekarang ini kalian bisa lihat, di saat aku susah tak seorangpun dari mereka yang ada di dekatku boro – boro untuk mencairkan suasana, menyapakupun tidak.”
“Terus?” Tanya lia.”
“ Terus apanya”? Jawab Julia.”
“kenapa kmu menangis?”
“aku malu…,” malu mengatakan kepada kalian,” khususnya kmu Andra,”Aku…,” Suara Julia terputus dengan deru gas suara motor, Beberapa orang menggunakan motor Kawasaki dan Honda CBR berputar mengelilingi tempat duduk kami, aku merasa kenal dengan salah seorang dari mereka, ya…, diantara mereka ada Bram. Pacar Julia. Sesaat lamunanku terbangun Bram dan beberapa kawanya turun dari motor dan menghampiri kami.”
“ oh....” Jadi kamu Cowok yang membuat Julia sering tidak menepati janjinya padaku ?” Bentak Bram Bengis.”
“ehm…,”.”Suaraku berat tertahan.”
“ Bicara apa Kamu Bram?” baru datang bukanya bicara baik – baik, kmu malah mengacaukan suasana.” Jawab Julia sinis.
“ Semuanya sudah jelas disini, toh aku sudah melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri apa yang sudah terjadi.”Sanggah Bram.”
“Apa yang kamu lihat?” Apa…,!. “ sanggah Julia nggak mau kalah.
“ ini yang kulihat…”.
Tanpa tak terduga tangan Bram menarik kerah kaosku. Aku tak bisa mengelak lagi, secara sepontan dia melayangkan bogem mentahnya tepat mengenai rahang sebelah kiriki, aku sedikit terhuyung, kepalaku terasa sakit, dua orang Kawannya menambahkan tinjunya tepat di ulu hati, aku tak kuat lagi, secara samar – samar kulihat Julia dan cindi mencoba melerai, secara tak jelas juga kudengar suara Deri dengan nada keras mnghujat mereka, semuanya gelap…dan aku tak tahu lagi.
Aku seperti terbangun dari tidur yang cukup panjang, kilatan cahaya dari jendela kamar menyilaukan pandanganku. Seca perlahan kubuka mataku kulihat Julia duduk tepat diatasku, Senyumnya ikhlas menyambutku , Di sampingnya terlihat cindi, Deri beserta pacarnya.
“Dimana aku,” tanyaku pelan?”
“ Kamu ada di klinik kampus Ndra,” jawab Julia.”
“Ah cemen…,” masa atlet taekwondo diem aja dipukulin.” Celoteh Cindi manja.”
“iya tuh, jangan hanya jago di ring saja,” tambah Deri menambah panas suasana.”
“Sudah, sudah…,” orang baru siuman malah di Tanya macam – macam,” kasihan tahu.”Julia mencoba membela.”
“Santai aja kali …” Jawabku pelan.”
“Boleh tinggalkan kami berdua?” Pinta Julia.”
“ehm…” Deri dan Cindi sedikit terbengong.”
“Sebentar Kok.”Jawab Julia sembari memohon.”
“Lama juga nggak apa – apa.” Jawab mereka kompak.” Sembari meninggalkan kami berdua.”
Raut muka Julia menunjukkan bahwa ada suatu hal ingin sekali ia sampaikan, sesuatu tentang dirinya, tentang kehidupanya, tentang dirinya, atau mungkin tentang segala isi hatinya.”
“Ndra…”. Suara Julia tertahan di tenggorokanya.”
“iya.” Jawabku pelan.”
“aku…,” air mata Julia tanpa sadar menetes.”
Aku bangkit dari posisi tidurku, kutatap matanya secara dalam…”
“Teruskan Julia, teruskanlah tangisanmu , jika hal itu bisa membuatmu sedikit lega, dan jangan pernah sekalipun kau tahan.” Sembari kuseka air matanya.”
“ Masalah ini sebenarnya cukup aku saja yang tahu Ndra, Biar ku pendam dengan segala asa yang kupunya.”
“ Ceritakan kalau memang itu perlu kamu ceritakan, pendamlah kalu memang itu memang perlu kamu pendam.”jawabku pelan.”
“ Buat apa kupendam lagi…” lagi pula Kamu memang perlu dan patut mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi Ndra.” Jawab Julia sedikit terbata.”
“Jadi…?” tanyaku ragu.”
“ Aku sebenarnya Mengidap penyakit Ndra, Penyakit yang membuat hidupku tidak mungkin panjang lagi, Penyakit yang membuat ku menjauhi seluruh kehidupanku, Penyakit yang membuat ku menjauhkan diri dari Bram.”aku…aku menderita Kanker otak Ndra.”
Air mata Julia tak tertahan lagi, kekalutanpun menerpanya, dia beranjak dari dari tempat duduknya, sembari mengambil tasnya berlari keluar. Aku tak bisa apa - apa, aku hanya bisa terdiam dan tersudut kaku melihat hal tersebut, mataku menatap kosong kepergianya.
“Ndra.” Apa yang terjadi dengan julia?” kata Cindi sembari menghampiriku.”
“ Julia sedang ada masalah .” Jawabku singkat.”
“Mana Deri?” aku balik bertanya.”
“ Nanya orang kok yang nggak ada, kan ada aku disini.” Jawab cindi sambil sedikit tertawa.”
“Dia pulang nganter anggun, sembari menjenguk calon mertuanya yang sedang sakit.” Sambung Cindi.
“o…,”jawabku.”
“O…” apanya yang O…!, cepat bangun!,” tpi kita pulang bareng ya?” Tanya Cindi.”
“Pulang bareng?” aku kan jalan kaki.” Lagi pula aku ke fakultas dulu ada barang yang kuambil.”
“No problem.” Jawab Cindi singkat. “Dengan cekatan Cindi menarik tanganku dan mengajakku segera keluar dari ruangan itu.”
Mimpi apa aku semalam, sudah niat baik – baik mau membantu orang, malah dipukulin sampai pingsan lagi. Taetapi nggak apa – apa, sekarang ini bisa berjalan berdua dengan perempuan yang selama ini selalu kupikirkan, perempuan yang kuharapkan bisa mengisi kekosongan hatiku. Perempuan yang…”
“Woi…! Nglamun aja.” Nglamunin aku ya?” Tanya Cindi manja.”
“ Iya…” eh nggak kok.” Jawabku tergagap.”
“Ayo ketahuan…!” hhe…”gurau Cindi.”
“Ndra.” Ada yang mau kubicarakan dengan kamu.” Cindi berkata sambil memperlambat langkah.”
“Bicara?” tanyaku.”
“ Nggak jadi.” Jawab Cindi Singkat.”
Aku berhenti melangkah, kutatap mata cindi dengan dalam, kulihat kedua bola matanya yang indah, matanya menyinarkan sejuta pesona, pesona yang selama ini kuharapkan.
“ Cindi?”
“ iya.” Jawab cindi polos.”
“ Tahu nggak siapa perempuan yang selama ini selalu kupikirkan selama ini , perempuan yang selalu kuharapkan bisa mengisi kekosongan hatiku, perempuan yang kuharapakan selalu ada disampingku.
“ Julia,” jawab Cindi.”
“Bukan!”
“Lantas…?” Tanya Cindi.”
“Kamu.”
Waktu seakan berhenti berputar, angin seakan seakan berhenti berhembus, suaru gemerisik tak lagi terdengar, pusara-pusara jiwa seakan menyatu, semua terhanyut dalam suatu keadaan, keadaan dimana dua insan seperti terjebak di dalamnya, teka – teki yang selama ini terpendam terkuak sudah,tinggal menuggu awal perubahan yang baru.

Pagi ini aku ke kampus sendirian, Deri telah berangkat duluan dengan anggun, Hari ini tepat seminngu selepas kejadian itu, kejadian yang cukup melelahkan, juga kejadian yang paling membuatku , kekosongan hatiku yang belum terisi sedikit demikit sudah mulai terisi olehnya, kesalahpahamanku dengan Bram juga sudah membaik, tapi hari ada sesuatu yang aneh, mengapa kampus lebih ramai dari biasanya?, apa yang terjadi?
“Ndra, Kmu sudah tahu lum?” tanya Deri.”
“ Belum.” Jawabku singkat.” Kulihat di sudut gazebo kekasihku sedang tertunduk sedih.”
“emang ada apa?”
“ehm...,”suara Deri tertahan.” Julia telah Tiada.”
Bagai tersambar petir disiang bolong, aku termangu kaku,masih terlintas sejenak di benakku wajahnya yang cantik, senyumanya yang indah, sikapnya yang cukup menawan, mungkinkah ini terjadi ? Kalau memang benar, biarkanlah hatinya yang seputih kapas terbang bersama asa dan angannya yang terpendam, membebaskanya dari semua keadaan yang menyiksanya, bukakan mata hati orang yang pernah menyayanginya,sehiangga sadar kalau ia telah menorehkan segores luka di hatinya..., terbanglah yang tinggi kapas, biarkanlah angin membawamu ketempat terindah disanpingNYA.
***

1 comment: